Oleh: Yocerizal *)
AROMA masakan khas Chongqing menyambut rombongan kami ketika memasuki ruang jamuan makan siang di Kantor Urusan Luar Negeri Pemerintah Kota Chongqing, Tiongkok, Selasa (23/6/2026).
Di atas meja bundar besar yang dapat diputar, aneka hidangan tersaji silih berganti. Saat satu piring hampir kosong, pelayan segera menggantinya dengan menu berikutnya.
Namun jamuan itu bukan sekadar makan siang.
Di sela-sela berbagai hidangan khas Chongqing, rombongan wartawan dari wilayah kerja Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Medan berdiskusi dengan pejabat Pemerintah Kota Chongqing mengenai perkembangan ekonomi, perdagangan, pendidikan, lingkungan hidup, hingga peluang kerja sama antara Chongqing dan Indonesia.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari program kunjungan media yang difasilitasi Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Medan.
Program itu diikuti 14 peserta yang terdiri atas wartawan dari berbagai media di Sumatera. Rombongan dipimpin Wakil Konsul Jenderal Tiongkok di Medan, Yu Lei, dan didampingi Ketua Harian Perhimpunan MITSU (Masyarakat Indonesia Tionghoa Sumatera Utara), Juswan Tjoe.
Setibanya di lokasi, rombongan diterima oleh Inspektur Tingkat I Kantor Urusan Luar Negeri Pemerintah Kota Chongqing, Zhang Yaqian.
Dalam suasana santai dan penuh keakraban, Zhang memperkenalkan Chongqing sebagai satu-satunya kota setingkat provinsi di wilayah barat dan tengah Tiongkok yang berada langsung di bawah pemerintah pusat.
Ia menjelaskan, Chongqing merupakan salah satu basis penting industri manufaktur sekaligus pusat keterbukaan ekonomi di wilayah pedalaman Tiongkok.
Dalam beberapa tahun terakhir, kota ini aktif terlibat dalam pembangunan Inisiatif Sabuk dan Jalur (Belt and Road Initiative) serta Kawasan Ekonomi Sungai Yangtze.
Menurut Zhang, Chongqing memiliki sistem industri yang sangat lengkap. Dari 41 kategori besar industri yang diklasifikasikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sebanyak 39 kategori tersedia di kota tersebut.
Keunggulan Chongqing terlihat pada sektor otomotif, informasi elektronik, serta manufaktur peralatan. Dalam beberapa tahun terakhir, industri kendaraan energi baru juga berkembang pesat.
Perusahaan-perusahaan besar seperti Changan Automobile dan Seres terus meningkatkan investasi penelitian dan pengembangan sekaligus memperluas pasar kendaraan energi baru mereka.
Baca juga: Peunayong Chinatown, Bukti Warisan Moderasi Beragama di Aceh Sejak Abad ke-17
Baca juga: Pria Ditemukan Meninggal di Lantai 3 Ruko Kawasan Peunayong Banda Aceh, Ini Dugaan Penyebabnya
Ketika pembicaraan beralih pada hubungan ekonomi dengan Indonesia, Zhang menilai potensi kerja sama kedua pihak masih sangat besar.
Menurutnya, Chongqing memiliki keunggulan teknologi dan manufaktur, sementara Indonesia kaya akan sumber daya alam dan produk pertanian tropis yang diminati pasar Tiongkok.
Salah satu produk yang secara khusus disebut adalah kopi.
"Produk pertanian tropis seperti kopi dan minyak sawit dari Indonesia sangat diminati di pasar Chongqing," kata Zhang.
Pernyataan itu langsung mengingatkan saya pada Aceh.
Sebagai salah satu daerah penghasil kopi terbesar di Indonesia, Aceh memiliki komoditas yang telah dikenal luas di pasar internasional. Kopi Gayo, misalnya, selama ini menjadi salah satu produk unggulan yang diekspor ke berbagai negara.
Di tengah meningkatnya minat masyarakat Chongqing terhadap kopi, peluang bagi kopi Aceh untuk memperluas pasar di Tiongkok terbuka cukup besar.
Apalagi Chongqing bukan pasar kecil. Kota megapolitan ini memiliki populasi lebih dari 30 juta jiwa dan menjadi salah satu pusat ekonomi utama di wilayah barat Tiongkok.
Selain membahas perdagangan, Zhang juga mengungkapkan bahwa hubungan Chongqing dan Indonesia sebenarnya telah berkembang di berbagai bidang.
Chongqing dan Provinsi Jawa Barat telah menjalin hubungan persahabatan yang aktif di bidang ekonomi, perdagangan, dan kebudayaan.
Di sektor pendidikan, sejumlah perguruan tinggi di Chongqing juga menjalin kerja sama dengan institusi pendidikan di Indonesia.
Salah satunya adalah Universitas Yangtze Normal Chongqing yang telah mencapai kesepahaman dengan Universitas Prima Indonesia untuk membangun Institut Konfusius.
Selain itu, lembaga pendidikan di Chongqing juga telah menjalin kerja sama pertukaran pendidikan dengan sekolah di Batam.
Di sektor industri, sejumlah perusahaan Chongqing juga telah masuk ke pasar Indonesia.
Zhang menyebut Changan Automobile dan Xiaokang Indonesia sebagai contoh kerja sama yang menjadi fondasi bagi penguatan kolaborasi industri otomotif kedua pihak.
Diskusi kemudian berkembang ke berbagai isu lain.
Para wartawan menanyakan bagaimana pemerintah daerah di Tiongkok menjalankan kerja sama luar negeri, mengelola tata ruang kota, melindungi lingkungan hidup, hingga menjalankan kebijakan ketenagakerjaan.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Zhang menjelaskan bahwa kerja sama luar negeri pemerintah daerah di Tiongkok tetap berada dalam koordinasi pemerintah pusat. Namun pemerintah daerah memiliki ruang tertentu untuk mengembangkan kerja sama ekonomi dan perdagangan internasional.
Ia juga menjelaskan bahwa Pemerintah Kota Chongqing terus meningkatkan investasi di bidang infrastruktur, perlindungan lingkungan, dan ketenagakerjaan guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Dalam bidang ketenagakerjaan, pemerintah menyediakan berbagai pelatihan keterampilan untuk membantu masyarakat memperoleh pekerjaan. Sementara bagi kelompok masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi, pemerintah menyediakan jaminan kehidupan dasar.
Pada sektor lingkungan hidup, Zhang menegaskan bahwa Chongqing menempatkan pembangunan ekologis sebagai salah satu prioritas utama.
Dalam satu dekade terakhir, kota ini terus memperkuat penghijauan dan perlindungan lingkungan.
Pemerintah juga melaksanakan kebijakan larangan penangkapan ikan selama sepuluh tahun di Sungai Yangtze untuk melindungi keanekaragaman hayati perairan.
Menurutnya, berbagai upaya tersebut telah menghasilkan perbaikan kualitas udara serta kualitas air sungai dan danau di Chongqing.
Baca juga: Jenazah PMI Korban Pembunuhan di Malaysia Dipulangkan ke Aceh Tamiang
Baca juga: Kompas Bangun Kembali SDN Teumpeun Aceh Timur, Sebut Pendidikan Fondasi Masa Depan Generasi
Di akhir pertemuan, Zhang menyampaikan harapannya agar para wartawan Indonesia dapat melihat langsung kondisi nyata Tiongkok dan menyampaikannya secara objektif kepada masyarakat Indonesia.
Ia juga berharap kerja sama Chongqing dan Indonesia di bidang ekonomi, perdagangan, budaya, pendidikan, dan pariwisata dapat terus diperdalam pada masa mendatang.
Sementara diskusi berlangsung, berbagai hidangan terus berdatangan ke meja makan.
Seluruh makanan ditempatkan di atas meja bundar besar yang dapat diputar, sebuah tradisi jamuan yang lazim dijumpai di Tiongkok. Ketika satu hidangan hampir habis, pelayan segera menggantinya dengan menu berikutnya.
Beberapa menu yang disajikan antara lain aneka olahan daging sapi, seafood, sup, sayuran khas Chongqing, mi tradisional, buah-buahan segar, serta berbagai hidangan penutup.
Jamuan makan siang itu akhirnya ditutup dengan sesi foto bersama.
Saat meninggalkan gedung, saya menyadari bahwa pertemuan tersebut bukan sekadar agenda penyambutan wartawan asing.
Di balik suasana santai dan percakapan hangat selama makan siang, tersimpan gambaran mengenai bagaimana Chongqing membangun hubungan dengan Indonesia melalui perdagangan, pendidikan, budaya, hingga pertukaran antarmasyarakat.
Bagi Aceh, pesan itu terasa relevan. Ketika kopi Indonesia disebut sebagai salah satu produk yang diminati pasar Chongqing, terbuka peluang bagi daerah-daerah penghasil kopi seperti Aceh untuk memperluas jejaknya di pasar Tiongkok.
Dari sebuah jamuan makan siang, saya melihat bagaimana hubungan antarwilayah sering kali dimulai dari percakapan sederhana. Dan dari percakapan itulah, peluang-peluang baru dapat ditemukan.(*)
*) PENULIS adalah jurnalis Serambinews.com (Serambi Indonesia) yang mengikuti program kunjungan media ke Chongqing dan Beijing, Tiongkok, pada Juni 2026.