Melawan Zaman, Rakit Bambu Sungai Citanduy Tetap Jadi Urat Nadi Penghubung Jabar-Jateng
Ravianto June 25, 2026 04:11 PM

TRIBUNJABAR.ID, PANGANDARAN - Di tengah semakin berkembangnya akses jalan darat, penyeberangan tradisional di Sungai Citanduy masih menjadi pilihan sejumlah warga di perbatasan Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, dan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Sungai Citanduy sendiri merupakan satu sungai besar yang melintasi wilayah Tasikmalaya, Ciamis, Kota Banjar, Pangandaran, hingga Cilacap. 

Dan di antara arus perkembangan zaman, rakit bambu di sungai ini masih bertahan sebagai penghubung kehidupan di dua provinsi.

Di titik penyeberangan yang menghubungkan Kecamatan Padaherang dengan Kecamatan Sidareja, aktivitas warga berlangsung tanpa henti. 

Sepeda motor dan penumpang silih berganti menyeberangi sungai menggunakan rakit bambu yang digerakkan perahu motor.

Bagi masyarakat setempat, jalur sungai bukan sekadar alternatif, melainkan bagian dari rutinitas harian yang dinilai lebih cepat, praktis, dan ekonomis.

rakit sungai citanduy menyeberang
RAKIT BAMBU - Rakit bambu di Sungai Citanduy. Di tengah semakin berkembangnya akses jalan darat, penyeberangan tradisional di Sungai Citanduy masih menjadi pilihan sejumlah warga di perbatasan Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, dan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Pengelola penyeberangan, Nono (51), mengatakan penyeberangan ini tetap diminati karena mampu memangkas waktu perjalanan secara signifikan dibanding jalur darat.

"Waktu tempuhnya hanya sekitar dua menit untuk sampai ke wilayah Cilacap. Tarif penyeberangan juga terjangkau, sekitar Rp 5.000 per sekali menyeberang," ujar Nono kepada sejumlah wartawan disela sela aktivitasnya, Kamis (25/6/2026) siang.

Menurutnya, tarif yang diberlakukan bervariasi mulai dari Rp 2.000 hingga Rp 5.000, bergantung pada jenis kendaraan dan muatan yang dibawa.

Untuk menjaga keamanan, Nono mengaku rutin melakukan perawatan rakit.

Seorang penumpang rakit, Hanifah (37), mengaku sudah cukup lama mengandalkan jalur penyeberangan dengan menggunakan rakit bambu untuk beraktivitas.

"Kalau lewat jalur Kalipucang waktunya lebih lama. Lewat sini lebih dekat dan sudah biasa digunakan warga," katanya.

Ia mengatakan, penyeberangan rakit bambu ini sudah beroperasi sejak era 1990-an dan bertahan hingga sekarang. 

Dalam satu kali perjalanan, rakit mampu mengangkut sekitar tujuh hingga delapan unit sepeda motor beserta pengendaranya.

Meski bukan jalur penyeberangan resmi, keberadaannya masih menjadi urat nadi mobilitas masyarakat sekitar. 

Mulai dari pedagang, pekerja, hingga warga umum memanfaatkan akses tersebut untuk menunjang aktivitas ekonomi dan kebutuhan sehari-hari. *

Baca juga: Spot Mancing di Sungai Citanduy Ini Jadi Langganan Temuan Mayat, Terkini Mayat Membusuk

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.