Laporan Wartawan TribunJatim.com, Madchan Jazuli
TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK – Komitmen Pemerintah Kabupaten Trenggalek dalam mengangkat derajat ekonomi masyarakat di garis kemiskinan terus digalakkan.
Melalui Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Kabupaten Trenggalek yang bekerja sama dengan Sentra Terpadu Kartini Temanggung, bantuan sosial (bansos) senilai total Rp404,5 juta resmi dikucurkan.
Penyaluran bantuan yang dikemas dalam agenda bakti sosial tersebut menyasar secara spesifik kepada 164 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Kabupaten Trenggalek pada Rabu (24/6/2026). Seluruh penerima dipastikan merupakan kelompok rentan yang tercatat dalam kategori desil 1 dan desil 2 Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
Kepala Dinsos PPPA Kabupaten Trenggalek, Habib Solehudin, menyatakan bahwa bansos kali ini sengaja dirancang secara variatif agar tepat guna dan adaptif terhadap kebutuhan riil masing-masing klaster penerima manfaat di lapangan.
Baca juga: Warga Trenggalek Antusias Ikut Uji Emisi Gratis, 50 Pendaftar Pertama Dapat Bibit Durian Musang King
"Alhamdulillah, hari ini dalam rangka bakti sosial dari Sentra Terpadu Kartini Temanggung, kita menyalurkan bantuan kepada kelompok disabilitas, anak-anak, lansia, hingga kawan-kawan eks pengguna Napza," ujar Habib Solehudin saat memberikan keterangan di lokasi acara.
Secara terperinci, Habib membeberkan bahwa klasifikasi penerima terdiri atas 92 anak yang mendapatkan pemenuhan kebutuhan hidup layak, serta 30 penyandang disabilitas yang memperoleh alat bantu aksesibilitas fisik langsung seperti kruk, tongkat, dan kursi roda.
Sementara itu, untuk sektor penguatan ekonomi makro, bantuan kewirausahaan diberikan kepada 26 warga lansia produktif serta 16 orang klaster eks Napza yang siap membuka lembaran usaha mandiri.
Menariknya, mekanisme penyaluran tidak hanya berpusat di lokasi seremonial. Sebagian bantuan logistik yang bersifat sektoral langsung didistribusikan oleh petugas ke kediaman KPM masing-masing guna mempermudah mobilitas.
"Sebagian bantuan sudah kami antarkan langsung ke rumah-rumah warga. Ada yang berupa bahan baku bambu untuk iratan reyeng (anyaman wadah ikan), ada juga stimulan berupa tanah liat siap cetak kepada masyarakat sebagai modal awal memproduksi batu bata, hingga pemenuhan etalase sarana perdagangan toko kelontong dan warung makan," urai Habib secara mendetail.
Salah satu poin penting dalam penyaluran bansos kali ini adalah perhatian khusus terhadap penguatan lini ekonomi para mantan pengguna narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (eks Napza).
Habib mengakui, program stimulan usaha mandiri ini diberikan khusus kepada mereka yang secara medis dan sosial telah dinyatakan selesai menjalani masa rehabilitasi ketat di bawah naungan Badan Narkotika Nasional (BNN).
"Mereka yang diusulkan adalah yang sudah masuk data BNN, sudah pulih dari rehabilitasi, serta masuk dalam desil satu dan dua DTKS. Setelah fungsi sosial mereka pulih, Dinsos melanjutkan intervensinya lewat penguatan kemandirian hidup dan ekonomi keluarga," tegasnya.
Langkah strategis perlindungan sosial ini sengaja diambil oleh Pemkab Trenggalek sebagai benteng pertahanan agar para penyintas dapat mandiri secara finansial di lingkungan asalnya dan tidak kembali terperangkap dalam jeratan barang haram.
"Khusus untuk porsi Dinas Sosial, sementara waktu ini kami memfokuskan dukungan pada aspek penguatan ekonomi di lingkungan sosial mereka masing-masing. Caranya lewat intervensi modal usaha produktif yang disesuaikan dengan minat, keahlian, dan peluang pasar di desa mereka," pungkas Habib Solehudin secara optimis.