Menilik Fasilitas Keran Air Minum Layak Konsumsi di Sudut Kota-kota di Swiss, Terbersih di Dunia
Salma Fenty June 25, 2026 07:18 AM

LAUSANNE, TRIBUNNEWS.COM - Impian menghadirkan air minum layak konsumsi yang gratis dan mudah diakses di ruang-ruang publik kota besar Indonesia ternyata bukan mimpi yang mustahil terwujud. Menengok kota-kota di Swiss, fasilitas ini dengan mudah bisa ditemui.

Fasilitas tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Swiss. Air bersih mengalir dari ratusan pancuran umum yang tersebar di taman kota, trotoar, alun-alun, hingga dekat stasiun transportasi, dan dapat langsung diminum tanpa biaya.

Dalam kunjungan memperingati 75 tahun hubungan bilateral Republik Indonesia dan Swiss, tim KG Media berkesempatan melihat langsung berbagai fasilitas layanan publik di sejumlah kota.

Air minum layak konsumsi menjadi salah satu fasilitas yang paling mudah ditemui. Tribunnews.com berkesempatan melihat dan mencoba langsung air dari pancuran publik saat berada di Lausanne, Bern, Zurich, hingga Basel.

Di sekitar tepi Danau Geneva Kota Lausanne, warga kota dan wisatawan bisa dengan mudah menemukan air pancuran. Di samping ikon tempat berfoto tulisan Lausanne sepanjang delapan meter, wisatawan bisa mudah menemukan air pancuran layak minum. Tak jauh dari lokasi itu berjalan sekitar 200 meter menuju jalan raya juga tersedia satu lagi air pancuran.

Erwin, warga negara Indonesia (WNI) yang ditemui Tribunnews.com di Kota Zurich, memperlihatkan salah satu ciri khas kota-kota di Swiss, yakni air pancuran umum yang layak dikonsumsi langsung. "Di setiap kota ada fasilitas ini. Sangat bermanfaat saat cuaca panas," ujar Erwin.

Menengok fasilitas air minum publik di Swiss memberikan gambaran bagaimana pengelolaan sumber daya air yang baik mampu menghadirkan layanan sederhana namun berdampak besar bagi kualitas hidup warga. Di tengah musim panas dengan suhu yang mencapai lebih dari 30 derajat Celsius, keberadaan air minum gratis di ruang publik menjadi kebutuhan yang mudah dipenuhi oleh siapa saja.

"Yang penting tidak ada keterangan air tidak layak minum. Sepanjang tidak ada keterangan apapun, semua air di pancuran bisa di minum," ujar Masha WNI yang ditemui di Kota Bern Swiss.

Di Kota Bern, Tribunnews.com mencoba minum air pancuran di kawasan kota lama Kramgasse Bern. Lokasi air pancuran berada tepat di tengah jalanan kota tua kawasan itu. Wisatawan yang berjalan dari menara jam Zytglogge ke 150 meter arah timur menuju Einstein House, kafe yang dulu menjadi tempat tinggal ilmuan Albert Einstein akan tampak pancuran air minum di tengah jalan.

Di tengah cuaca musim panas menjelang akhir Juni 2026, suhu udara di sejumlah kota Swiss dapat menyentuh 35 derajat Celsius pada siang hari.

Pantauan Tribunnews.com, Rabu (25/6/2026), suhu udara di Lausanne bergerak dari 23 hingga 31 derajat Celsius. Adapun suhu udara di Bern berkisar antara 20 hingga 34 derajat Celsius.

Baca juga: MoU Swiss-RI Dorong Investasi dan Pendidikan Vokasi di Indonesia, Peluang untuk Daerah

Bandingkan dengan suhu udara Jakarta sekitar 21-31 derajat Celsius pada hari yang sama. Sementara suhu udara di Surabaya, Kamis (26/6/2026), diperkirakan berada di kisaran 26-32 derajat Celsius.

Dalam kondisi cuaca panas tersebut, warga maupun wisatawan yang membutuhkan air minum sewaktu-waktu dapat dengan mudah menemukan pancuran air di taman kota, trotoar, alun-alun, hingga dekat stasiun transportasi umum.

Informasi dari Federal Food Safety and Veterinary Office (FSVO) Swiss menyebutkan bahwa air yang didistribusikan di negara itu memenuhi standar kualitas yang sangat tinggi. Sekitar 80 persen pasokan air minum Swiss berasal dari sumber air bawah tanah (groundwater), sementara sisanya berasal dari danau-danau yang tersebar di seluruh negeri.

Berkat penetapan kawasan perlindungan air tanah yang ketat, sekitar setengah dari pasokan air tersebut bahkan dapat didistribusikan kepada masyarakat tanpa perlu melalui proses pengolahan tambahan. Airnya dapat diminum langsung dari keran tanpa menimbulkan risiko kesehatan.

Lembaga riset air Swiss, Eawag, menyebut air minum di Swiss termasuk yang paling bersih di dunia. Kualitas air juga diawasi secara berkala melalui pengujian mikrobiologi dan kandungan kimia oleh otoritas terkait.

Tak hanya aman dikonsumsi, air keran Swiss juga dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan air minum dalam kemasan. Penggunaan air keran membantu mengurangi konsumsi plastik sekali pakai serta emisi karbon yang timbul dari proses produksi dan distribusi air kemasan.

Karena itu, banyak wisatawan yang membawa botol minum isi ulang selama berkeliling kota. Cukup mendatangi salah satu pancuran umum yang tersebar di berbagai sudut kota, mereka dapat mengisi ulang persediaan air minum secara gratis. Anda yang berada di Swiss tak perlu membeli air mineral di toko swalayan bila berada di dekat area air pancuran.

Bagi masyarakat Swiss, keberadaan air minum publik bukan sekadar fasilitas, melainkan bagian dari budaya pelayanan publik yang menempatkan akses terhadap air bersih sebagai kebutuhan dasar yang harus tersedia bagi semua orang. Di banyak kota, hampir seluruh pancuran umum dapat digunakan untuk minum kecuali terdapat penanda khusus yang menyatakan sebaliknya.

Pengalaman Tribunnews.com meneguk air langsung dari pancuran di Zurich, Lausanne, Bern, maupun Basel menjadi bukti nyata bagaimana pengelolaan sumber daya air yang baik mampu menghadirkan layanan publik sederhana, tetapi sangat bermanfaat bagi warga dan wisatawan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.