MaSA & UBBG  Adakan Festival Meurukon, Ajak Generasi Muda Lestarikan Seni Tradisi yang Hampir Punah
Mursal Ismail June 25, 2026 01:03 AM

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Yarmen Dinamika | Banda Aceh 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Majelis Seniman Aceh (MaSA) bekerja sama dengan Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) Banda Aceh mengadakan Festival Meurukôn.

Kegiatan ini berlangsung di Gedung Teater Tertutup Taman Seni dan Budaya Aceh, Selasa (23/6/2026) malam. 

Kegiatan hasil kolaborasi seniman dengan kampus ini menegaskan komitmen UBBG dan MaSA dalam melestarikan seni tradisi Meurukôn melalui Program Festival Meurukôn: Seni Tradisi Aceh yang Hampir Punah.

Ketua Umum MaSA, Chairiyan Ramli menyatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga warisan budaya Aceh di tengah derasnya pengaruh budaya luar dan perkembangan teknologi yang semakin cepat.

Menurutnya, generasi muda perlu terus diperkenalkan dengan nilai-nilai budaya lokal agar tetap memiliki jati diri dan karakter keacehan yang kuat.

“Dengan kemajuan teknologi sekarang, terlalu banyak budaya asing yang masuk ke generasi muda.

Inilah salah satu upaya kita untuk menjaga supaya anak-anak muda tetap memiliki akal, jiwa, dan karakter Aceh yang sesungguhnya,” ujar Chairiyan.

Baca juga: Jelang Hari Bhayangkara Ke-80, Polresta Banda Aceh Renovasi Rumah Warga, Sang Pemilik Pun Terharu

Ia jelaskan bahwa pelaksanaan festival tersebut tidak terlepas dari dukungan Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan yang memercayakan MaSA untuk menjalankan program pelestarian budaya di Aceh.

Chairiyan juga menyampaikan apresiasi kepada para pelatih, Syekh Ismail dan Syekh Yakub, serta mahasiswa UBBG yang telah mengikuti pelatihan intensif selama hampir tiga bulan hingga mampu menampilkan pertunjukan meurukôn di hadapan publik.

“Ini adalah penampilan setelah latihan selama kurang lebih tiga bulan dan workshop yang telah dilaksanakan sebelumnya. Alhamdulillah, mereka bisa sampai pada tahap tampil malam ini,” ujarnya.

Ke depan, MaSA berencana melanjutkan program serupa agar meurukôn dapat diperkenalkan lebih luas ke sekolah-sekolah, desa-desa, dan komunitas masyarakat lainnya.

“Tradisi seperti ini harus terus kita gelorakan bersama. Insya Allah tahun depan akan kita lanjutkan lagi dan kita usulkan kembali agar manfaatnya semakin luas,” katanya.

Rektor Universitas Bina Bangsa Getsempena UBBG, Prof Dr Lili Kasmini MSi, dalam sambutannya berterima kasih kepada Majelis Seniman Aceh (MaSA) atas kolaborasi ini.

Baca juga: Peunayong Chinatown, Bukti Warisan Moderasi Beragama di Aceh Sejak Abad ke-17

“Ini adalah kegiatan yang kami tunggu-tunggu karena sanagt bermanfaat bagi mahasiswa kami di UBBG. Ada pembentukan karakter dan budaya.

UBBG memiliki prodi khusus yang mengangkat marwah budaya Aceh, yakni  Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh," katanya.

Prof Lili mengharapkan, supaya ada event lain  yang pihaknya bisa bekerja sama dengan organisasi budaya lainnya di Aceh. 

“Mudah-mudahan dengan kegiatan ini, bangsa Indonesia, khususnya bangsa Aceh, mengkangkat harkat martabatnya.

Terima kasih kepada Doktor Zahraini, yang mengangkat kegiatan seni ini ke dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM, baik PISN ataupun seni meurukon yang didanai dana indoensiana.

Semoga seni ini dapat ditampilkan di even lain samai ke tingkat internasional,” ungkapnya.

Baca juga: Polresta Banda Aceh Musnahkan 4 Kg Sabu dan 22 Kg Ganja

Rektor menambahkan bahwa Kampus UBBG sangat terbuka untuk melakukan berbagai kolaborasi, baik dari Balai Kebudayaan maupun MaSa.

Hal ini sangat penting dalam  pelestarian budaya Aceh. Apalagi di UBBG mempunyai Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh yang sangat mendukung berbagai kegiatan eksplorasi budaya.

Sementara itu, Ketua Panitia Festival Meurukôn, Thayeb Loh Angen mengatakan, program tersebut sebenarnya telah direncanakan sejak 2025 dan diajukan ke Kementerian Kebudayaan melalui skema Dana Indonesiana. 

Meski sempat mengalami penundaan akibat situasi bencana, pelaksanaan program akhirnya dapat diselesaikan hingga puncak pertunjukan pada Juni 2026.

Menurut Thayeb, salah satu capaian penting program tersebut adalah terbentuknya Grup Meurukôn UBBG, yang menjadi kelompok meurukôn baru hasil pembinaan MaSA bersama pihak kampus.

“Atas dukungan UBBG dan berbagai pihak, Alhamdulillah telah terbentuk sebuah grup baru. Sepengetahuan saya, ini merupakan grup meurukôn pertama yang dibentuk di lingkungan perguruan tinggi di Banda Aceh,” ujarnya.

Ia menjelaskan, rangkaian Festival Meurukôn sejak April hingga Juni 2026 itu meliputi pelatihan, workshop, pameran dokumentasi,  dan literatur meurukôn, hingga pertunjukan puncak yang menampilkan hasil pembinaan peserta.

Thayeb juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pengurus MaSA, pihak UBBG, para seniman, pelatih, serta seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.

Festival Meurukôn dia harapkan menjadi langkah awal kebangkitan kembali salah satu seni tutur tradisional Aceh yang selama ini mulai jarang dipertunjukkan, sekaligus menjadi sarana pembinaan karakter generasi muda melalui nilai-nilai budaya dan kearifan lokal Aceh.

Program festival meurukôn ini memiliki empat mata acara utama, ditambah penulisan satu booklet panduan meurukôn, yaitu pelatihan, workshop yang dilaksanakan di UBBG pada 12 Juni 2026, pertunjukan pada 23 Juni 2026, dan pameran di Lobi Gedung Teater Tertutup Taman Seni Dan Budaya Aceh pada 22-24 Juni 2026.

Sementara booklet ditulis oleh Iskandar Norman, Dr Zahraini, Thayeb Loh Angen, aksara Jawi Aceh (Jawoe) oleh M Iqbal Hafidh, dengan pengantar oleh Prof Yusny Saby dan Prof Dr Lili Kasmini.

Thayeb berharap seni meurukôn dapat berkembang lebih luas dan membudaya kembali di kalangan masyarakat Aceh, terutama penutur bahasa Aceh, sehingga keseimbangan penyebaran budaya berjalan baik.

Seni meurukôn merupakan salah satu seni yang secara utuh sebagai media dakwah. Jika seni lain yang berkembang di Aceh bercampur antar pesoalan umum dan agama, maka meurukôn hanya tentang agama Islam.

"Pelestarian seni budaya, seperti meurukôn, diperlukan untuk kita tahu bagaimana perkembangan pemikiran dan peradaban sebuah bangsa,” kata Thayeb, sastrawan yang telah menerbitkan beberapa novel dan buku puisi.

Turut hadir pada kegiatan tersebut, Kepala Balai Pelestarian Budaya Aceh, Piet Rusdi SSos, para seniman, dan kalangan muda  Banda Aceh. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.