Kejar Adaptasi Teknologi, Guru SD di Bantul Dilatih Gunakan AI dan Platform Web
Hari Susmayanti June 25, 2026 02:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dinamika pendidikan dasar masa kini menuntut ruang kelas untuk bergerak lebih cepat.

Bayang-bayang metode konvensional mulai ditinggalkan demi membentuk generasi yang tak gagap teknologi.

Namun, di lapangan, transisi ini kerap berbenturan dengan kenyataan, masih banyak ruang kelas yang terjebak pada lembaran buku teks fisik.

Kondisi inilah yang terekam di SD Muhammadiyah Senggotan, Bantul, DI Yogyakarta.

Meski memiliki tenaga pendidik usia produktif, kualitas konten pembelajaran di sekolah ini sempat jalan di tempat.

Hasil observasi menunjukkan 85 persen guru masih mengandalkan buku teks fisik secara penuh, sementara 15 persen sisanya menggunakan salindia presentasi yang statis dan searah.

Merespons ketimpangan antara tuntutan zaman dan realitas di ruang kelas, sebuah inisiatif transformasi digital mulai dibangun.

Lewat pendanaan hibah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun 2026, tim pengabdian masyarakat dari Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) turun tangan membongkar sekat-sekat konvensional tersebut.

Menggandeng 12 guru sebagai mitra strategis, program bertajuk "Pendampingan Literasi Digital dan Pengelolaan Platform Edutech Berbasis Web bagi Guru" ini dirancang bergulir selama delapan bulan, sejak April hingga November 2026.

Pakar literasi digital, Dr. Rila Setyaningsih, S.Kom.I., M.S.I., memimpin langsung tim ini. Ia didampingi oleh pakar sistem informasi Albert Yakobus Chandra, S.Kom., M.Eng., MTA., MCE., MCF., akademisi penyiaran Rahma Novita Alim Putri, S.Sos., M.A., serta melibatkan dua mahasiswa Ilmu Komunikasi UMBY, Afit Setyo Nugroho dan Naili Inayah Wulandari.

Baca juga: Embarkasi YIA Berbasis Hotel Jadi Percontohan Nasional, Skrining "Istithaah" Tekan Risiko Kesehatan

Bagi Rila dan timnya, adopsi teknologi di sekolah dasar bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan jembatan wajib bagi gaya belajar generasi hari ini.

"Kami mengembangkan platform sdmustika.id agar sekolah memiliki sistem yang mandiri. Melalui pendampingan yang berjalan hingga November nanti, kami berkomitmen memastikan platform ini menjadi ekosistem belajar yang hidup dan berkelanjutan," ujar Rila.

Langkah paling krusial dalam transformasi ini adalah ketersediaan infrastruktur digital yang aman dan dapat dikendalikan sepenuhnya oleh pihak sekolah. Albert Yakobus Chandra merancang dan membangun platform Learning Management System (LMS) bernama sdmustika.id dari nol. Keputusan menghindari pihak ketiga ini diambil untuk menjamin keamanan data guru dan siswa, serta memberikan ruang kustomisasi kurikulum yang spesifik sesuai kebutuhan lokal sekolah.

Sistem edutech berbasis web ini dibekali ragam fitur terintegrasi, mulai dari menu Materi dan Tugas untuk pengelolaan modul daring, hingga Kuis Interaktif dengan batasan waktu nyata.

“Selain itu, platform ini juga menyediakan Forum Diskusi sebagai ruang interaksi daring antara guru dan murid, serta Laporan Kinerja yang mempermudah guru memantau perkembangan akademis siswa secara transparan. Keunggulan utama dari platform ini terletak pada desain antarmukanya yang ramah anak (child-friendly), sehingga mudah dioperasikan oleh siswa sekolah dasar,” jelas Albert.

Namun, teknologi secanggih apa pun akan menjadi monumen mati jika tidak diimbangi dengan kapasitas sumber daya manusianya.

Sepanjang Juni 2026, para pendidik di SD Muhammadiyah Senggotan ditempa melalui tiga sesi pelatihan intensif.

Pada Sesi I, Dr. Rila Setyaningsih membongkar paradigma guru melalui praktik tools AI Canvas untuk menyusun materi interaktif, yang mencatatkan lonjakan pemahaman peserta sebesar 7,53 persen. 

Pada Sesi II, Rahma Novita melatih produksi video instruksional menggunakan AI generatif dan CapCut, yang sukses menaikkan pemahaman peserta hingga 15,9 persen. Rangkaian ini ditutup pada Sesi III (24/6/2026), Albert Yakobus memandu langsung pengelolaan LMS sdmustika.id.

Inisiatif ini membawa angin segar bagi metode pengajaran. Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Senggotan, Arowiyah, mengakui bahwa program ini mengubah wajah pembelajaran di sekolahnya menjadi jauh lebih atraktif.

Meski demikian, migrasi ke ranah digital bukannya tanpa kerikil. Eko Yudiarso, salah satu guru, menyebut fitur materi dan tugas pada LMS sangat mengubah cara mereka mengajar, tetapi kendala infrastruktur dasar masih menjadi tantangan yang tak bisa diabaikan.

"Setelah mengikuti pelatihan, kami merasa sangat terbantu di era digital ini. Hambatan teknis sejauh ini hanya pada ketersediaan koneksi internet selama menggunakan LMS, terutama saat proses upload materi yang membutuhkan jaringan stabil," tutur Eko menceritakan realitas di lapangan.

Dari kacamata siswa, sentuhan teknologi ini adalah bahasa yang paling mereka pahami. Sebagai langkah awal penyelarasan ekosistem, 15 siswa dilatih secara langsung untuk mengakses materi dan mengumpulkan tugas secara digital. Shakila, salah satu siswa yang mengikuti uji coba, merepresentasikan bagaimana antusiasme generasi muda ketika ruang kelas beradaptasi dengan dunia mereka.

"Lebih suka di LMS karena menarik, materinya bisa diklik dan ada suaranya jadi tidak bosan. Waktu kerja kuis juga menantang karena ada batas waktu di layar, nilainya langsung keluar, dan di akhir ada kunci jawabannya," ungkap Shakila antusias.

Kini, tantangan terbesar bagi SD Muhammadiyah Senggotan adalah konsistensi. Agar transformasi ini tidak menguap setelah masa pengabdian UMBY berakhir di bulan November, pihak sekolah dan tim akademisi telah merumuskan langkah mitigasi.

Sebuah tim Admin LMS yang diisi oleh tenaga internal sekolah telah dibentuk dan segera disahkan melalui Surat Keputusan (SK) Kepala Sekolah.

Langkah ini menjadi garansi bahwa denyut nadi ekosistem belajar digital di sekolah tersebut akan terus berdetak secara mandiri. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.