Profil Singkat I Made Dwi Sathya Kurniawan, Siswa asal Bali yang Lolos Paskibraka Nasional 2026
Putu Kartika Viktriani June 25, 2026 10:03 AM

TRIBUN-BALI.COM - I Made Dwi Sathya Kurniawan merupakan pelajar asal Kabupaten Badung yang berhasil lolos sebagai anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional 2026 mewakili Provinsi Bali.

Siswa SMAN 1 Kuta Utara kelahiran Badung, 8 Januari 2010 ini akan bertugas dalam Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara pada 17 Agustus 2026.

Perjalanan Made Dwi menuju tingkat nasional diawali dari seleksi di sekolah, kemudian berlanjut ke tingkat Kabupaten Badung, Provinsi Bali, hingga verifikasi nasional di Jakarta.

Sejak kecil, ia mengaku terinspirasi setelah sering menyaksikan prosesi pengibaran bendera di televisi dan bercita-cita menjadi bagian dari Paskibraka.

Pelajar yang memiliki hobi lari dan voli ini juga menyimpan mimpi besar untuk melanjutkan pendidikan ke Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) dan menjadi seorang praja.

Setelah dinyatakan lolos Paskibraka Nasional, Made Dwi kini membidik posisi Pasukan 8 sebagai pembentang bendera atau Komandan Kelompok 17 saat bertugas di Istana Negara.

Perjalanan Made Dwi menuju Istana Negara dimulai dari sekolah.

 

Ia mendapat kesempatan mengikuti seleksi berjenjang mulai dari tingkat Kabupaten Badung, seleksi Provinsi Bali, hingga akhirnya lolos ke tahap nasional di Jakarta.

Momen pengumuman dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menjadi salah satu yang paling berkesan.

Baca juga: Profil Ni Komang Gayatri, Siswi SMAN 1 Kubu Karangasem Bali yang Lolos Paskibraka Nasional 2026

Saat namanya diumumkan sebagai wakil Bali, hal pertama yang ia lakukan adalah membagikan kabar itu kepada kedua orang tuanya.

"Saat pengumuman saya langsung sampaikan ke orang tua. Itu rasa bangga yang saya rasakan. Kami sama-sama mendengarkan hasil pengumuman," katanya.

Pernah Minder dan Insecure, Kini Percaya Diri Membawa Nama Bali
Di balik keberhasilannya, Made Dwi mengaku sempat berjuang melawan rasa tidak percaya diri.

Ia pernah merasa minder dan mempertanyakan kemampuannya sendiri saat berada di tengah persaingan ketat.

Namun perlahan ia mencoba mengubah pola pikirnya.

Ia mengingat bahwa dirinya telah berhasil terpilih dari begitu banyak peserta terbaik di Bali.

"Saya awalnya minder, insecure. Tapi saya ingat lagi, saya di Bali terpilih dari banyaknya pendaftar. Saya harus yakin bahwa saya berhak dan layak berdiri di Istana Negara," jelasnya.

Dukungan dari kedua orang tuanya, I Putu Suryawan dan Ni Wayan Risnawati, menjadi salah satu sumber kekuatan terbesar selama proses tersebut.

Menurutnya, keluarga selalu hadir memberikan semangat, perhatian, dan dukungan tanpa henti.

Hobi Lari dan Voli, Pernah Jenuh Selama Karantina Semi-Militer
Di luar aktivitas sekolah dan latihan, Made Dwi dikenal menyukai olahraga.

Ia memiliki hobi lari dan bermain voli, yang turut membantu menjaga kondisi fisik selama mengikuti tahapan seleksi.

Namun perjalanan menuju nasional juga tidak selalu mudah.

Selama menjalani karantina dengan sistem semi-militer di Jakarta, ia sempat merasakan jenuh dan rindu rumah.

"Saya pernah jenuh, rindu rumah saat karantina. Tapi saya ingat lagi orang tua saya selalu mendoakan dan teman-teman juga menyemangati," tuturnya.

Ia juga menyebut perhatian keluarga terhadap pola makan dan kebutuhan nutrisi menjadi bagian penting yang membantunya bertahan.

Meski telah memastikan tempat di Paskibraka Nasional, Made Dwi ternyata sudah memiliki target berikutnya.

Ia berharap dapat dipercaya menempati posisi yang menurutnya sangat prestisius saat upacara kemerdekaan nanti.

"Jika saya boleh memilih untuk diposisikan di formasi mana, maka posisi yang saya pilih adalah Pasukan 8 sebagai pembentang bendera atau sebagai Komandan Kelompok 17. Itu posisi membanggakan," ujarnya.

Bagi Made Dwi, lolos ke tingkat nasional bukan garis akhir, melainkan awal untuk memberikan penampilan terbaiknya.

Ingin Jadi Praja IPDN Setelah Lulus Sekolah

Di balik disiplin dan semangatnya sebagai anggota Paskibraka, Made Dwi ternyata sudah menyiapkan mimpi berikutnya.

Ia ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi kedinasan dan menjadi praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Menurutnya, pengalaman sebagai Paskibraka menjadi langkah awal membentuk karakter kepemimpinan dan pengabdian kepada negara.

Kini, dari seorang anak yang dahulu hanya menyaksikan pengibaran bendera lewat televisi, Made Dwi bersiap menuliskan sejarah baru dengan berdiri langsung di halaman Istana Negara membawa nama Bali dan Indonesia.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.