Kisah Lena Agusrini Mengolah Daun Benalu Menjadi Batik Lampung Bernilai Tinggi
Robertus Didik Budiawan Cahyono June 25, 2026 05:19 PM

Tribunlampung.co.id Bandar Lampung – Siapa yang menyangka jika daun benalu bisa disulap menjadi karya batik bernilai tinggi di tangan Lena Agusrini.

Baca juga: Pola dan Motif Helau Batik Datang dari Insting, Emosi hingga Ikon Daerah

Lena adalah pemilik Biiqa Batik yang berlokasi di Jalan Imam Bonjol Gang Dermawan III No.81, Sumber Rejo, Kecamatan Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung 35153.

Perjalanan Biiqa Batik tidak berlangsung instan. Lena mulai mengenal dan mempelajari dunia batik sejak 2011. 

Saat itu, fokus utamanya bukan sekadar membangun usaha, melainkan mengedukasi masyarakat dan generasi muda agar mengenal, mempelajari, serta mencintai batik sebagai warisan budaya Indonesia.

"Awalnya kami belajar membatik, lalu ilmu yang kami dapat kami bagikan lagi kepada masyarakat dan anak-anak. Tujuannya agar mereka mengenal dan mencintai batik," ujar Lena saat ditemui di galeri miliknya Kamis (25/6/2026).

Setelah bertahun-tahun belajar dan bereksperimen, Lena akhirnya memberanikan diri membangun merek Biqa Batik pada 2018. Legalitas usaha kemudian resmi diurus pada 2020.

Angkat Kekayaan Lampung Lewat Motif Batik

Di awal perjalanan usaha, tantangan terbesar yang dihadapi adalah menciptakan motif yang benar-benar mencerminkan identitas Lampung. 

Menurut Lena, proses menggali kekayaan budaya lokal membutuhkan waktu dan pembelajaran yang panjang.

"Kami harus banyak belajar dan mengeksplorasi kearifan lokal Lampung. Tujuannya agar Batik Lampung bisa dikenal di tingkat nasional, bahkan kalau memungkinkan sampai pasar global," katanya.

Selain itu, persaingan usaha juga menjadi tantangan tersendiri. Namun Lena memiliki pandangan berbeda dalam menyikapi kompetitor.

"Kami tidak menganggap mereka sebagai pesaing, tetapi sebagai teman belajar. Dari mereka kami bisa saling berbagi pengalaman dan berkembang bersama," ujarnya.

Daun Ketapang hingga Daun Nangka Jadi Pewarna Batik

Salah satu keunikan Biiqa Batik terletak pada penggunaan pewarna alami. Berbagai jenis daun yang mudah ditemukan di sekitar lingkungan dimanfaatkan sebagai bahan pewarna kain.

Daun Ketapang , daun benalu hingga daun nangka menjadi bahan utama untuk menghasilkan warna-warna alami yang unik.

"Daun-daun yang biasanya dibuang oleh tetangga justru kami manfaatkan. Selain menekan biaya produksi, hasil warnanya juga sangat menarik," jelas Lena.

Saat digunakan menjadi pewarna alami, daun ketapang menghasilkan dua warna. 

Daun ketapang basah menjadi warna kuning dan hijau, sedangkan daun ketapang kering menjadi warna cream, coklat tua dan hitam.

Meski bahannya gampang ditemui, proses pewarnaan alami tidak semudah pewarna sintetis. Faktor cuaca sangat menentukan keberhasilan produksi.

"Kalau cuaca bagus, kain bisa dicelup sampai tiga kali sehari. Tapi kalau hujan, sekali celup saja belum tentu kering," katanya.

Untuk menghasilkan kombinasi beberapa warna dalam satu kain, proses pengerjaan bahkan bisa memakan waktu hingga satu bulan.

Harga Tembus Rp2 Juta per Kain

Biiqa Batik memproduksi dua jenis batik, yakni batik dengan pewarna sintetis dan batik pewarna alami.

Untuk batik cap dengan pewarna sintetis, harga berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp600 ribu per lembar, tergantung teknik pembuatannya. 

Sementara batik tulis dengan pewarna alami dibanderol mulai Rp700 ribu hingga Rp2 juta per lembar.

Meski harganya lebih tinggi, batik pewarna alami memiliki pasar tersendiri karena keunikan warna dan proses produksinya yang ramah lingkungan.

Dalam sebulan, Biiqa Batik mampu menjual sekitar 10 lembar batik pewarna alami. 

Sementara untuk batik sintetis, penjualan bisa mencapai 20 lembar untuk jenis cap dan sekitar 10 lembar untuk batik tulis.

Raup Omzet Hingga Rp10 Juta per Bulan

Dari usaha yang dirintis lebih dari satu dekade lalu, Biiqa Batik kini mampu menghasilkan omzet rata-rata Rp8 juta hingga Rp10 juta setiap bulan.

“Untuk penjualannya sendiri sudah ke berbagai wilayah di Indonesia, karena sering saya bawa pameran dengan dinas ke luar kota,” jelasnya.

Bagi Lena, pencapaian tersebut bukan hanya soal keuntungan bisnis, tetapi juga tentang menjaga budaya dan memberdayakan masyarakat melalui batik.

"Harapan kami, batik Lampung semakin dikenal luas dan bisa menjadi kebanggaan daerah hingga ke tingkat nasional maupun internasional," tutupnya.

(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.