Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Komunitas Oranje Bali menggelar aksi nonton bareng (nobar) perdana di jam kerja demi mengawal laga penentu Timnas Belanda melawan Tunisia di matchday ketiga Grup F Piala Dunia 2026, Jumat 26 Juni 2026 pagi.
Laga krusial yang dijadwalkan berlangsung pukul 07.00 WITA di Berrys Beer House, Jalan Teuku Umar Barat, Denpasar ini memicu antusiasme unik dari para pencinta sepak bola di Bali.
Pengurus bahkan secara khusus mengimbau para peserta untuk membawa pakaian kerja agar bisa langsung melanjutkan aktivitas kantoran setelah peluit panjang ditiup.
Pendiri Oranje Bali, Krishna Wirawan, mengungkapkan bahwa agenda kali ini menjadi pengalaman pertama bagi komunitasnya mengadakan nobar di hari kerja sejak resmi berdiri.
Baca juga: Pemkab Jembrana Bentuk Tim Bersama dengan Kanwil DJP Bali, Upaya Optimalkan Penerimaan Pajak
Berbagai siasat pun dilakukan oleh para anggota demi bisa memberikan dukungan langsung kepada tim berjuluk De Oranje tersebut.
"Untuk mengakali jam kerja, ada teman-teman yang sengaja mengatur waktu libur atau cuti mereka jauh-jauh hari," kata Krishna kepada Tribun Bali, pada Kamis 25 Juni 2026.
Dirinya menambahkan bahwa performa impresif Belanda dalam dua laga awal menjadi magnet utama yang menjaga gairah para pendukung tetap menyala tinggi.
Pihak pengurus pun mengaku sangat optimis Berrys Beer House akan dipadati oleh para penggemar sejak subuh.
Baca juga: Ala Ayuning Dewasa Jumat 26 Juni 2026 Sesuai Kalender Bali, Sukra Wage Kuningan
Untuk menyemarakkan atmosfer subuh di Denpasar, panitia telah menunjuk beberapa koordinator sorak yang siap memimpin jalannya laga.
Mereka berkomitmen membuat tempat nobar bergelora layaknya stadion di Amerika Serikat.
"Beberapa rekan yang sudah hafal lagu kebangsaan anthem dan yel-yel dipastikan akan tetap 'berisik' untuk membuat suasana menjadi lebih hidup dan ramai," ujar Krishna.
Komunitas ini dibentuk pertama kali saat momentum Piala Eropa 2012 oleh Krishna Wirawan bersama rekan-rekannya, komunitas ini justru lahir dari rahim persilangan berbagai fan klub raksasa Eropa di Bali.
"Kami sebenarnya berasal dari berbagai latar belakang fan klub yang berbeda-beda. Saya sendiri dari Milanisti Indonesia, lalu om Rio dari Indonesian Manchester United," beber Krishna.
Ia menjabarkan beberapa nama tokoh pendiri lain seperti Om Dein dari UI Bali, Om Hafid dari Roma Club Bali, hingga Om Aba dari Chelsea Indo yang melebur menjadi satu di bawah bendera Oranje Bali.
Meski tidak menyiapkan selebrasi khusus untuk matchday ketiga ini karena fokus mempersiapkan agenda besar di babak 32 besar sistem gugur, optimisme meraih trofi tertinggi tetap membumbung tinggi di dada mereka.
"Tagar Belanda Juara adalah jargon yang selalu kami gaungkan setiap turnamen yang diikuti. Kami sangat yakin edisi kali ini Belanda akan berdiri di puncak tertinggi," tutur Krishna.
Senada dengan Krishna, Koordinator Lapangan Oranje Bali, Rio Levy Bintoro, menekankan bahwa kehadiran penonton dalam nobar ini didasari oleh loyalitas murni.
Baca juga: Miyako Cari Desain Terbaik untuk Rice Cooker Charity Edition, Ini Syaratnya
Ia percaya daya pikat timnas Belanda akan selalu menggerakkan hati para anggotanya.
"Kami memang tidak mengharuskan untuk nobar, tapi kita yakin akan tetap banyak yang berpartisipasi karena kami percaya para fans Oranje adalah loyalis sejati," tegas Rio.
Rio juga menimpali bahwa suara lantang tersebut sangat penting untuk menyuntikkan energi positif antar sesama pendukung.
"Teriakan yang antusias itu sekaligus memberikan semangat membara antar sesama fans Oranje yang hadir," sambungnya.
Menariknya, Oranje Bali sendiri memiliki latar belakang historis yang sangat solid dan inklusif.
Saat ini, mereka resmi berafiliasi dengan Oranjeindo sebagai induk komunitas nasional yang berpusat di Jakarta.
Sebagai komunitas terbuka, Oranje Bali tidak menerapkan sistem keanggotaan formal yang kaku demi menjaring basis massa yang lebih luas.
Fleksibilitas ini bahkan kerap menarik perhatian warga asing yang sedang berlibur di Pulau Dewata.
"Siapa pun kalian fans Oranje silahkan langsung gabung di acara nobar kami. Pada edisi Euro 2024 lalu, sering sekali rekan ekspatriat asal Belanda ikut membaur dalam kegiatan nobar kami," kata Rio.
Ia menyadari rekam jejak pahit tiga edisi final Piala Dunia terdahulu sempat menyisakan luka, namun turnamen tahun 2026 diyakini menjadi titik balik kebangkitan total armada De Oranje.
"Untuk tahun 2026 ini kami sangat yakin Belanda akan melaju kembali ke babak final dan tidak akan mengulangi pengalaman pahit di tahun 2010 silam," pungkas Rio.
Kedua pengurus ini melayangkan ajakan hangat namun jenaka bagi seluruh pencinta warna oranye di Bali agar tidak melewatkan momentum kebersamaan esok hari.
"Yuk kita semua datang ke Berrys Beer House jam 7 pagi, tidak usah takut mager karena kita semua mendukung tim yang sama dan siap seru-seruan bersama. Setelah peluit akhir, baru kita kerja!" seru Rio dan Krishna. (*)