TRIBUNNEWS.COM - Bulan Muharram kembali menjadi perhatian umat Islam karena termasuk salah satu bulan yang dimuliakan dalam kalender Hijriah.
Selain menandai awal tahun baru Islam 1448 Hijriah, Muharram juga dikenal sebagai bulan yang penuh dengan kesempatan untuk memperbanyak amal ibadah, termasuk menjalankan puasa sunnah yang memiliki keutamaan besar.
Salah satu puasa yang paling dianjurkan pada bulan ini adalah Puasa Asyura yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharram.
Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama Republik Indonesia, tanggal 25 Juni 2026 bertepatan dengan 10 Muharram 1448 Hijriah, yang dikenal sebagai Hari Asyura.
Dengan demikian, puasa sunnah yang dapat dilaksanakan umat Islam pada hari ini adalah Puasa Asyura, salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW.
Puasa Asyura memiliki kedudukan istimewa dalam Islam karena tidak hanya mengandung nilai ibadah, tetapi juga menyimpan pelajaran sejarah, keteladanan para nabi, serta pesan tentang rasa syukur kepada Allah SWT.
Bahkan, dalam berbagai hadis sahih disebutkan bahwa puasa pada hari Asyura memiliki pahala yang sangat besar, sehingga menjadi salah satu puasa sunnah yang paling dianjurkan setelah puasa Ramadan.
Di berbagai daerah di Indonesia, datangnya 10 Muharram juga sering disambut dengan berbagai kegiatan keagamaan, seperti pengajian, doa bersama, santunan anak yatim, kajian sejarah Islam, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan.
Tradisi tersebut menunjukkan bahwa Hari Asyura bukan hanya momentum ibadah pribadi, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat kepedulian sosial dan mempererat ukhuwah Islamiyah.
Hari Asyura adalah sebutan untuk tanggal 10 Muharram dalam kalender Hijriah.
Baca juga: Apakah Boleh Mengerjakan Amalan Puasa Asyura atau Tasua Saja? Simak Penjelasan dan Hukumnya
Istilah "Asyura" berasal dari bahasa Arab 'asyarah yang berarti "sepuluh", merujuk pada hari kesepuluh bulan Muharram, dikutip dari kabsleman.baznas.go.id.
Hari ini memiliki kedudukan khusus dalam sejarah para nabi.
Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Allah SWT memberikan pertolongan besar kepada Nabi Musa AS dan Bani Israil dengan menyelamatkan mereka dari kejaran Fir'aun.
Ketika Nabi Musa AS dan pengikutnya terdesak di tepi Laut Merah, Allah SWT memerintahkan beliau untuk memukul laut dengan tongkatnya.
Atas izin Allah, laut terbelah sehingga Nabi Musa AS dan kaumnya dapat menyeberang dengan selamat.
Setelah itu, Fir'aun dan pasukannya yang mengejar justru tenggelam ketika laut kembali menyatu.
Peristiwa besar tersebut menjadi simbol kemenangan kebenaran atas kezaliman serta bukti nyata bahwa pertolongan Allah akan datang kepada orang-orang yang beriman dan bersabar.
Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram sebagai bentuk syukur atas keselamatan Nabi Musa AS.
Rasulullah SAW kemudian bersabda bahwa umat Islam lebih berhak mengikuti ajaran Nabi Musa AS, sehingga beliau turut berpuasa dan menganjurkan para sahabat untuk melaksanakannya.
Pada bulan Muharram terdapat beberapa puasa sunnah yang dianjurkan, terutama Puasa Tasu'a dan Puasa Asyura.
Mengutip dari https://kotasemarang.baznas.go.id/, berikut jadwalnya:
Rasulullah SAW menganjurkan agar umat Islam tidak hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram, tetapi juga menambahkan puasa pada tanggal 9 Muharram.
Hal ini dilakukan untuk membedakan tradisi ibadah umat Islam dengan kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram.
Karena itu, sebagian ulama menyebut bahwa bentuk pelaksanaan yang paling utama adalah berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram secara berurutan.
Puasa Asyura hukumnya sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan.
Pada masa awal Islam, sebelum diwajibkannya puasa Ramadan, Puasa Asyura pernah memiliki kedudukan yang sangat penting.
Namun setelah Allah SWT mewajibkan puasa Ramadan, status Puasa Asyura berubah menjadi ibadah sunnah.
Meski tidak wajib, Rasulullah SAW tetap melaksanakan puasa tersebut hingga akhir hayat beliau.
Para sahabat juga menaruh perhatian besar terhadap ibadah ini karena mengetahui besarnya pahala yang dijanjikan Allah SWT.
Karena termasuk ibadah sunnah, seseorang tidak berdosa apabila tidak melaksanakannya.
Berikut beberapa keutamaan Puasa Asyura:
Keutamaan terbesar Puasa Asyura adalah menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah berlalu.
Rasulullah SAW bersabda:
"Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang lalu." (HR Muslim).
Hadis ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah SWT bagi hamba-Nya yang berusaha mendekatkan diri melalui ibadah.
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil.
Adapun dosa besar tetap memerlukan taubat yang sungguh-sungguh disertai penyesalan dan komitmen untuk tidak mengulanginya.
Puasa Asyura tidak hanya berkaitan dengan Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah perjuangan Nabi Musa AS.
Melalui ibadah ini, umat Islam diajak untuk meneladani keteguhan para nabi dalam menghadapi cobaan, mempertahankan kebenaran, dan tetap bersandar kepada Allah SWT dalam setiap keadaan.
Salah satu makna utama Puasa Asyura adalah rasa syukur.
Nabi Musa AS berpuasa sebagai ungkapan syukur atas keselamatan yang diberikan Allah SWT.
Rasulullah SAW kemudian menghidupkan amalan tersebut dan mengajarkannya kepada umat Islam.
Melalui puasa ini, umat Islam diajak untuk merenungkan berbagai nikmat yang telah diberikan Allah, mulai dari kesehatan, keluarga, rezeki, hingga kesempatan untuk terus beribadah.
Melaksanakan Puasa Asyura merupakan salah satu cara menghidupkan sunnah Rasulullah SAW.
Mengikuti sunnah Nabi tidak hanya mendatangkan pahala ibadah, tetapi juga menjadi bukti kecintaan seorang Muslim kepada Rasulullah SAW.
Dalam kehidupan modern yang penuh kesibukan, menghidupkan sunnah-sunnah seperti Puasa Asyura menjadi cara sederhana namun bermakna untuk menjaga hubungan spiritual dengan ajaran Islam.
Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Islam.
Karena itu, banyak ulama menganjurkan agar umat Islam memulai tahun baru Hijriah dengan berbagai amalan saleh.
Puasa Asyura menjadi salah satu bentuk pembuka tahun yang baik, sekaligus sarana introspeksi diri terhadap perjalanan hidup pada tahun sebelumnya.
Melalui ibadah ini, seorang Muslim dapat memperbarui niat, memperkuat komitmen dalam beribadah, dan memohon keberkahan untuk menjalani tahun yang baru.
Muharram termasuk salah satu bulan haram (al-asyhur al-hurum) yang dimuliakan Allah SWT.
Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak berbagai amal kebaikan seperti:
Puasa Asyura dapat menjadi pintu masuk untuk meningkatkan kualitas ibadah secara keseluruhan selama bulan Muharram.
(Tribunnews.com/Farra)