SURYA.CO.ID, SURABAYA - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta seluruh lapisan masyarakat memberikan data jujur kepada petugas Badan Pusat Statistik guna menyukseskan pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 yang krusial bagi keakuratan penyaluran bantuan sosial.
Imbauan penting itu disampaikan langsung setelah kediaman pribadinya di kawasan Jemursari selesai didata petugas, Rabu (24/6/2026) .
Langkah strategis itu diharapkan mampu menghapus kesalahan sasaran data penerima bantuan di masa depan.
Baca juga: Tujuan Sensus Ekonomi 2026 dan Manfaatnya bagi Masyarakat
Dalam pelaksanaan sensus di kediaman itu, tampak Plt Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur, Herum Fajarwati, mengawal langsung jajaran timnya.
Selain itu Gubernur Khofifah juga tampak didampingi beberapa kepala OPD.
Proses sensus berlangsung cukup singkat sekitar 20 menit.
Gubernur Khofifah menyambut hangat kedatangan tim BPS dan menjawab setiap pertanyaan yang disampaikan.
Di akhir, petugas sensus juga mengambil foto ruang tamu tempat dilaksanakan sensus dan juga menempelkan stiker sebagai tanda kediaman Gubernur Khofifah telah dilakukan sensus ekonomi.
“Saya mohon seluruh masyarakat Jawa Timur bisa mendukung dan memberikan penjelasan sesuai yang dibutuhkan oleh tim sensus dari BPS,” kata Gubernur Khofifah, Rabu (24/6/2026).
Khofifah menjelaskan, Sensus Ekonomi yang digelar setiap 10 tahun sekali bertujuan memetakan kondisi ekonomi masyarakat di Jawa Timur secara menyeluruh.
Menurutnya, data yang dihasilkan akan menjadi basis penting dalam berbagai program pemerintah, termasuk memastikan penyaluran bantuan sosial lebih tepat sasaran.
“Kalau kita ingin setiap bansos itu valid datanya, tidak ada inclusion error dan tidak ada exclusion error, maka salah satu pintu masuknya melalui Sensus Ekonomi ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, setelah data terkumpul, kementerian teknis akan melakukan proses verifikasi dan validasi. Namun, basis data yang diperoleh melalui Sensus Ekonomi tetap menjadi fondasi utama dalam penyusunan kebijakan.
“Oleh karena itu, saya mohon kepada seluruh warga Jawa Timur memberikan dukungan dan menerima serta memberikan penjelasan sebagaimana yang dibutuhkan oleh tim sensus dari BPS,” tuturnya.
Baca juga: Daftar Pertanyaan Sensus Ekonomi 2026: Jadwal Lengkap dan Sasaran Baru Influencer hingga Afiliator
Sementara itu, Plt Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur, Herum Fajarwati, mengaku bersyukur atas dukungan yang diberikan Gubernur Khofifah terhadap pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026.
“Alhamdulillah kami sangat bersyukur. Ibu sangat mendukung sekali dan hari ini, di tengah kesibukan beliau yang sangat luar biasa, sudah berkenan menerima kedatangan petugas,” katanya.
Menurut Herum, dukungan tersebut menjadi penyemangat bagi para petugas sensus yang saat ini bekerja melakukan pendataan di seluruh wilayah Jawa Timur.
Ia menjelaskan, seluruh kegiatan usaha menjadi sasaran pendataan, termasuk profesi baru di sektor ekonomi digital seperti influencer.
“Kalau influencer merupakan kegiatan usaha yang memang ingin mendapatkan keuntungan, itu termasuk bagian yang kami data juga. Itu masuk kategori ekonomi digital. Jadi ekonomi itu ada yang konvensional dan ada yang digital. Semua harus didata secara lengkap,” jelasnya.
Herum menuturkan, hasil Sensus Ekonomi nantinya akan menggambarkan struktur dan karakteristik ekonomi suatu daerah, sekaligus menjadi dasar untuk melihat daya saing wilayah.
“Struktur ekonominya akan tergambar dari hasil sensus. Perdagangan sebesar apa, industri sebesar apa. Intinya, potret kegiatan ekonomi suatu wilayah akan menjadi presisi sesuai kondisi yang sebenarnya,” ujarnya.
Untuk mendukung pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026, BPS Jawa Timur mengerahkan 41.538 petugas lapangan yang bertugas selama sekitar dua setengah bulan.
Khusus di Kota Surabaya, jumlah petugas yang diterjunkan mencapai 1.982 orang. Sementara jumlah petugas terbanyak berada di Kabupaten Malang sebanyak 2.595 orang.
Herum menyebut hingga saat ini sekitar 10 persen target pendataan di Jawa Timur telah berhasil diselesaikan.
“Untuk posisi hari ini sekitar 10 persen yang sudah kami data untuk total se-Provinsi Jawa Timur. Insyaallah sampai akhir Agustus nanti bisa kita selesaikan,” katanya.
Ia optimistis target tersebut dapat tercapai dengan dukungan pemerintah daerah, media, serta masyarakat yang menerima kedatangan petugas sensus dengan baik.
Terkait kendala di lapangan, Herum mengatakan sejauh ini tidak banyak penolakan dari masyarakat. Hambatan yang lebih sering ditemui adalah petugas kesulitan menemui warga karena sedang bekerja atau tidak berada di rumah.
“Sejauh ini bukan karena menolak didata, tetapi karena rumah kadang kosong atau yang bersangkutan belum bisa ditemui,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi keraguan masyarakat, petugas sensus dibekali atribut resmi, surat tugas, serta berkoordinasi dengan RT dan RW setempat sebelum melakukan pendataan.
Menanggapi pertanyaan mengenai detailnya pertanyaan dalam Sensus Ekonomi tahun ini, Herum mengakui pendataan memang dilakukan lebih rinci. Namun, tidak semua responden harus menjawab seluruh pertanyaan.
“Kalau tidak punya kegiatan usaha, maka pertanyaan terkait usaha tidak perlu dijawab. Tetapi kondisi sosial ekonomi keluarga tetap kami data,” pungkasnya.