Jakarta (ANTARA) - Forum Pemuda Peduli Jakarta (FPPJ) menggelar diskusi publik yang membahas penguatan peran pemuda dalam program Jaga Jakarta.
Program tersebut diinisiasi oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubermur Rano Karno yang didukung Kapolda Metro Jaya Komjen Edi Suheri dan Pangdam Jaya Letjen Deddy Suryadi dalam menjaga wilayah Jakarta tetap kondusif.
“Gerakan Jaga Jakarta merupakan bentuk komitmen nyata pemuda dalam mengawal pembangunan ibu kota yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Ketua Umum FPPJ Endriansyah saat Diskusi Publik yang digelar Forum Pemuda Peduli Jakarta (FPPJ) di Jakarta, Rabu.
Ia menegaskan Jakarta yang tangguh adalah milik bersama dan FPPJ berkomitmen menjadi garda terdepan dalam membangun sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pemuda.
Endriansyah menyatakan transisi Jakarta menuju kota global tidak hanya membutuhkan pembangunan infrastruktur dan peningkatan daya saing ekonomi, namun juga penguatan kewaspadaan dini untuk menjaga Jakarta serta partisipasi aktif masyarakat, khususnya generasi muda.
Ia menyampaikan sebagai tindak lanjut diskusi, FPPJ merekomendasikan pembentukan Posko Informasi Pemuda, Gerakan Antihoaks, serta Forum Sinergi Jaga Jakarta.
Menurutnya, ketiga wadah tersebut diharapkan menjadi ruang kolaborasi dan evaluasi berkelanjutan terhadap berbagai isu kewilayahan di Jakarta.
“Melalui sinergisitas pemerintah, masyarakat, dan pemuda, FPPJ optimistis Jakarta dapat mewujudkan visi sebagai kota global yang maju, aman, inklusif serta tetap berakar kuat pada nilai-nilai budaya lokal menuju usia lima abad pada 2027,” kata dia.
Dalam diskusi tersebut, Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Komunikasi Sosial Chico Hakim menegaskan Jakarta perlu belajar dari praktik terbaik kota-kota dunia tanpa kehilangan identitas dan karakter budayanya.
"Jakarta harus mampu tumbuh menjadi kota global yang modern sekaligus tetap menjaga nilai-nilai budaya yang menjadi jati dirinya," kata dia dalam Diskusi Publik yang digelar Forum Pemuda Peduli Jakarta (FPPJ) di Jakarta, Rabu.
Selanjutnya, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Rany Mauliani menjelaskan status kota global menuntut kesiapan masyarakat yang lebih matang.
“Pemuda harus mengambil peran sebagai agen perubahan sekaligus penjaga harmoni sosial di tengah perkembangan kota yang semakin dinamis,” kata dia.
Senada dengan itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik DKI Jakarta Matsani memaparkan berbagai upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas sosial melalui program partisipatif.
"Salah satunya melalui Ngopi Cetar yang menjadi wadah penyerapan aspirasi masyarakat untuk dirumuskan menjadi rekomendasi kebijakan," katanya.
Diskusi publik tersebut mengusung tema "Jakarta Kota Global dan Berbudaya: Peran Kewaspadaan Dini dalam Semangat Jaga Jakarta".
Forum tersebut mempertemukan sejumlah pemangku kepentingan dari unsur pemerintah, legislatif, TNI, dan organisasi masyarakat untuk membahas strategi menjaga stabilitas sosial di tengah transformasi Jakarta menuju kota global.





