TRIBUNBANYUMAS.COM, UNGARAN- Tegal Panas tampak lebih lengang dari pada yang selama ini melekat di benak banyak orang. Deretan bangunan karaoke di sepanjang jalan di kawasan itu sebagian besar masih tertutup saat siang hari.
Namun, beberapa perempuan nampak duduk santai di teras. Belum terdengar dentuman musik. Hanya ada lalu lalang kendaraan warga sekitar.
Bagi warga lama, tempat ini menyimpan riwayat yang jauh lebih tua daripada sekadar karaoke.
Sebelum dikenal sebagai kawasan hiburan malam, Tegal Panas mulanya tumbuh dari aktivitas pangkalan truk.
Sarwoto, warga Tegal Panas, masih mengingat jelas bagaimana kawasan itu pada awal 1980-an belum seramai sekarang.
Ia datang ke Tegalpanas pada 1983. Saat itu, katanya, rumah di kawasan tersebut baru sekitar delapan unit.
"Waktu saya masuk tahun 1983, di sini baru ada sekitar delapan rumah," sebutnya.
Menurut Sarwoto, pada masa itu, Tegal Panas bukanlah kawasan karaoke seperti sekarang. Lokasi tersebut lebih dikenal sebagai tempat retribusi dan pangkalan truk. Truk-truk yang melintas diwajibkan masuk ke area itu. Dari aktivitas itulah kehidupan ekonomi pelan-pelan tumbuh.
"Dulu ini tempat retribusi, pangkalan truk. Ada petugas pemungut parkir. Masuknya ke APBD sebetulnya," katanya.
Kehadiran truk dalam jumlah besar memunculkan kebutuhan-kebutuhan baru, seperti makan, mandi, beristirahat, hingga hiburan setelah perjalanan panjang. Dari awal itulah, kata Sarwoto, kawasan mulai berubah arah. Mula-mula muncul jasa pijat biasa, lalu perlahan bergeser menjadi praktik yang lebih 'aneh-aneh'.
"Awalnya tukang pijat, terus pijat aneh-aneh," ujarnya.
Baca juga: Cak Imin: Global Talent Day Kebumen Buka Jalan Pemuda Raih Peluang Kerja Dunia
Perubahan itu berjalan perlahan, seiring bertambahnya bangunan dan orang yang datang. Di masa itulah, rumah-rumah mulai dikavling di sisi utara kawasan. Dari semula hanya delapan rumah, permukiman dan tempat usaha kemudian menjalar hingga ke wilayah yang kini masuk RT 7.
Menurut dia, masa paling ramai lokalisasi Tegal Lanas diperkirakan pada pertengahan 1980-an. Adanya pangkalan truk, warung makan, jasa pijat, hingga hiburan malam tumbuh menjadi satu ekosistem tersendiri. Tegal Panas bukan hanya menjadi titik singgah sopir truk, melainkan juga ruang hidup bagi banyak orang.
"Lokalisasi awal, ramainya sekitar 1985. 1983, saya masuk sini sudah ada. Awalnya delapan rumah. Perkembangan ke belakang karena ada pangkalan truk itu membuat lama-lama mbak-mbak dari berbagai daerah kesini. Paling banyak Jawa Barat. Wonogiri, Sragen, dan Jepara," terang Sarwoto.
Namun, riwayat kawasan ini tidak selalu ramai. Sarwoto menyebut, perubahan besar terjadi ketika fungsi pangkalan truk perlahan memudar, terutama setelah era reformasi. Salah satu momen yang ia ingat adalah ketika kawasan itu dijadikan tempat menaruh barang bukti lakalantas.
"Itu pengaruh dengan kehidupan di masyarakat. Masyarakat percaya, bekas sampah mistis dan sebagainya, tempat kumuh, kotor, nggak pernah dipelihara. Saat itu, RT 5, 6. 7 pisah karena disekat BB. Interaksi sosial renggang, ekonomi tambah parah karena tidak ada truk-truk masuk lagi," terangnya.
Warga lambat laun mulai membentuk ekonomi baru dengan munculnya karaoke. Sarwoto memperkirakan, geliat karaoke mulai tampak sekitar 2009/2010. Aktivitas itu kemudian dikoordinasikan melalui paguyuban.
"Sampai sekarang perkembangan masyarakat padat, semakin sulit. Bukan semakin bagus, tapi semakin turun," ujarnya.
Diakui Sarwoto, kini Tegal Panas tak lagi seramai masa jayanya. Jika sekitar lima hingga tujuh tahun lalu, malam masih diwarnai suasana lebih hidup, menurut dia, kondisinya kini jauh berbeda.
"Malam sekarang tidak seperti hingar-bingar waktu itu, sekitar lima sampai tujuh tahun lalu. Sekarang sepi," ujarnya
Jika Tegal Panas tumbuh dari denyut pangkalan truk dan aktivitas retribusi, kisah di Gembol, Kelurahan Bawen, Kecamatan Bawen, sedikit berbeda. Di kawasan ini, jejak awal lokalisasi justru dituturkan warga sebagai hasil pemindahan praktik mangkal dari pinggir jalan ke satu wilayah itu.
Ketua RT 5 RW 6 Berokan, Junardi mengaku, tidak mengetahui secara persis kapan lokalisasi di Gembol mulai berdiri. Namun, dari cerita orang tuanya dan warga-warga lama di kampung itu, kawasan tersebut sudah mulai dikenal sebagai tempat penampungan pekerja seks sejak sekitar pertengahan 1970-an.
"Persisnya saya enggak tahu, tapi kata orang tua saya berdiri tahun 1975. Saya sendiri kelahiran 1975. Dari cerita orang tua saya dan orang-orang sini, dulu di pinggir jalan banyak yang mangkal. Lalu, dari pihak lurah yang dulu diarahkan ditampung di wilayah sini," kata Junardi.
Saat itu, lanjut dia, kawasan yang kini dikenal sebagai Gembol masih berupa tanah kosong. Menurut cerita, kata dia, lokalisasi di awal kemunculannya hanya dikelola oleh segelintir orang.
"Dulu itu tanah kosong. Di situ lah ngopeni dulu tiga orang," katanya.
Seperti halnya Tegalpanas, riwayat Gembol juga pernah meredup. Junardi mengatakan, saat era reformasi, kawasan itu sempat dinyatakan ditutup. Bahkan, pernah dipasang papan pengumuman di ujung kampung yang menandai keputusan tersebut.
"Waktu reformasi, itu sudah ditutup. Bahkan, papan pengunguman itu ditaruh diujung, menyatakan bahwa lokalisasi di gembol dinyatakan ditutup. Tapi, apa boleh buat kenyataannya (sekarang) seperti itu," jelasnya.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Semarang, Istichomah, mengatakan pemerintah daerah tidak memiliki catatan pasti mengenai kapan persis kedua kawasan itu mulai muncul.
Namun dari penelusuran dan cerita yang berkembang, Tegalpanas tumbuh dari aktivitas pangkalan truk yang dulu cukup ramai.
Penjelasan itu sejalan dengan cerita warga lama yang menyebut Tegalpanas dahulu menjadi titik singgah kendaraan truk.
Begitu pula di Gembol yang berawal dari warung biasa menjadi warung plus-plus.
Ia menyebut, citra negatif yang selama ini melekat pada Tegalpanas dan Gembol menjadi salah satu alasan pemerintah kini mendorong penataan kawasan.
Baca juga: Menko PM Muhaimin Iskandar: Jangan Ada Lagi PMI Jadi Korban Jalur Ilegal
Dinsos Kabupaten Semarang mencatat terdapat 143 warga binaan di Tegal Panas. Sementara, jumlah pelaku usaha di kawasan itu mencapai 87 unit, yang terdiri dari karaoke dan warung makan.
Adapun di Gembol, jumlah warga binaan tercatat 32 orang. Di kawasan ini, terdapat 28 karaoke, 14 usaha kategori plus-plus, serta 20 kategori usaha lain, seperti warung dan bentuk usaha pendukung lain.
Meski aktivitas di dua kawasan itu tidak berizin, Dinsos masuk untuk menangani dampak sosial yang muncul, diantaranga pendampingan terhadap perempuan yang terdampak HIV/AIDS. Dinsos bekerja sama dengan KDS Melati membantu kelompok terdampak, memastikan mereka tetap mengakses layanan kesehatan.
Selain lembaga sosial, sejumlah perguruan tinggi juga disebut ikut masuk melakukan kajian dan pendampingan di kawasan tersebut sejak 2022.
Dalam dua tahun terakhir, Dinsos mulai mendorong warga binaan di Tegalpanas dan Gembol untuk memiliki bekal pekerjaan lain di luar lokalisasi dengan membetikan pelatihan keterampilan.
"Yang dilakukan Dinsos kepada warga binaan, kami memberikan pelatihan dengan harapan mereka bisa keluar dari situ untuk hidup dengan profesi lain,” kata Istichomah, Kamis (25/6/2026).
Pelatihan dilakukan pada 2024 dan 2025. Jenis pelatihan disesuaikan dengan minat warga binaan, diantaranya rias dan potong rambut. Setelah pelatihan, peserta juga diberi peralatan kerja agar bisa langsung memulai usaha kecil secara mandiri.
"Mereka ingin pelatihan rias dan potong rambut. Kami beri alat, supaya mereka bisa keluar dan hidup dengan profesi lain," ujarnya.
Selain keterampilan salon, Dinsos juga memberi pelatihan di bidang boga, seperti membuat kue kering. Tahun ini, sebut Istichomah, fokus pemerintah pada upaya penataan kawasan dengan citra yang positif. (eyf)