TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Mantan Wakil Wali Kota Pekanbaru, Ayat Cahyadi memiliki sejumlah pesan untuk Pemerintah Kota Pekanbaru, satu di antaranya mengoptimalkan penanganan banjir dan menyeluruh.
"Perhatikan banjir, optimalkan penanganan banjir, agar persoalan kota ini bisa teratasi," ulasnya dalam momen Hari Jadi Pekanbaru ke 242 Pekanbaru kepada Tribunpekanbaru.com
Menurutnya, pemerintah kota juga bisa melakukan penataan kawasan Water Front City di tepian Sungai Siak.
Ia menyebut pemerintah kota semestinya bisa sekaligus menata kawasan Kota Tua Pekanbaru.
"Selain water front city, pemerintah kota juga bisa menata kota tua, agar bisa menjadi lokasi wisata sejarah, termasuk danau buatan," jelasnya.
Politisi PKS ini mendorong penataan itu agar Kota Pekanbaru bisa mengoptimalkan potensi dari sektor pariwisata.
Lokasi Pekanbaru sangat strategis sekat dengan Malaysia dan Brunei sehingga bisa menjadi satu tujuan wisatawan mancanegara.
"Jadi kota lama di Senapelan bisa lebih ditata lagi, supaya yang datang bukan cuma wisatawan lokal, tapi juga luar negeri," terangnya.
Legislator di DPRD Provinsi Riau ini menulai kepemimpinan Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho dan Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar memang banyak capaian untuk membenahi kota.
Satu di antaranya membenahi satu persatu ruas jalan rusak hingga mulus.
"Sampah juga sudah tertangani, selain itu UMKM semakin maju, ada juga rekor MURI untuk Kue Talam Durian kemarin," ungkapnya.
Dirinya berharap agar pemerintah kota bisa meningkatkan pelayanan publik.
Apalagi sudah mengembangkan pusat layanan cukup kontak Tim Reaksi Cepat (TRC) 112.
Sejarah Banjir di Pekanbaru
Banjir adalah peristiwa tergenangnya daratan atau wilayah yang biasanya kering oleh air dalam jumlah yang cukup banyak dan berlangsung dalam waktu tertentu. Air ini bisa berasal dari hujan yang turun terus-menerus, luapan sungai, meluapnya danau/laut saat pasang tinggi, atau pecahnya bendungan.
Secara sederhana, banjir terjadi ketika jumlah air yang masuk ke suatu daerah melebihi daya tampung dan daya serap tanah serta saluran air di wilayah tersebut.
Pekanbaru berdiri sejak abad ke-18 di tepian Sungai Siak, awalnya bernama Bandar Senapelan. Secara alami kota ini datar dan rendah, jadi banjir sudah ada sejak lama -- namun sifat, frekuensi, dan dampaknya berubah drastis seiring pembangunan.
Perkembangan dari Masa ke Masa
Masa Awal Hingga 1970-an : Banjir Alami Ringan
Banjir hanya terjadi saat musim hujan + pasang air Sungai Siak, terbatas di daerah tepi sungai (Pasar Bawah, Senapelan)
Belum meluas karena banyak lahan terbuka, rawa, dan hutan yang masih berfungsi menyerap air
Masih dianggap bagian dari siklus alam, bukan bencana rutin
Tahun 1980-an : Mulai Meluas
Banjir mulai menggenangi wilayah lebih luas, terutama saat curah hujan tinggi
Pemerintah mulai membangun tanggul sungai, pintu air, dan saluran utama untuk menahan luapan Siak
Penyebab utama masih alami, belum banyak gangguan manusia
Tahun 1990–2000 : Masalah Semakin Serius
Pembangunan kota meledak : perumahan, pusat perdagangan, jalan raya bermunculan
Alih fungsi lahan : rawa dan hutan resapan berubah jadi bangunan, daya serap air turun drastis
Sistem drainase lama tidak dikembangkan, banyak parit ditutup atau dipersempit
Mulai dijuluki “Kota Berkuah” karena sering tergenang saat hujan
Tahun 2010–Sekarang : Banjir Rutin dan Parah
Terjadi hampir setiap musim hujan (Oktober–Maret), bahkan hanya hujan 2–3 jam sudah tergenang
Data : 2016 ada 169 titik banjir, 2022 masih tersisa 121 titik aktif
Banjir besar terkenal :
2014 : Hampir seluruh kota terendam
2019 : Banjir melumpuhkan pusat kota, korban jiwa terjadi
2023–2026 : Genangan makin cepat, tapi durasi mulai lebih singkat setelah perbaikan saluran
Penyebab Utama Seiring Waktu
Faktor Alam : Dataran rendah + pengaruh pasang surut Sungai Siak
Tata Ruang : Pembangunan tak terkontrol, resapan air hilang
Drainase : Ukuran kecil, tersumbat sampah/sedimen, banyak yang ditutup bangunan
Lingkungan : Kerusakan hutan di hulu Sungai Siak memperbesar debit air ke kota
Upaya Penanganan
Pembangunan tanggul, pintu air, dan pompa air
Normalisasi sungai Sail, Siak, dan parit kota
Perluasan sistem drainase, penerapan biopori, larangan buang sampah sembarangan
Kendala : Pembangunan yang terus melaju sering melebihi kapasitas sistem pengairan
( Tribunpekanbaru.com / Fernando Sikumbang )