10 Muharam Tradisi Berbagi dengan Anak Yatim, Hukum Puasa Asyura
ferri amiril June 25, 2026 08:35 AM

 

TRIBUNPRIANGAN.COM – 10 Muharam Tradisi Berbagi dengan yatim. Sudah menjadi kebiasaan di berbagai daerah di Jabar pada 10 Muharam untuk berbagi dengan yatim.

Pada Kamis, 25 Juni 2026 besok, masyarakat Indonesia yang beragama Islam akan melaksanakan puasa Asyura yang bertepatan dengan tanggal 10 Muharam 1448 Hijriah. 

Puasa sunnah ini memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam karena dikenal memiliki keutamaan besar, salah satunya sebagai amalan yang dapat menghapus dosa-dosa kecil selama setahun yang lalu dengan izin Allah SWT. 

Menjelang pelaksanaannya, banyak umat Muslim mempersiapkan diri dengan memperbanyak ibadah, doa, dan amal kebaikan sebagai bentuk penghambaan serta upaya meningkatkan ketakwaan. 

Momentum puasa Asyura juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk memperkuat nilai-nilai keislaman, mempererat kebersamaan, dan mengisi bulan Muharam dengan berbagai amalan yang bermanfaat.

Namun apa jadinya jika umat Muslim yang akan melaksanakan ibadah puasa Asyura tapi masih punya utang puasa Ramadan?

Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 26 Juni 2026: Kilas Balik Peristiwa Asyura dan Amalan 10 Muharam

Baca juga: Jangan Lupa Puncak Puasa Asyura Besok, Begini Hukum dan Bacaan Niat Arabnya

Hukum Puasa Asyura Meski Punya Utang Puasa Ramadan

Nah Tribuners, untuk lebih jelasnya boleh atau tidaknya melaksanakan ibadah puasa Asyura tapi masih punya utang puasa Ramadan, mari kita simak hadist berikut ini:

Puasa Ramadan?

عن أبى سلمة قال،

سَمِعْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، تَقُولُ: كانَ يَكونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِن رَمَضَانَ، فَما أسْتَطِيعُ أنْ أقْضِيَ إلَّا في شَعْبَانَ. قَالَ يَحْيَى: الشُّغْلُ مِنَ النبيِّ أوْ بالنبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ

Dari Abu Salamah, mengatakan, bahwa beliau mendengar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,“Aku masih memiliki utang puasa Ramadan. Aku tidaklah mampu mengqadha’nya kecuali di bulan Sya’ban.” Yahya (salah satu perowi hadits) mengatakan bahwa hal ini dilakukan ‘Aisyah karena beliau sibuk mengurus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari no. 1950 dan Muslim no. 1146)

Baca juga: Penjelasan Puasa Asyura Tanpa Tasua di 10 Hari Awal Muharam

Baca juga: Puasa Asyura dan Tasua, Begini Bacaan Niatnya

Pelajaran yang terdapat dari hadist di atas:

Sebagaimana pelajaran dari hadits ‘Aisyah, beliau baru mengqadha’ puasanya saat di bulan Sya'ban.

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan menyegerakan mengqadha’ puasa Ramadan. Jika ditunda, maka tetaplah sah menurut para ulama muhaqqiqin, fuqaha dan ulama ahli ushul. Mereka menyatakan bahwa yang penting punya azam (tekad) untuk melunasi qadha’ tersebut.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 23).

Inilah pendapat terkuat dan lebih tepat yaitu boleh melakukan puasa sunnah sebelum qadha’ puasa selama waktunya masih lapang.

Kesimpulannya, masih boleh berpuasa Asyura meskipun memiliki utang puasa (qadha puasa). Asalkan yang punya utang puasa tersebut bertekad untuk melunasinya. Wallahu Ta’ala a’lam.

Baca juga: Bolehkan Kerjakan Puasa Asyura Tanpa Tasua di 10 Hari Awal Muharam, Begini Penjelasannya

Baca juga: Besok Ada Puasa Asyura dan Tasua, Segera Pasang Alarm di Malam 24 Juni 2026 Begini Niatnya

Tema hadist yang berkaitan dengan Al Quran:

Jika seseorang melakukan puasa sunnah sebelum qadha’ puasa, puasanya sah dan ia pun tidak berdosa. Karena analogi (qiyas) dalam hal ini benar. Untuk mengqadha’ puasanya di hari lainnya dan tidak disyaratkan oleh Allah Ta’ala untuk berturut-turut.

Seandainya disyaratkan berturut-turut, maka tentu qadha’ tersebut harus dilakukan sesegera mungkin. Hal ini menunjukkan bahwa dalam masalah mendahulukan puasa sunnah dari qadha’ puasa ada kelapangan.

Allah Ta’ala berfirman

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Artinya: “Dan barangsiapa yang sakit atau dalam keadaan bersafar (lantas ia tidak berpuasa), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” (QS. Al Baqarah: 185).

Perlu dipahami, dalam mengqadha’ puasa Ramadan, waktunya amat longgar, yaitu sampai Ramadhan berikutnya,

harinya bebas untuk menunaikan qadha’ puasa. Allah Ta’ala berfirman,

فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Artinya: “Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185).

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.