Naskah Khutbah Jumat 26 Juni 2026/ 11 Muharam 1448 H: Jagalah Allah niscaya Allah Akan Menjagamu
ferri amiril June 25, 2026 01:35 PM

TRIBUNPRIANGAN.COM - Menjadi hamba yang menjaga batasan-batasan Allah ﷻ, adalah kewajiban tiap umat Muslim, terutama di akhir zaman seperti saat ini.

Arti dari kata menjaga adalah mematuhi perintah-perintah-Nya, dan menjaga diri dalam ketaatan kepada-Nya.

Ini merupakan pelengkap perjalan seorang hamba saat berada dalam dunia, karena Allah ﷻ pun akan menjaganya.

Diantara perkara yang paling agung dari perintah-perintah Allah agar dapat dijaga adalah shalat. Karena shalat adalah tiang penegak agama dan rukun islam yang paling agung setelah 2 kalimat syahadat.

Selain itu, penjagaan Allah ﷻ yang akan didapat oleh seorang hamba yang telah bersungguh sungguh menjaga batasan-batasan Allah ﷻ tersebut ada 2 macam, yaitu: Bentuk pertama dari pejagaan Allah ﷻ adalah penjagaan-Nya bagi orang tersebut dalam perkara-perkara dunia.

Ini penting untuk selalu diingatkan bagi tiap muslim, agar lebih bisa menjaga dirinya dan keluarganya hanya karena Allah.

Berikut ini terdapat 1 topik yang bisa untuk diangakat dalam penyampaian Khtuabah Jumat esok hari.

Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 26 Juni 2026: Inilah Sifat-sifat Muslim Sejati

Khtubah Pertama

Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah ...

Marilah bersama-sama kita panjatkan puji serta syukur kita kepada Allah swt, yang senantiasa memberikan berbagai macam kenikmatan kepada kita, kenikmatan yang begitu banyak sehingga tidak ada kemampuan bagi kita untuk menghitungnya. Salah satu diantar kenikmatan yang besar itu adalah, pada hari ini kita melaksanakan ibadah Shalat jumat berjamaah di masjid ini ditengah-tengah wabah virus covid-19 yang kitapun belum tahu kapan wabah ini akan benar-benar berakhir. 

Shalawat serta salam, semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi besar, Muhammad saw. Juga kepada keluarganya, kepada para sahabatnya, dan juga kepada seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Pada kesempatan ini pula kami tidak lupa untuk berwasiat kepada diri kami sendiri khususnya, dan juga kepada para hadirin sekalian, untuk berusaha meningkatkan ketaqwaan kita, dengan cara melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangan-Nya. Karena, kelak saat kita menghadap ilahi rabbi, sebaik-baik bekal adalah bekal ketaqwaan yang kita miliki.

Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah ...

Ada sebuah nasihat yang pernah disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, yang tidak lain beliau adalah putra dari pamannya. Nasihat tersebut terekam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Tirmidzi;

يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ

Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika  Engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. (H.R Tirmidzi)

Lantas, apa dan bagaimana bentuk penjagaan kita terhadap hal-hak Allah tersebut?

Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah ...

Disebutkan dalam Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam yang ditulis oleh Syaikh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, yang dimaksud menjaga hak Allah di sini adalah dengan melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan tidak melampaui batas dari batasan yang telah ditetapkan-Nya. Beberapa bentuk penjagaan tersebut diataranya adalah;

Pertama, menjaga shalat kita. Hal ini merupakan pondasi yang sangat mendasar bagi seorang muslim sebagai bentuk penjagaan diri kita terhadapa perintah-perintah Allah SWT. Mendirikan Shalat, khususnya shalat lima waktu merupakan ibadah wajib yang harus dilaksanakan umat setiap muslim. Menunaikan shalat adalah salah satu bentuk keimanan kita kepada Allah SWT. Meninggalkannya jelas kerugian besar bagi kita dan ancaman Allah sangat pedih bagi mereka yang meninggalkanna. 

Oleh sebab itu, shalat adalah bentuk perkara yang paling penting untuk kita dijaga, karena shalat juga merupakan tiang agama sebagaimana sabda Rasulullah SAW;

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ

“Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi)

Selain daripada itu, yang harus selalu kita ingat bahwa amal ibadah yang dihitung pertama kali pada hari kiamat kelak adalah, shalat. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW;

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ.

“Sesungguhnya yang pertama kali dihisab dari amal seorang hamba pada hari Kiamat adalah shalat. (HR. at-Tirmidzi, no. 413).

Hadirin yang dirakhmati Allah SWT

Penjagaan yang kedua adalah menjaga kepala dan perut. Bentuk penjagaan kepala kita adalah dengan menjaga pendengaran dan penglihatan kita dari berbagai keharaman. Sedangkan bentuk penjagaan perut kita adalah dengan menjaga kehalalan dari berbagai makanan dan minuman yang masuk ke dalamnya.

Karena sesungguhnya halal haramnya makana dan minuman yang masuk kedalam tubuh kita sangat berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas amal ibadah kita kepada Allah SWT. Sebagaimana yang difirmankan Allah SWT;

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang thoyyib (yang baik), dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mu’minun: 51). 

Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 26 Juni 2026/ 11 Muharam 1448 H: Hal yang Dipertanggung Jawabkan di Akhirat

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala pada ayat ini memerintahkan para rasul ‘alaihimush sholaatu was salaam untuk memakan makanan yang halal dan beramal sholeh. Penyandingan dua perintah ini adalah isyarat bahwa makanan yang halal adalah pembangkit amal shaleh.

Hadirin yang dirakhmati Allah SWT

Bentuk penjagaan yang ketiga adalah, menjaga lisan dan kemaluan kita. Ketika Rasulullah SAW ditanya tentang (dosa) yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam neraka. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الفَمُ وَالفَرْجُ

“(Dosa) Lisan dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi)

Berapa banyak orang-orang disekitar kita yang tersakiti, lantaran kita tidak mampu menjaga lisan kita. Berapa banyak terjadi perselishan disebabkan karena lisan kita. Oleh sebab itu, Rasulullah SAW memerintahkan kepada kita untuk selalu menjaga lisan kita dengan mengatakan yang baik-baik saja. Jika kita tidak mampu melakukannya, maka hendaklah kita diam. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulllah SAW;

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka katakanlah perkataan yang baik atau jika tidak maka diamlah. (Muttafaqun ‘alaihi).

Begitu juga, hendaklah kita menjaga kemaluan kita, dengan berupaya untuk menjauhi hal-hal yang dapat menjerumuskan kita dalam kemaksiatan.

Penjagaan yang keempat adalah, berusaha menjaga diri kita agar selalu dalam keadaan suci atau dalam keadaan berwudhu. Kondisi ini tidak hanya kita lakukan saat hendak akan shalat saja, akan tetapi diluar aktifitas shalat kita. Sebagaimana kita bisa melihat bagaimana keutamaan Bilal bin Rabah yang selalu menjaga wudhunya dan dilanjutkan shalat Sunnah dua rakaat setelah wudhu, sehingga Allah perdengarkan terompahnya di Surga, padahal Bilal masih berada di dunia. 

Oleh sebab itu, mari kita selalu senantiasa menjaga wudhu kita, tidak hanya saat akan shalat saja, tapi juga pada saat berkatfitas yang lain.

Hadirin Jamaah shalat jumat yang dirahmati Allah SWT;

Setelah kita menjaga hak-hak kita kepada Allah SWT, lantas bagaimana bentuk balasan penjagaan Allah kepada kita?

Pertama, Allah akan menjaga hamba tersebut dalam kebaikan untuk urusan-urusan dunianya seperti penjagaan pada kesehatan badannya, anak-anaknya, keluargana, dan hartanya. Sebagaimana disebutkan dalam surat Ar-Ra'du;

لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٌ مِّنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦ يَحْفَظُونَهُۥ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (QS. Ar-Ra’du: 11).

Kedua, bentuk penjagaan Allah adalah, Allah akan menjaga anak keturunannya sehingga menjadi keturunan yang saleh dan selalu taat pada Allah. Hal ini dapat kita lihat kisah dua anak yatim yang mendapat penjagaan Allah melalui nabi Khidir dan nabi Musa dari karena ayahnya adalah orang yang saleh. Kisah ini diabaddikan oleh Allah dalam surat Al-Kahfi ayat 82;

وَأَمَّا ٱلْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَٰمَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِى ٱلْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُۥ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحًا

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan dibawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh.” (QS. Al-Kahfi: 82).

Ketiga, yang paling utama dan paling mulia, Allah akan menjaga dalam perkara agama dan imanya. Allah akan menjaga kehidupannya dari berbagai hal-hal yang syubhat dan syahwat yang haram. Allah akan menjaga agamanya ketika akhir hayatnya sehingga orang tersebut meninggal dalam keadaan beriman.

Itulah balasan Allah bagi orang-orang yang menjaga hak-hakNya. Oleh sebab itu, marilah kita jaga hak-hak Allah, sehingga kelak Allah akan menjaga kita. Semoga Allah selalu memberikan kita kemampuan dan kekuatan untuk menjaga hak-hak-Nya serta mendapatkan penjagaan Allah yang sempurna.

أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ

Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 26 Juni 2026/ 11 Muharam 1448 H: Sikap Seorang Muslim terhadap Musibah

Khutbah Kedua

الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ !! اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Hadirin yang dirakhmati Allah SWT, pada khutbah yang kedua ini, kami mengajak kepada para hadirin untuk berusaha menjaga hak-hak Allah atas diri kita, dengan harapan bahwa kelak Allah SWT akan menjaga kita, dan keturunan kita, karena sebaliknya, Ketika kita tidak mampu menjaga hak-hak Allah atas diri kita, maka Allahpun tidak akan menjaga kita. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam syarah Al-Arba’in Nawawiyah

مَنْ لَمْ يَحْفَظِ اللهَ فَإِنَّهُ لاَ يَسْتَحِقٌّ أَنْ يَحْفَظَهُ اللهُ عَزَّوَجَلَّ

“Siapa saja yang tidak menjaga hak Allah, berarti ia tidak mendapatkan penjagaan dari Allah ‘azza wa jalla.” (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hlm. 225)

Semoga Allah Azza wajallah selalu memberikan kemampuan kepada kita untuk selalu dalam ketaatan kepada Allah SWT. Amiiin . . . . .

اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ ، وَالجُنُونِ ، والجُذَامِ ، وَسَيِّيءِ الأسْقَامِ 

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.