Jakarta (ANTARA) - Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) DKI Jakarta, dalam ajang job fair di GOR Tanjung Duren, mencatat antusiasme tinggi dari masyarakat untuk mencari peluang kerja di luar negeri, terutama Jepang.
Pengantar Kerja Ahli Pertama BP3MI DKI Jakarta, Fida, menyebut bahwa tingginya animo tersebut terlihat dari banyaknya warga yang berkonsultasi di stan BP3MI, kendati sebagian besar dari mereka awalnya belum memiliki informasi dasar mengenai skema penempatan ke luar negeri.
"Hari ini banyak sekali yang tertarik ke Jepang. Negara itu sedang ada fenomena aging population (penuaan penduduk), di mana angka kelahiran menurun sementara populasi lansia meningkat. Hal ini memicu tingginya kebutuhan tenaga kerja asing, terutama untuk posisi perawat lansia (care worker)," kata Fida saat diwawancarai di sela-sela kegiatan, Rabu.
Menurut Fida, peluang kerja ke luar negeri menjadi semakin luas dengan adanya ragam skema resmi yang aman dan legal, mulai dari program Government to Government (G-to-G) yang dikelola pemerintah, perusahaan swasta, hingga penempatan perseorangan.
Adapun khusus untuk Jepang, kata Fida selain posisi perawat, pemerintah setempat juga membuka keran kerja sama melalui visa Pekerja Keterampilan Spesifik atau Specified Skilled Worker (SSW) di sektor perhotelan, pertanian, peternakan, pembersihan gedung, hingga pengolahan makanan.
Pilihan untuk merantau ke luar negeri dinilai menjadi solusi konkret di tengah keterbatasan lapangan kerja domestik.
Demikian yang disampaikan oleh para pencari kerja di lapangan, seperti Reza (28) dan Dafa (25), dua pemuda asal Jakarta yang kini tengah membidik peluang kerja di sektor pertanian Jepang.
Dafa mengungkapkan, ketatnya persaingan, minimnya transparansi proses rekrutmen, serta standar upah yang kurang memadai menjadi faktor utama yang mendorong mereka mencari peruntungan di luar negeri.
"Mencari pekerjaan di Indonesia saat ini semakin sulit. Bahkan untuk melamar posisi magang saja sering kali diminta pengalaman kerja. Persaingan sangat ketat, ditambah lagi fenomena 'orang dalam' dan tawaran gaji yang terkadang kurang manusiawi," kata Dafa.
Senada dengan Dafa, Reza yang memiliki latar belakang pengalaman kerja di bidang logistik dan FMCG menyebutkan bahwa bekerja di luar negeri merupakan tantangan baru sekaligus kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup.
Demi mewujudkan target tersebut, keduanya telah melakukan persiapan matang selama tiga hingga lima bulan dengan mengikuti kursus bahasa Jepang gratis yang difasilitasi oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Pusat Pelatihan Kerja Daerah (PPKD) Jakarta Selatan.
Saat ini, mereka telah mengantongi sertifikat kemampuan bahasa JFT A2 dan sedang dalam tahap penyesuaian kerja (matching job) sembari bersiap mengikuti ujian kompetensi SSW.
Menanggapi fenomena migrasi tenaga kerja ini, BP3MI DKI Jakarta mengingatkan masyarakat untuk selalu mengutamakan jalur resmi dan melengkapi kompetensi yang dibutuhkan, terutama kemampuan bahasa.
Fida menegaskan bahwa kelengkapan dokumen dan ketatnya birokrasi yang diterapkan pemerintah semata-mata demi memberikan jaminan pelindungan hukum bagi para Pekerja Migran Indonesia (PMI).
"Kehadiran pemerintah bukan mempersulit dengan persyaratan dokumen, tapi beri pelindungan. Kami upayakan mereka punya dokumen sesuai perundang-undangan, termasuk kontrak kerja detail yang mengatur hak dan kewajiban, sehingga kalau ada apa-apa, sengketa di kemudian hari, hak-hak pekerja tetap terlindungi," pungkas Fida.





