Aliansi Masyarakat Peduli Kota Tarakan Minta MBG Tetap Dilanjutkan, Petani Lokal Rasakan Dampaknya
Junisah June 25, 2026 02:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Koordinator Aksi Aliansi Masyarakat Peduli Kota Tarakan, Setiawan, menegaskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG)  tetap  harus dilanjutkan karena manfaatnya tidak hanya dirasakan para penerima makanan bergizi, tetapi juga oleh berbagai sektor masyarakat, termasuk petani lokal.

Hal ini disampaikan Setiawan usai aksi damai yang digelar di depan Kantor DPRD Tarakan, Kamis (25/6/2026) dalam wawancaranya bersama awak media.

Setiawan menjelaskan Aliansi Masyarakat Peduli Kota Tarakan terdiri dari berbagai elemen yang selama ini terlibat langsung maupun tidak langsung dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.

Ia menyebutkan hari ini dari Aliansi Masyarakat Peduli Kota Tarakan hadir terdiri dari mitra BGN, relawan, ada petani, nelayan, pedagang, UMKM, kader posyandu, dan elemen masyarakat yang ada di Kota Tarakan yang terlibat secara langsung dan tidak langsung dengan Program Makan Bergizi Gratis.

Baca juga: DPRD Tarakan Teruskan Aspirasi Massa Pendukung MBG ke Pusat, Simon Patino: Tetap Jaga Kondusivitas

Menurut Setiawan, hampir seluruh pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sudah beroperasi di Tarakan turut memberikan dukungan dalam aksi tersebut.

"Hampir semua ikut. Ada yang sudah running, kurang lebih 22 SPPG," ujarnya.

Ia menyebut jumlah penerima manfaat yang telah terlayani melalui 22 dapur MBG yang beroperasi saat ini mencapai puluhan ribu orang.

"Yang sudah menerima manfaat itu kurang lebih, kalau 22 dapur yang sudah running, berarti kali kurang lebih 3.000. Jadi satu dapur itu rata-rata 3.000 penerima manfaat, berarti kali 22 dapur yang sudah jalan. Dari kurang lebih 34 dapur yang akan running di Kota Tarakan," jelasnya.

Selain penerima manfaat langsung, Setiawan mengatakan program MBG juga memberikan dampak ekonomi bagi para petani lokal yang memasok kebutuhan bahan pangan ke dapur-dapur MBG.

Menurutnya, terdapat dua pola distribusi hasil pertanian yang selama ini berjalan.

Baca juga: Aliansi Masyarakat Peduli Kota Tarakan Dukung Penuh MBG, Berikut 8 Poin Pernyataan Sikap ke Presiden

"Kalau yang langsung itu dari dapur, ada yang langsung menjual, petani ada yang menjual ke dapur. Ada juga yang petani menjual ke pasar, pasar baru ke dapur," katanya.

Ia menjelaskan berbagai jenis komoditas lokal yang banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan dapur MBG, mulai dari sayuran hingga buah-buahan.

"Itu contohnya, kalau sayur-sayuran itu ada kacang panjang, ada buncis, ada pakcoy, ada selada, jagung. Kalau sayur-sayuran ini. Terus kalau buah-buahan itu untuk di Kota Tarakan rata-rata petani semangka dan melon plus pepaya," ujarnya.

Setiawan bahkan menyebut kebutuhan buah semangka untuk program MBG sangat besar dan mampu menyerap hasil pertanian lokal dalam jumlah signifikan.

"Hampir 100 persen terserap di dapur, karena setiap satu dapur itu seminggu kurang lebih. Kalau semangka itu kurang lebih 300 kilogram setiap dapur. Kalau seandainya 22 dapur itu sehari memakai semangka semua, berarti ada 22 kali 300 kilogram," katanya.

Meski demikian, ia mengakui kebutuhan bahan pangan untuk mendukung program MBG masih belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh produksi lokal.

"Nah, itu kekurangan. Jadi masih banyak lagi diperlukan petani-petani yang nantinya untuk bercocok tanam, menanam semangka, baik sayur-sayuran. Karena ini masih kekurangan," jelasnya.

Akibat tingginya kebutuhan tersebut, sejumlah bahan pangan masih harus didatangkan dari luar daerah.

"Banyak yang dari luar daerah. Ketika Tarakan tidak ada, kita mengambil dari Berau, dari Sulawesi, dari Tanjung Selor, dari Malinau. Jadi hampir semua daerah ini berebut," ujarnya.

Menurut Setiawan, kondisi itu terjadi karena Program Makan Bergizi Gratis juga berjalan di berbagai daerah lain sehingga kebutuhan bahan pangan meningkat secara bersamaan.

"Karena di semua daerah juga MBG berjalan. Jadi hampir rata-rata kekurangan," katanya.

SAMPAIKAN DUKUNGAN MBG - Koordinator Aliansi Masyarakat Peduli Kota Tarakan menyampain poin aspirasinya kepada DPRD Tarakan untuk diteruskan ke Presiden RI, Kamis (25/6/2026).
SAMPAIKAN DUKUNGAN MBG - Koordinator Aliansi Masyarakat Peduli Kota Tarakan menyampain poin aspirasinya kepada DPRD Tarakan untuk diteruskan ke Presiden RI, Kamis (25/6/2026). (TribunKaltara.com/Andi Pausiah)

Sebagai pelaku mitra SPPG, Setiawan mengaku melihat secara langsung tingginya kebutuhan bahan baku yang harus dipenuhi setiap dapur.

Ia menyebut banyak petani lokal yang telah menjadi pemasok tetap untuk dapur yang dikelolanya.

"Jadi petani yang memasok di dapur saya itu ada petani pakcoy, ada petani kacang panjang, ada petani buncis, ada petani jagung, terus ada petani tomat, ada petani buah-buahan," ungkapnya.

Mayoritas pasokan tersebut berasal dari petani lokal karena dinilai lebih efektif menjaga kualitas bahan pangan.

"Lokal semua. Otomatis lokal. Tapi dari luar daerah agak sulit. Karena ini kalau dari luar daerah memerlukan waktu yang panjang, otomatis di sini sudah nggak fresh dan nggak segar lagi bahan baku ini," jelasnya.

Karena itu, Setiawan berharap keberlanjutan program MBG dapat semakin mendorong pertumbuhan sektor pertanian lokal dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.

"Jadi berharap petani-petani lokal ini dengan adanya MBG, itu semakin berdaya dan dapat manfaatnya yang luar biasa," katanya.

Di akhir pernyataannya, Setiawan menegaskan sikap Aliansi Masyarakat Peduli Kota Tarakan yang meminta agar Program Makan Bergizi Gratis tetap dilanjutkan.

Ia juga meminta penegakan hukum terhadap pelaku korupsi tetap dilakukan untuk menyelesaikan berbagai persoalan di Indonesia.

"Kesimpulannya, MBG ini dari Aliansi Masyarakat Peduli Kota Tarakan ingin tetap dilanjutkan, dan juga masalah penangkapan koruptornya itu harus tetap juga dilanjutkan," tukasnya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.