Pesan Mantan Wawako Pekanbaru : Optimalkan Penanganan Banjir dan Penataan Kota Lama Senapelan
Nolpitos Hendri June 25, 2026 12:29 AM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Mantan Wakil Wali Kota Pekanbaru, Ayat Cahyadi memiliki sejumlah pesan untuk Pemerintah Kota Pekanbaru, satu di antaranya mengoptimalkan penanganan banjir dan menyeluruh.

"Perhatikan banjir, optimalkan penanganan banjir, agar persoalan kota ini bisa teratasi," ulasnya dalam momen Hari Jadi Pekanbaru ke 242 Pekanbaru kepada Tribunpekanbaru.com

Menurutnya, pemerintah kota juga bisa melakukan penataan kawasan Water Front City di tepian Sungai Siak.

Ia menyebut pemerintah kota semestinya bisa sekaligus menata kawasan Kota Tua Pekanbaru.

"Selain water front city, pemerintah kota juga bisa menata kota tua, agar bisa menjadi lokasi wisata sejarah, termasuk danau buatan," jelasnya.

Politisi PKS ini mendorong penataan itu agar Kota Pekanbaru bisa mengoptimalkan potensi dari sektor pariwisata.

Lokasi Pekanbaru sangat strategis sekat dengan Malaysia dan Brunei sehingga bisa menjadi satu tujuan wisatawan mancanegara.

"Jadi kota lama di Senapelan bisa lebih ditata lagi, supaya yang datang bukan cuma wisatawan lokal, tapi juga luar negeri," terangnya.

Legislator di DPRD Provinsi Riau ini menulai kepemimpinan Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho dan Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar memang banyak capaian untuk membenahi kota.

Satu di antaranya membenahi satu persatu ruas jalan rusak hingga mulus.

"Sampah juga sudah tertangani, selain itu UMKM semakin maju, ada juga rekor MURI untuk Kue Talam Durian kemarin," ungkapnya.

Dirinya berharap agar pemerintah kota bisa meningkatkan pelayanan publik.

Apalagi sudah mengembangkan pusat layanan cukup kontak Tim Reaksi Cepat (TRC) 112.

Sejarah Banjir di Pekanbaru

Banjir adalah peristiwa tergenangnya daratan atau wilayah yang biasanya kering oleh air dalam jumlah yang cukup banyak dan berlangsung dalam waktu tertentu. Air ini bisa berasal dari hujan yang turun terus-menerus, luapan sungai, meluapnya danau/laut saat pasang tinggi, atau pecahnya bendungan.

Secara sederhana, banjir terjadi ketika jumlah air yang masuk ke suatu daerah melebihi daya tampung dan daya serap tanah serta saluran air di wilayah tersebut.

Pekanbaru berdiri sejak abad ke-18 di tepian Sungai Siak, awalnya bernama Bandar Senapelan. Secara alami kota ini datar dan rendah, jadi banjir sudah ada sejak lama -- namun sifat, frekuensi, dan dampaknya berubah drastis seiring pembangunan.

Perkembangan dari Masa ke Masa

Masa Awal Hingga 1970-an : Banjir Alami Ringan

Banjir hanya terjadi saat musim hujan + pasang air Sungai Siak, terbatas di daerah tepi sungai (Pasar Bawah, Senapelan)

Belum meluas karena banyak lahan terbuka, rawa, dan hutan yang masih berfungsi menyerap air

Masih dianggap bagian dari siklus alam, bukan bencana rutin

Tahun 1980-an : Mulai Meluas

Banjir mulai menggenangi wilayah lebih luas, terutama saat curah hujan tinggi

Pemerintah mulai membangun tanggul sungai, pintu air, dan saluran utama untuk menahan luapan Siak

Penyebab utama masih alami, belum banyak gangguan manusia

Tahun 1990–2000 : Masalah Semakin Serius

Pembangunan kota meledak : perumahan, pusat perdagangan, jalan raya bermunculan

Alih fungsi lahan : rawa dan hutan resapan berubah jadi bangunan, daya serap air turun drastis

Sistem drainase lama tidak dikembangkan, banyak parit ditutup atau dipersempit

Mulai dijuluki “Kota Berkuah” karena sering tergenang saat hujan

Tahun 2010–Sekarang : Banjir Rutin dan Parah

Terjadi hampir setiap musim hujan (Oktober–Maret), bahkan hanya hujan 2–3 jam sudah tergenang

Data : 2016 ada 169 titik banjir, 2022 masih tersisa 121 titik aktif

Banjir besar terkenal : 

2014 : Hampir seluruh kota terendam

2019 : Banjir melumpuhkan pusat kota, korban jiwa terjadi

2023–2026 : Genangan makin cepat, tapi durasi mulai lebih singkat setelah perbaikan saluran

Penyebab Utama Seiring Waktu

Faktor Alam : Dataran rendah + pengaruh pasang surut Sungai Siak

Tata Ruang : Pembangunan tak terkontrol, resapan air hilang

Drainase : Ukuran kecil, tersumbat sampah/sedimen, banyak yang ditutup bangunan

Lingkungan : Kerusakan hutan di hulu Sungai Siak memperbesar debit air ke kota

Upaya Penanganan

Pembangunan tanggul, pintu air, dan pompa air

Normalisasi sungai Sail, Siak, dan parit kota

Perluasan sistem drainase, penerapan biopori, larangan buang sampah sembarangan

Kendala : Pembangunan yang terus melaju sering melebihi kapasitas sistem pengairan

( Tribunpekanbaru.com / Fernando Sikumbang )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.