34 Atlet PJSI Sumut Tampil di Kejurnas Judo KASAD Cup 2026
Truly Okto Hasudungan Purba June 25, 2026 12:27 AM

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) Sumatera Utara mengirimkan 34 atlet untuk berlaga pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Judo KASAD Cup XVI Tahun 2026 yang akan berlangsung di GOR Kartika Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat, pada 25–28 Juni 2026. Kejuaraan tersebut menjadi ajang penting bagi para judoka untuk mengumpulkan poin menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028.

Ketua Umum PJSI Sumut, M. Arif Fadhillah, mengatakan rombongan kontingen Sumut diberangkatkan dalam dua gelombang. Rombongan pertama telah bertolak pada Sabtu (20/6), sedangkan rombongan kedua berangkat pada Selasa (23/6). "Total ada 34 atlet dan empat ofisial yang kami berangkatkan ke Kejurnas KASAD Cup tahun ini," ujar Arif Fadhillah kepada Tribun Medan.

Dari total atlet yang dikirim, sebanyak 10 atlet merupakan bagian dari Program Pembinaan Intensif (PPI) KONI Sumut. Sementara atlet lainnya mengikuti kejuaraan secara mandiri sebagai bagian dari upaya memperkuat regenerasi sekaligus menambah pengalaman bertanding di level nasional.

Arif mengaku optimistis para atlet mampu memberikan hasil terbaik setelah menjalani persiapan yang cukup panjang. "Kita optimistis dan mudah-mudahan bisa mendapatkan hasil yang terbaik atas kerja keras para atlet. Persiapan mereka juga sudah dilakukan sejak lama," katanya.

Untuk target prestasi, PJSI Sumut membidik setidaknya satu medali emas. Harapan tersebut disematkan kepada Dicky Hartanto yang merupakan atlet Pelatnas dan menjadi salah satu andalan Sumatera Utara pada kejuaraan tersebut. "Kalau target yang realistis, kami membidik satu medali emas. Mudah-mudahan atlet lain juga bisa memberikan kejutan dan menambah perolehan medali bagi Sumatera Utara," ucapnya.

Menurut Arif, Kejurnas KASAD Cup 2026 memiliki arti yang sangat penting karena menjadi kejuaraan dengan nilai poin tertinggi dalam sistem pembinaan judo nasional menuju PON 2028.

Baca juga: PJSI Sumut Gelar Tes Fisik Atlet PPI dan Blind Judo, Hasil VO2Max Alami Peningkatan Signifikan

Ia menjelaskan, berbeda dengan cabang olahraga lain yang masih memiliki babak Pra-PON, judo tidak lagi menggunakan sistem tersebut. Oleh karena itu, seluruh atlet harus mengumpulkan poin dari setiap kejuaraan nasional untuk menentukan peluang tampil di PON mendatang. "Kejurnas ini merupakan kasta tertinggi untuk single event judo nasional. Nilai poinnya paling besar menuju PON 2028 karena di judo tidak ada lagi Pra-PON. Semua atlet harus mengumpulkan poin dari setiap kejuaraan," jelas Arif.

Ia menambahkan, tingkat persaingan di Kejurnas KASAD Cup bahkan disebut hampir setara dengan PON karena seluruh daerah menurunkan atlet-atlet terbaiknya. "Kalau PON memang multi-event, tetapi untuk single event, Kejurnas inilah yang paling berat karena semua provinsi mengirimkan atlet terbaiknya. Bisa dibilang ini gambaran persaingan di PON nanti," ujarnya.

Arif menilai pesaing terberat Sumatera Utara berasal dari atlet-atlet Pelatnas yang mayoritas berasal dari Jawa Barat dan DKI Jakarta. "Persaingan terberat tentu atlet-atlet Pelatnas yang didominasi dari Jawa Barat dan DKI Jakarta. Mereka menjadi lawan yang harus diwaspadai," katanya.

Selain memburu prestasi, PJSI Sumut juga memanfaatkan Kejurnas sebagai ajang pembinaan dengan mengikutsertakan atlet lapis kedua dan lapis ketiga. Langkah tersebut dilakukan untuk mempersiapkan regenerasi atlet sekaligus memberikan pengalaman bertanding di level nasional.

Menurut Arif, pembinaan berjenjang menjadi kunci menjaga prestasi judo Sumatera Utara dalam jangka panjang. Sebab, setiap atlet memiliki batas usia dan performa yang suatu saat akan mengalami penurunan sehingga harus dipersiapkan penggantinya sejak dini. "Makanya kami juga membawa atlet lapis kedua dan lapis ketiga. Regenerasi harus terus berjalan agar saat atlet senior mengalami penurunan performa, kami sudah memiliki pengganti yang siap bersaing," ujarnya.

Ia berharap seluruh atlet mampu menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab dan tampil maksimal sesuai target masing-masing. Bagi atlet muda, kehadiran atlet-atlet PPI diharapkan menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan.

Sementara itu, bagi atlet yang tergabung dalam Program Pembinaan Intensif, Arif mengingatkan agar terus menjaga prestasi karena sistem pembinaan yang diterapkan KONI Sumut menggunakan mekanisme promosi dan degradasi.

"Atlet PPI harus tetap termotivasi. Kalau tidak berprestasi, mereka bisa saja digantikan atlet yang ada di bawahnya. Semua akan berjalan secara adil dan penilaiannya berdasarkan hasil yang dicapai atlet di setiap kejuaraan," pungkasnya. (cr29/tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.