Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna
TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Di tengah semakin berkembangnya akses jalan darat, penyeberangan tradisional di Sungai Citanduy masih menjadi pilihan sejumlah warga di perbatasan Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, dan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
Sungai Citanduy sendiri merupakan satu sungai besar yang melintasi wilayah Tasikmalaya, Ciamis, Kota Banjar, Pangandaran, hingga Cilacap.
Salah satu sungai utama di Pulau Jawa ini membentang sepanjang 180 km. Berhulu di Jawa Barat, sungai ini menjadi batas alami dengan Jawa Tengah dan bermuara di kawasan Segara Anakan. Alirannya menjadi urat nadi kehidupan, mendukung pertanian, penyediaan air baku, dan pengendalian banjir.
Hulunya terletak di antara Gunung Sawal dan Gunung Galunggung, sedangkan muaranya berada di laguna Segara Anakan, Kabupaten Cilacap, yang berbatasan langsung dengan perairan selatan Jawa.
Baca juga: Pria Diduga Akhiri Hidup di Jembatan Cirahong, Tim Gabungan Sisir Sungai Citanduy Cari Korban
Baca juga: Ternyata Mayat Pria di Sungai Citanduy Sopir Online Maxim, Polisi Selidiki Dugaan Pembunuhan
Di antara arus perkembangan zaman, rakit bambu di sungai ini masih bertahan sebagai penghubung kehidupan di dua provinsi.
Di titik penyeberangan yang menghubungkan Kecamatan Padaherang dengan Kecamatan Sidareja, aktivitas warga berlangsung tanpa henti.
Sepeda motor dan penumpang silih berganti menyeberangi sungai menggunakan rakit bambu yang digerakkan perahu motor.
Bagi masyarakat setempat, jalur sungai bukan sekadar alternatif, melainkan bagian dari rutinitas harian yang dinilai lebih cepat, praktis, dan ekonomis.
Pengelola penyeberangan, Nono (51), mengatakan penyeberangan ini tetap diminati karena mampu memangkas waktu perjalanan secara signifikan dibanding jalur darat.
"Waktu tempuhnya hanya sekitar dua menit untuk sampai ke wilayah Cilacap. Tarif penyeberangan juga terjangkau, sekitar Rp 5.000 per sekali menyeberang," ujar Nono kepada sejumlah wartawan disela sela aktivitasnya, Kamis (25/6/2026) siang.
Menurutnya, tarif yang diberlakukan bervariasi mulai dari Rp 2.000 hingga Rp 5.000, bergantung pada jenis kendaraan dan muatan yang dibawa. Untuk menjaga keamanan, Nono mengaku rutin melakukan perawatan rakit.
Seorang penumpang rakit, Hanifah (37), mengaku sudah cukup lama mengandalkan jalur penyeberangan dengan menggunakan rakit bambu untuk beraktivitas.
"Kalau lewat jalur Kalipucang waktunya lebih lama. Lewat sini lebih dekat dan sudah biasa digunakan warga," katanya.
Ia mengatakan, penyeberangan rakit bambu ini sudah beroperasi sejak era 1990-an dan bertahan hingga sekarang.
Dalam satu kali perjalanan, rakit mampu mengangkut sekitar tujuh hingga delapan unit sepeda motor beserta pengendaranya.
Meski bukan jalur penyeberangan resmi, keberadaannya masih menjadi urat nadi mobilitas masyarakat sekitar.
Mulai dari pedagang, pekerja, hingga warga umum memanfaatkan akses tersebut untuk menunjang aktivitas ekonomi dan kebutuhan sehari-hari. (*)