BANGKAPOS.COM, BELITUNG -- Peran mantri BRI di daerah kini tak lagi sebatas ujung tombak penyaluran kredit dan layanan perbankan.
Di perkebunan sawit Belitung, para mantri BRI justru hadir sebagai garda terdepan dalam mendorong literasi digital masyarakat, sekaligus membentengi nasabah dari ancaman penipuan siber yang kian marak.
Transformasi tersebut menjadi bagian dari upaya Bank Rakyat Indonesia (BRI) dalam memperluas inklusi keuangan digital hingga ke wilayah yang selama ini masih lekat dengan transaksi tunai.
Assistant Manager Operasional BRI Tanjungpandan, Sigit Sriharto mengatakan tantangan digitalisasi transaksi di kawasan pedesaan Belitung masih cukup besar. Kebiasaan masyarakat yang bergantung pada uang tunai menjadi salah satu kendala utama.
"Ekosistem di hilir perkebunan sawit masih sangat cash-centric. Petani sering membutuhkan uang tunai secara cepat untuk membayar buruh panen, membeli pupuk eceran, atau memenuhi kebutuhan harian di pasar desa yang sebagian besar belum menyediakan pembayaran digital," ujar Sigit kepada Bangkapos.com, Kamis (25/6/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut diperumit dengan keterbatasan infrastruktur jaringan di sejumlah wilayah perkebunan pedalaman. Sinyal seluler yang belum stabil kerap menghambat transaksi digital secara real-time.
Namun di luar persoalan teknis, tantangan terbesar justru datang dari faktor psikologis masyarakat.
"Masih ada rasa takut menggunakan layanan digital. Sebagian nasabah khawatir saldo hilang akibat penipuan, phishing, atau aplikasi palsu. Kekhawatiran ini membuat mereka lebih nyaman menggunakan cara konvensional," katanya.
Melihat kondisi itu, BRI Tanjungpandan memilih pendekatan yang lebih membumi, edukasi langsung dari lapangan.
Para mantri yang selama ini dikenal sebagai petugas pemasaran kredit kini diberi peran tambahan sebagai penyuluh digital. Mereka turun langsung menemui petani, kelompok tani, hingga pengurus koperasi untuk memberikan pendampingan penggunaan layanan digital perbankan.
Bukan hanya menjelaskan manfaat aplikasi BRImo, para mantri juga mendampingi nasabah sejak tahap paling dasar, mulai dari mengunduh aplikasi, aktivasi akun, hingga praktik transaksi secara aman.
Pendekatan tatap muka dinilai menjadi cara paling efektif untuk membangun kepercayaan masyarakat desa terhadap layanan digital.
"Mantri kami sekarang bukan sekadar mencari nasabah kredit. Mereka juga menjadi educator. Mereka mengajarkan bagaimana bertransaksi secara aman, bagaimana menjaga PIN, OTP, dan mengenali modus penipuan," jelas Sigit.
Edukasi tersebut juga rutin dilakukan melalui forum komunitas, seperti rapat anggota tahunan koperasi unit desa (KUD) maupun pertemuan kelompok tani.
Dalam forum-forum itu, materi yang diberikan tidak hanya seputar penggunaan layanan perbankan digital, tetapi juga literasi keuangan secara lebih luas.
BRI menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap maraknya penipuan digital yang menyasar masyarakat pedesaan, mulai dari phishing, tautan palsu, APK berbahaya, hingga modus social engineering yang memancing korban menyerahkan data pribadi.
Sigit menegaskan satu pesan utama yang terus disampaikan kepada masyarakat: jangan pernah memberikan PIN, password, maupun kode OTP kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengatasnamakan bank.
"Kalau ada telepon, pesan WhatsApp, atau tautan yang meminta data pribadi perbankan, masyarakat harus curiga. BRI tidak pernah meminta PIN atau OTP nasabah," tegasnya.
Selain edukasi individu, BRI Tanjungpandan juga mendorong terciptanya ekosistem transaksi digital di sekitar kawasan perkebunan melalui program pasar dan desa digital.
Pedagang-pedagang lokal mulai diperkenalkan pada penggunaan QRIS agar transaksi non-tunai semakin mudah diterapkan, termasuk untuk kebutuhan harian para petani.
Langkah ini diharapkan mampu memutus ketergantungan pada uang tunai secara bertahap.
Bagi BRI, digitalisasi di pelosok bukan semata soal memperkenalkan aplikasi, melainkan membangun kebiasaan baru yang lebih aman, efisien, dan inklusif.
Di tengah percepatan transformasi digital nasional, kehadiran mantri sebagai penyuluh lapangan menunjukkan bahwa sentuhan manusia tetap menjadi elemen penting dalam membangun kepercayaan masyarakat.
Dari kebun sawit di pedalaman Belitung, BRI membuktikan bahwa transformasi digital tak selalu dimulai dari teknologi canggih, melainkan dari edukasi yang konsisten, dari orang yang hadir, mendengar, dan membimbing langsung masyarakat hingga berani melangkah ke dunia keuangan digital.
Salah satu petani sawit yang mulai merasakan manfaat layanan digital adalah Dede (55), warga Desa Aik Seruk, Belitung. Di usianya yang tak lagi muda, Dede mengaku perlahan mulai beradaptasi dengan transaksi digital melalui aplikasi , meski belum semua warga di desanya terbiasa menggunakan layanan serupa.
Menurut Dede, proses belajar menggunakan layanan digital bukan perkara mudah. Ia mengaku sempat kesulitan memahami penggunaan aplikasi perbankan maupun fitur-fitur digital di telepon genggamnya.
Namun, keterbatasan tersebut tidak membuatnya menyerah. Dede terus belajar, dibantu oleh anaknya yang dengan sabar mengajarkan cara menggunakan berbagai aplikasi digital, mulai dari hingga BRImo untuk bertransaksi.
"Masih belajar pelan-pelan, dulu saya takut salah pencet. Takut uang hilang. Tapi setelah diajari anak dan petugas BRI, sekarang mulai berani. Kadang kalau lupa saya tanya lagi," ujar Dede kepada Bangkapos.com, Kamis (25/6/2026).
Baginya, kehadiran layanan digital mulai terasa sangat membantu, terutama untuk kebutuhan transaksi harian yang sebelumnya mengharuskannya datang langsung ke konter atau loket pembayaran.
Kini, untuk membeli token listrik PLN maupun paket data telepon seluler, Dede mengaku cukup mengandalkan aplikasi di ponselnya.
"Kalau dulu beli token listrik atau pulsa harus ke konter dulu. Sekarang kalau lewat BRImo lebih praktis, tidak perlu keluar rumah, semuanya bisa selesai dari handphone," katanya.
Meski demikian, Dede mengakui masih banyak warga desa yang memilih bertransaksi secara tunai. Selain faktor kebiasaan, keterbatasan pemahaman teknologi menjadi alasan utama.
Karena itu, ia menilai edukasi digital yang dilakukan BRI sangat penting untuk membantu masyarakat desa beradaptasi dengan perubahan zaman.
"Kalau ada yang ngajarin langsung, kami jadi lebih berani mencoba. Pelan-pelan pasti bisa," ujarnya.
(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)