3 Calon Manajer Kopdes Meninggal, Anggota DPR Menilai Latsarmil Sebaiknya Tetap Dilanjutkan
Dewi Agustina June 25, 2026 04:20 PM


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi I DPR RI, Amelia Anggraini, menilai pelaksanaan Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) dalam Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) untuk calon manajer Koperasi Desa Kelurahan/Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) sebaiknya tetap dilanjutkan.

Hal ini disampaikan Amelia usai tiga calon manajer KDKMP dan KNMP meninggal saat mengikuti Latsarmil. 

Amelia memandang bahwa Latsarmil pada dasarnya memiliki nilai strategis, terutama bagi para peserta yang diproyeksikan untuk menjadi manajer sebuah program pembangunan di lapangan.

Baca juga: 2 Peserta Latsarmil Meninggal, Koalisi Masyarakat Sipil: Bukti TNI Tak Patut Terlibat Urusan Sipil

Menurut dia, pelatihan semacam ini tidak hanya berfokus pada fisik, melainkan pembentukan karakter manajerial.

"Pada level manajer, pelatihan semacam ini bukan semata-mata membentuk kemampuan fisik, tetapi juga menanamkan disiplin, kepemimpinan, integritas, daya tahan mental, kemampuan bekerja dalam tim, serta kesiapan mengambil keputusan di bawah tekanan," kata Amelia saat dihubungi Tribunnews.com, Kamis (25/6/2026).

Oleh karena itu, agar insiden fatal tidak terulang, ia mendesak pihak penyelenggara untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh dan transparan.

 

 

Evaluasi tersebut harus mencakup standar keselamatan, prosedur latihan, rekam medis dan pemeriksaan kesehatan peserta, manajemen risiko, serta mekanisme pengawasan selama Latsarmil berlangsung.

Amelia menegaskan, apabila ditemukan kelemahan dalam pelaksanaan di lapangan, penyelenggara harus segera memperbaikinya. 

Keselamatan peserta mutlak menjadi prioritas utama tanpa harus menghilangkan substansi pembentukan karakter dari program tersebut.

"Dengan demikian, saya berpendapat program ini sebaiknya tetap dilanjutkan, tetapi dengan standar keselamatan yang lebih ketat, pengawasan yang lebih profesional, serta evaluasi berbasis bukti," ucapnya. 

"Program yang baik tidak diukur dari ada atau tidaknya tantangan, melainkan dari kemampuan penyelenggara belajar dari setiap kejadian dan memastikan peristiwa serupa tidak terulang kembali," sambung Amelia. 

Peserta Latsarmil Meninggal

Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Setjen Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait menjelaskan, peserta pertama bernama Anisa mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan (Satdik) Dodikjur Resimen Induk Daerah Militer (Rindam) VI Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Anisa dilaporkan mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni 2026 saat menjalani rangkaian kegiatan Latsarmil. 

Ia sempat mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan satuan sebelum dirujuk ke rumah sakit.

"Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat heat stroke," kata Rico saat dihubungi Tribunnews.com, Selasa (23/6/2026).

Sementara itu, peserta kedua, Yonanda Muhammad Taufiq, mengikuti pendidikan di Satdik Pusat Pendidikan dan Latihan Tempur (Puslatpur) Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI AD (Kodiklatad), Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan.

Menurut Rico, Yonanda mengalami penurunan kondisi kesehatan pada 17 Juni 2026.

Ia juga telah mendapatkan penanganan awal dari tenaga kesehatan satuan sebelum dirujuk ke rumah sakit.

Nahas, nyawa Yonanda tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia akibat cardiac arrest atau henti jantung.

Menanggapi kejadian ini, Kemhan menegaskan bahwa kedua peserta tersebut sebelumnya telah melalui proses seleksi resmi sebelum masuk ke pusat pelatihan.

Rico memastikan pemeriksaan kesehatan telah dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dan keduanya telah dinyatakan memenuhi syarat fisik untuk mengikuti seluruh rangkaian pendidikan Latsarmil SPPI 2026

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.