IGS 2026, Melinda Aksa Perkenalkan Identitas Budaya Sulsel kepada Para Tamu Internasional
Sakinah Sudin June 25, 2026 08:19 AM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Deretan stan kerajinan, kuliner, hingga ragam karya kreatif pelaku UMKM menyambut para tamu internasional yang hadir dalam pameran dagang lokal Kota Makassar, di kawasan Tugu MNEK, Anjungan Pantai Losari.

Pameran bertajuk The Taste and Craft of Makassar di kawasan Tugu MNEK, Anjungan Pantai Losari hadir selama gelaran Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS) 2026 pada 23-24 Juni 

Kegiatan tersebut menghadirkan suasana yang mempertemukan budaya, ekonomi kreatif, dan diplomasi internasional dalam satu ruang yang terbuka bagi para delegasi dari berbagai negara.

Sejak awal acara, para tamu diajak mengenal lebih dekat kekayaan budaya Sulawesi Selatan melalui berbagai produk unggulan yang dipamerkan. 

Mulai dari tenun tradisional, kerajinan tangan, produk fesyen, hingga aneka kuliner khas Makassar menjadi daya tarik utama yang mendapat perhatian para delegasi mancanegara.

Pameran tersebut turut dihadiri Ketua Bidang Kerja Sama Luar Negeri Dewan Kerajinan Nasional Indonesia, Katharine Grace Fadli Zon.

Spouse of Director General of Information and Public Diplomacy Ministry of Foreign Affairs Sinta Ekawati Subolo, para delegasi, serta spouse dari berbagai negara peserta IGS 2026.

Ketua Dekranasda Kota Makassar, Melinda Aksa, dalam sambutannya menyampaikan, kegiatan tersebut bukan sekadar pameran produk lokal.

Melainkan upaya memperkenalkan identitas budaya Makassar kepada masyarakat internasional.

Menurut Melinda, Indonesia Gastrodiplomacy Series 2026 menjadi momentum penting untuk membuka ruang yang lebih luas bagi promosi budaya sekaligus pengembangan ekonomi kreatif daerah.

“Ini adalah awal dari sebuah perjalanan panjang yang kami harapkan akan menjadi warisan berharga bagi Kota Makassar ke depannya," ujar Melinda.

"Kami ingin membuka babak baru dalam diplomasi budaya dan menegaskan bahwa Makassar siap menjadi pintu gerbang yang terbuka luas bagi kerja sama antarbangsa,” imbuhnya.

Keterlibatan Dekranasda dalam kegiatan tersebut bentuk komitmen mendorong produk-produk lokal agar semakin dikenal di tingkat global.

Melinda menilai para perajin tenun, pelaku UMKM, serta insan ekonomi kreatif memiliki peran penting dalam memperkenalkan wajah Makassar kepada dunia melalui karya yang mereka hasilkan.

Karena itu, ia mengapresiasi Pemerintah Kota Makassar yang telah memberikan dukungan dan kepercayaan kepada para pelaku usaha lokal untuk tampil dalam forum internasional yang dihadiri delegasi dari puluhan negara.

Menurutnya, dukungan tersebut menjadi  visi besar yang menghubungkan kekayaan budaya lokal dengan peluang ekonomi yang lebih luas di pasar global.

“Melalui kesempatan ini, karya-karya terbaik dari para perajin dan pelaku UMKM Makassar dapat dilihat langsung oleh para tamu internasional," kata Melinda.

"Ini menjadi ruang promosi yang sangat berharga bagi produk unggulan daerah,” jelasnya.

Di setiap stan pameran, para delegasi tampak berinteraksi dengan pelaku usaha dan perajin. 

Mereka tidak hanya melihat produk yang dipamerkan, tetapi juga mendapatkan penjelasan mengenai proses pembuatan, filosofi, hingga nilai budaya yang melekat pada setiap karya.

Tenun tradisional menjadi salah satu produk yang menarik perhatian pengunjung. 

Motif-motif khas yang diwariskan secara turun-temurun diperkenalkan sebagai bagian dari identitas budaya Sulawesi Selatan yang terus hidup dan berkembang hingga saat ini.

Selain kerajinan, kuliner khas Makassar juga menjadi sarana diplomasi yang efektif. 

Berbagai hidangan tradisional diperkenalkan sebagai representasi cita rasa lokal yang mencerminkan keberagaman budaya masyarakat setempat.

Sementara itu, Ketua Bidang Kerja Sama Luar Negeri Dewan Kerajinan Nasional Indonesia, Katharine Grace Fadli Zon, menilai event ini berhasil mempertemukan unsur budaya, ekonomi kreatif, dan diplomasi dalam satu ruang kolaborasi.

Menurut Katharine, Makassar memiliki posisi strategis sebagai kota yang sejak lama menjadi pusat pertemuan berbagai budaya dan aktivitas perdagangan di kawasan Indonesia Timur.

“Makassar merupakan kota yang sejak lama dikenal sebagai gerbang perjalanan di kawasan Indonesia Timur dan menjadi titik pertemuan berbagai budaya, gagasan, serta persahabatan yang terus tumbuh hingga saat ini,” ujarnya.

Ia mengatakan semangat keterbukaan yang dimiliki Kota Makassar tercermin dalam penyelenggaraan pameran The Taste and Craft of Makassar yang menghadirkan berbagai produk unggulan hasil karya masyarakat lokal.

Katharine menilai setiap produk yang ditampilkan memiliki cerita dan nilai budaya yang kuat. 

Karena itu, produk-produk tersebut tidak hanya dipandang sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga sebagai media yang membawa identitas daerah ke panggung internasional.

“Setiap karya yang ditampilkan bukan sekadar produk ekonomi, melainkan juga representasi tradisi, kreativitas, dan identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi serta terus berkembang melalui inovasi para pelaku UMKM,” katanya.

Melalui pameran tersebut, Dekranasda Kota Makassar berharap semakin banyak peluang kerja sama yang dapat terjalin antara pelaku usaha lokal dan mitra internasional. 

Selain membuka akses pasar yang lebih luas, kegiatan ini juga diharapkan memperkuat posisi Makassar sebagai kota yang aktif membangun diplomasi budaya melalui kekayaan warisan, kreativitas, dan inovasi masyarakatnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.