Jakarta (ANTARA) - Psikolog Samanta Clara Elsener, S.Psi, M.Psi, Psikolog menyampaikan bahwa latar belakang keluarga, pola asuh, dan lingkungan termasuk faktor yang bisa memicu munculnya perilaku kekerasan pada seseorang.
Saat dihubungi ANTARA pada Rabu, pengurus Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) itu mengatakan bahwa dalam psikologi ada istilah yang disebut siklus kekerasan.
Ia menjelaskan, anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh kasar bisa menganggap tindakan kekerasan seperti memukul dan memaki sebagai bentuk disiplin atau cara yang dapat diterima untuk mengendalikan orang lain.
"Jika sejak kecil seorang anak dibesarkan dalam lingkungan yang menganggap pukulan, makian, dan kurungan adalah cara menyelesaikan masalah atau bentuk disiplin, otak mereka akan mencatat bahwa kekerasan itu wajar dilakukan ketika sedang marah atau ingin mengatur orang," katanya.
Samanta mengatakan bahwa pengalaman masa kecil yang buruk juga dapat mempengaruhi perkembangan emosi seseorang sampai dewasa.
Anak yang mengalami atau menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga, menurut dia, berpeluang mengalami gangguan perkembangan emosional jika tidak mendapatkan penanganan yang memadai.
"Ketika dewasa, beberapa orang yang tidak mendapatkan pemulihan trauma akan mengubah peran mereka, dari yang dulunya korban menjadi pelaku agar mereka tidak merasa lemah lagi," katanya.
Namun, Samanta mengatakan bahwa pengalaman masa kecil yang buruk tidak otomatis membuat seseorang menjadi pelaku kekerasan.
Menurut dia, banyak individu yang semasa kecil memiliki pengalaman buruk bisa memutus siklus kekerasan dengan dukungan sosial, pendidikan, dan bantuan profesional.
Selain latar belakang keluarga, pola asuh, dan pengalaman buruk pada masa kecil, kondisi lingkungan sosial juga berperan dalam pembentukan perilaku seseorang.
"Lingkungan sosial yang toksik, minim edukasi emosi, atau bahkan menoleransi perilaku agresif juga menyuburkan bakat kekerasan dalam diri seseorang," kata Samanta.
Baru-baru ini, seorang perempuan berusia 29 tahun didapati telah menjadi korban penyekapan dan penganiayaan selama tiga tahun.
Perempuan asal Kabupaten Bandung yang dilaporkan hilang kontak dengan keluarga sejak tahun 2023 itu ditemukan dalam kondisi kritis di rumah sakit setelah disekap dan dianiaya oleh kekasihnya selama tiga tahun.
Kepada ayahnya, korban mengaku mengalami penganiayaan luar biasa kejam dalam tiga tahun terakhir.
Selama kurun itu, pelaku sering memindahkan korban dari satu tempat kos ke tempat kos yang lain di daerahCileunyi, Kabupaten Bandung, guna menghindari kecurigaan warga sekitar.





