TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Proyek pembangunan Groundsill Srandakan Sungai Progo di perbatasan Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul dengan Kapanewon Galur, Kabupaten Kulon Progo, telah mencapai 77,358 persen.
Pengerjaan tersebut ditargetkan rampung pada 31 Desember 2026 mendatang.
PPK Pekerjaan Groundsill Sungai Pantai II Balai Besar Wilayah Serayu Opak (BBWSO) DI Yogyakarta, Dicky Maulana, menyampaikan progres pengerjaan Groundsill Srandakan tergolong surplus dari rencana dan tinggal menyisakan pengerjaan sekitar 22,642 persen.
"Metode pembangunan yang kami lakukan dimulai dari sisi sebelah Kulon Progo dulu dan saat ini untuk segmen tahap kedua kami melaksanakan di sisi sebelah kiri (dekat dengan Kabupaten Bantul)," katanya, di kantor Pengerjaan Groundsill Srandakan, Kamis (25/6/2026).
Disampaikannya, proyek itu sudah dimulai sejak 10 Oktober 2025 melalui Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal SDA BBWSO DIY.
Pengerjaan proyek groundsill sepanjang 300 meter tersebut memakan anggaran Rp213,469 miliar.
Pengerjaan itu dilakukan mengingat pada awal tahun 2025 silam, badan Groundsill sisi kiri dan apron runtuh sekitar 150 meter.
Groundsill Srandakan dibangun untuk mengendalikan penurunan dasar atau degradasi sungai dan kecepatan aliran sungai yang berpotensi menyebabkan gerakan pada tebing sungai.
Selain itu juga untuk melindungi bangunan yang berada di hulu yaitu Bendung Saphon Jembatan Srandakan yang sangat berperan penting dalam menyukseskan program swasembada pangan.
Kendati demikian, pihaknya mengakui bahwa pembangunan tersebut sempat mengalami kendala.
Sebab, awal pembangunan berlangsung pada musim hujan dan keberadaan Groundsill Srandakan ini mendekati bagian hilir atau muara Sungai Progo.
Baca juga: Kejar Adaptasi Teknologi, Guru SD di Bantul Dilatih Gunakan AI dan Platform Web
Kendati begitu, masalah tersebut disebut-sebut sudah teratasi dengan baik, sehingga pengerjaan dilakukan.
"Pada waktu pertama kali pembangunan karena di Sungai Progo ini sudah mendekati di bagian hilir, jadi pada waktu musim penghujan memang ada kendala terkait dengan tinggi muka air. Jadi kemarin sempat ada debit air besar, yang melewati Sungai Progo, sehingga kemarin sempat terkendala tapi alhamdulillah masih bisa kita atasi," papar dia.
Lebih lanjut, Dicky menyebut untuk waktu pengerjaan emas pada tahun 2026 ini berada pada Juni sampai Agustus, sebab sedang berlangsung musim kemarau.
Harapannya, selama bulan tersebut sisa pengerjaan Groundsill Srandakan dapat tersambung, sehingga pada bulan selanjutnya tinggal mengerjakan bangunan pelengkap.
Adapun pengerjaan tersebut juga sempat dilakukan pengecekan oleh DPRD DIY .
Wakil Ketua Komisi C DPRD DIY, Amir Syarifudin, menyebut pengecekan dilakukan untuk memastikan pengerjaan Groundsill Srandakan berjalan dengan baik dan sesuai tenggat waktu.
"Tahun 2026 pada Juni, Juli, Agustus menjadi bulan emas atau tidak banjir (bagi BBWSO dalam menyelesaikan proyek pembangunan Groundsill Srandakan). Jadi, pembangunan diharapkan bisa terselesaikan pada akhir 2026. Harapan kami ya karena Sungai Progo itu sangat vital untuk perairan, untuk air bersih, dan lain sebagainya," papar dia.
Anggota Komisi C DPRD DIY, Aslam Ridlo, mengaku senang Groundsill Srandakan baru ini mempunyai spesifikasi lebih baik dari keberadaan groundsill sebelumnya.
Salah satunya, di bawah pondasi Groundsill Srandakan ini memiliki tiang sepanjang 12 meter.
"Sebenarnya masih kita harapkan tambahan konstruksi di groundsill baru ini. Jadi, nilai konstruksi punya nilai ketahanan yang lama. Groundsill yang lama menjadi catatan untuk groundsill yang baru," tuturnya.
Selain itu, pihaknya turut menyinggung terkait suplai sedimen dari Merapi ke hilir dan kegiatan penambangan.
Setidaknya, sejumlah instansi terkait diharapkan dapat bersinergi memikirkan agar kegiatan penambangan tidak berdampak pada konstruksi Groundsill Srandakan.
Anggota Komisi C DPRD DIY, Lilik Saiful Ahmad, turut mengajak masyarakat umum dan masyarakat penambang di area Kali Progo untuk menjaga Groundsill Srandakan demi kepentingan bersama.
Apalagi keberadaan Groundsill Srandakan juga untuk menjaga konstruksi Jembatan Srandakan (utara Groundsill Srandakan) .
"Kita bangun groundsill bersama dengan pemerintah pusat itu salah satunya untuk menjaga konstruksi Jembatan Srandakan dan juga untuk menjaga ketersediaan air yang masuk ke wilayah sekitarnya untuk irigasi pertanian dan lain sebagainya," tandas dia.(*)