Jakarta (ANTARA) - Peneliti Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Yanu Endar Prasetyo mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tetap aktif mengawal dan melakukan pengawasan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG), termasuk selama masa libur sekolah.

Dalam sesi wawancara di ANTARA Heritage Center, Jakarta, Rabu, Yanu menilai masa jeda kegiatan belajar mengajar ini justru menjadi momentum yang berharga bagi semua pihak untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap infrastruktur dan tata kelola program.

Ia mengimbau masyarakat agar tidak lengah dan terus memantau lingkungan sekitarnya, khususnya dengan melihat kondisi kesiapan di sekolah-sekolah terdekat maupun di fasilitas dapur penyedia makanan.

Menariknya, Yanu sangat mengapresiasi inisiatif warganet dalam menyuarakan pengawasan, meskipun kritik tersebut kerap disampaikan secara kreatif dalam bentuk komedi, meme lucu, maupun konten viral di media sosial.

"Saya rasa itu penting juga untuk konsumsi kita semua karena kritik kadang juga kalau disampaikan dalam bentuk yang lucu, mungkin bisa lebih menyentuh juga oleh pembuat kebijakan," ujarnya.

Oleh karena itu, ia mendorong masyarakat untuk tidak ragu memanfaatkan berbagai kanal penyampaian aspirasi yang ada, baik melalui laporan pengaduan resmi maupun lewat konten-konten media sosial yang mampu menggugah kesadaran publik.

Partisipasi pengawasan yang masif ini, lanjut Yanu, sangat dibutuhkan agar program gizi nasional tersebut mampu memenuhi prinsip presisi yang ideal, yakni harus tepat sasaran, tepat ukuran atau porsi, dan tepat harga.

Pemenuhan ketiga prinsip kepresisian tersebut, menurut dia, menjadi prasyarat utama agar harapan Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan nutrisi terbaik bagi generasi penerus bangsa dapat terealisasi secara maksimal tanpa diwarnai inefisiensi anggaran.

Selain pengawasan dari akar rumput, Yanu menekankan perlunya Badan Gizi Nasional (BGN) membangun ekosistem pengawasan yang berlapis, dimulai dari audit internal yang kuat hingga penegakan transparansi bagi setiap dapur atau mitra yang terlibat.

Sebagai bentuk komitmen transparansi, BRIN mendorong pemerintah untuk menyediakan dasbor (dashboard) informasi yang dapat diakses secara terbuka, sehingga seluruh elemen masyarakat dapat melacak alur penggunaan APBN pada program MBG.

"Lalu melibatkan media, melibatkan masyarakat sipil dan seterusnya menjadi auditor independen untuk program ini. Saya rasa ketika semua pihak itu diberi kesempatan yang sama, yang terjadi memang perbaikan dari waktu ke waktu," ucapnya.

"Kritik itu kan kadang pahit, tapi seperti obat bisa menyembuhkan. Daripada kita gula terus, manis, tapi bisa menjadi penyakit. Artinya sama seperti itu, kritik ditangkap sebagai obat kemudian berbenah, siapa tahu program akan menjadi lebih sehat ketika masukan-masukan itu (didengarkan)," tutur Yanu Endar Prasetyo.