Liputan Investigasi Tim Tribunnews.com
TRIBUNNEWS.COM - Indonesia menguasai sekitar 43 persen cadangan nikel dunia dan menjadi penguasa produsen terbesar. Data USGS tahun 2024, Indonesia memiliki 55 juta ton dari total 130 juta ton cadangan nikel dunia.
Produksi juga demikian dominannya. Indonesia memproduksi 2,2 juta ton nikel sepanjang tahun 2024. 60 persen dari total produksi global 3,7 juta ton.
Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI), Arief R Pabettingi mengonfirmasi kebutuhan China terhadap komoditi ekspor nikel Indonesia sebesar 92 persen atau sekitar 1,77 juta ton diekspor ke China sepanjang tahun 2024.
Besarnya investasi, sampai membuat Indonesia mempercayakan 90 persen kerjasamanya dengan China untuk membangun proyek smelter.
Data Badan Pusat Statistik yang dirilis per 2 Juni 2026, dari periode Januari - April 2026 nilai ekspor nonmigas keseluruhan ke China senilai 22,7 miliar Dollar Amerika Serikat atau sekira Rp 404,5 triliun (1 dollar AS = Rp 17.820).
Nikel menyumbang 16 persen senilai 3,7 miliar dollar Amerika Serikat atau setara Rp 65,9 triliun.
Angka ini meningkat 73 persen dibandingkan periode sama tahun 2025.
Media China menyampaikan narasi beragam ke audiens berbeda.
Rentang waktu yang digunakan adalah 1 Januari 2021 hingga 31 Desember 2025.
Hasilnya menunjukkan pola komunikasi China terhadap nikel memiliki karakter berbeda dibandingkan CPO.
Namun satu kesamaan tetap terlihat: media China cenderung menyesuaikan narasi berdasarkan audiens yang dituju.
Di antaranya keberhasilan hilirisasi nikel Indonesia, pembangunan smelter, industri bahan baku baterai, hingga pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional.
Indonesia bahkan digambarkan sebagai pusat pengolahan nikel dunia sekaligus mitra strategis China dalam rantai pasok kendaraan listrik global.
Sentimen negatif muncul lebih banyak dari faktor eksternal seperti gangguan rantai pasok global, konflik geopolitik, krisis energi, dan perlambatan industri pertambangan dunia.
Pakar Hubungan Internasional Universitas Indonesia sekaligus Kepala Bagian Humas Universitas Hasanuddin, Ishaq Rahman S.IP., M.Si., Ph.D (Cand.) menyebut media China memandang nikel sebagai aset strategis yang mendukung agenda transisi energi sekaligus memperkuat hubungan ekonomi China dan Indonesia.
“Wajar komentar mereka bagus (positif) karena ini berkaitan dengan industri baterai yang mereka geluti. Transisi energi,” katanya, saat diwawancarai via telepon, 20 Juni 2026.
Padahal dua komoditi ini didapatkan dari proses eksplorasi alam.
Hal lain, upaya untuk setting harga pasaran sawit agar bisa dibeli dengan harga murah.
Sementara, China seolah ‘tutup mata’ dengan isu lingkungan nikel. Ya, China dobel untung. Mendapatkan material biji nikel sekaligus jadi partner dalam pengelolaan proses hilirisasi. Meliputi investasi smelter, kawasan industri, sekaligus rantai pasok baterai kendaraan listrik.
“Mereka (China) butuh sekali dengan pasokan nikel Indonesia juga mereka terlibat dalam pengolahannya,” katanya.
Analisis dialihkan ke media pemerintah China berbahasa Mandarin.
Persentase sentimen positif jauh lebih tinggi dibandingkan versi bahasa Inggris. Pernyataan negatif relatif sama dengan konten berbahasa Inggris.
China lebih banyak membahas keberhasilan pengembangan teknologi dengan penggunaan nikel untuk pembaca dalam negeri.
Pada media berbahasa Inggris, Indonesia muncul dalam 15 headline.
Sebaliknya, dalam media berbahasa Mandarin Indonesia hanya muncul dalam empat headline.
Artinya, ketika berbicara kepada dunia internasional, media China menonjolkan kerja sama ekonomi dan industri bersama Indonesia.
Namun ketika berbicara kepada publik domestik, fokusnya bergeser menjadi kemampuan inovasi dan kemajuan teknologi China sendiri, tanpa banyak menyinggung peran Indonesia sebagai pemasok nikel.
Perbedaan juga terlihat pada sumber sentimen negatif.
Dalam versi bahasa Inggris, sentimen negatif berasal dari isu rantai pasok, konflik geopolitik, dan perlambatan industri.
Sedangkan berbahasa Mandarin, narasi negatif dimunculkan dari isu kesehatan konsumen seperti alergi nikel, dermatitis kontak, perhiasan imitasi, dan produk kecantikan.
Nikel tidak dibahas sebagai komoditas tambang atau industri nikel, melainkan dalam konteks alergi logam.
(*)