SURYA.co.id, Sidoarjo - Di tengah deru mesin di Jalan Kletek Gg Patimura III No. 341, RT 17 RW 7, Desa Kletek, Kecamatan Taman, Sidoarjo, Jawa Timur, sosok Lina Wijayanti (52) dikenal lebih dari sekadar penjahit pakaian.
Di rumah sederhananya, rumah Lina juga berfungsi sebagai "kantor bank" mini yang ramah dan aman: Agen BRILink.
Kehadirannya di sudut Keboansikep ini tidak hanya memotong jarak warga menuju bilik ATM, tetapi juga menjadi tameng pelindung dari maraknya kejahatan siber yang menyasar masyarakat kecil.
Kisah keagenan Lina dimulai pada tahun 2017 dengan cara yang sangat sederhana. Jauh sebelum resmi menjadi agen, Lina hanyalah nasabah BRI biasa yang rajin membantu tetangganya membayar iuran BPJS kesehatan melalui mesin ATM.
Kala itu, iuran BPJS masih dibayarkan perorangan, bukan per Kartu Keluarga (KK). "Dulu itu, orang-orang sekitar sini menitipkan pembayaran BPJS mereka ke saya semua. Ada sekitar 25 orang," kenang Lina kepada SURYA.co.id
Setiap kali pergi ke ATM dengan membawa tumpukan kartu tetangga, Lina kerap merasa tidak enak hati karena menghalangi antrean nasabah lain.
Dengan sopan, ia selalu memilih menepi terlebih dahulu demi memberikan jalan kepada orang lain. "Kalau ada nasabah lain butuh ATM, saya mengalah dan minggir dulu," ujarnya.
Keuletan dan ketulusan Lina di bilik ATM itu rupanya menarik perhatian seorang mantri (petugas kredit) BRI bernama Bu Arik. Bu Arik kemudian menawari Lina untuk membuka layanan Agen BRILink resmi.
Baca juga: Kisah Siti Rochmah Menyulap Toko Kelontong Sederhana Menjadi Penyelamat Keuangan Warga Lewat BRILink
Tantangan awal pun menghadang ketika Bu Arik dipindahtugaskan ke Sedati, sehingga Lina harus mengurus pembukaan rekening keagenannya di sana.
"Waktu itu modal saya mepet sekali, cuma Rp2 juta," kisah Lina.
Keterbatasan modal itu memaksanya harus bolak-balik ke kantor cabang bank hingga tiga kali dalam sehari untuk memutar uang tunai. "Saya sampai merasa sungkan sekali dengan teller bank karena terlalu sering bolak-balik dalam sehari."
Namun, lewat ketelatenan mengelola modal kecil tersebut, Lina perlahan mampu memperbesar volume transaksinya, merenovasi rumah pada tahun 2019, hingga memperbanyak stok barang dagangan menjahitnya.
Seiring berjalannya waktu, toko kelontong dan jasa BRILink milik Lina semakin ramai. Di tengah interaksinya yang intens dengan warga, Lina kerap berhadapan langsung dengan modus penipuan siber—mulai dari undian palsu hingga manipulasi psikologis (social engineering) yang menyasar para pelanggannya.
Salah satu momen paling dramatis yang diingat Lina adalah ketika ia harus berdebat sengit dan menggebrak meja demi menyelamatkan tabungan tetangganya sendiri yang sedang terkena hipnotis penipuan berkedok hadiah dari figur publik.
"Waktu itu ada tetangga sendiri yang datang terburu-buru, katanya mau transfer. Padahal sebenarnya dia tidak sadar sedang ditipu oleh akun palsu yang mencatatkan nama artis di WhatsApp," cerita Lina.
Pelanggan tersebut meminta Lina mentransfer uang sebesar Rp5 juta, lalu meminta lagi tambahan Rp10 juta. Menyadari ada yang tidak beres, Lina menahan transaksi kedua dan meminta pelanggan tersebut membayar tunai Rp5 juta pertama yang baru saja diproses.
Namun, pelanggan yang sudah telanjur terperangkap oleh manipulasi pelaku justru berkeras menolak membayar dan malah marah.
"Dia ngeyel sekali, bilang: 'Loh, saya ini kan justru yang mau dapat uang Rp5 juta dan Rp10 juta dari hadiah, kok malah sampeyan yang minta uang ke saya!' Karena dia terus memaksa dan tidak sadar, langsung saya gebrak meja toko saya," tutur Lina.
Debat sengit dan gebrakan meja tersebut seketika menyentak sang pelanggan kembali ke dunia nyata. Lina kemudian menegaskan dengan lantang, "Mbak, ini kamu harus bayar! Kamu ini sudah bertransaksi Rp5 juta!"
Setelah tersadar dari kekhilafannya, pelanggan tersebut akhirnya lemas menyadari dirinya hampir kehilangan belasan juta rupiah jika tidak dihentikan secara tegas oleh Lina.
Bagi Lina, literasi keuangan bukan sekadar teori, melainkan tindakan nyata sehari-hari. Ia secara aktif memberikan edukasi keuangan personal kepada para pelanggannya yang kerap tergiur oleh iming-iming hadiah di aplikasi TikTok atau media sosial lainnya.
Lina sering kali menggunakan pendekatan humor yang menohok agar warga tidak mudah terperangkap.
"Kemarin ada warga yang datang mau transfer Rp150 ribu untuk mencoba-coba hadiah undian. Saya ingatkan, 'Mbak, cari uang itu susah.' Tapi besoknya dia datang lagi dengan wajah bersemangat bilang dapat hadiah Rp20 juta, dan diminta transfer uang administrasi lagi Rp50 ribu," kisah Lina.
"Saya langsung menggoda dia, 'Mbak, daripada ditransfer terus ke penipu, ayo uangnya kita buat beli bakso saja bersama-sama di sini.' Akhirnya dia sadar."
Disiplin Ketat "Jawara" dan Sentuhan Empathis
Dari berbagai benturan pengalaman di lapangan, Lina kini menerapkan disiplin transaksi yang sangat ketat di Agen BRILink-nya.
"Sekarang aturannya harus benar: uang tunai harus diterima dan dihitung terlebih dahulu, baru transaksi di sistem diproses," tegasnya.
Meskipun disiplin, Lina tetap dikenal memiliki empati yang luar biasa tinggi. Ia sering kali melayani warga yang ingin menguras sisa saldo ATM-nya (ngoreti ATM) dalam nominal kecil yang tidak bisa ditarik di mesin ATM biasa, seperti Rp15.000 atau Rp25.000.
Untuk transaksi mikro dari nasabah yang sedang kesusahan ini, Lina memilih untuk menggratiskan biaya jasanya.
"Saya bilang, 'Sudah bawa saja uangnya, tidak usah memberi saya biaya jasa.' Kita sendiri kalau sedang butuh uang dan tidak ada, pasti tahu bagaimana rasanya," ujarnya tulus.
Kini, dengan rekam jejak keuangan yang sangat baik sejak menjadi nasabah BRI pada 2008, Lina menyandang status sebagai Agen BRILink "Jawara." Status ini memberikannya akses khusus ke fasilitas pinjaman modal kerja.
Kesuksesan Lina dalam melayani dan melindungi keuangan masyarakat Keboansikep ini tidak lepas dari pendampingan berkelanjutan dari Bank BRI.
Afandi, selaku PIC BRILink dari Bank BRI, senantiasa mendampingi, mengedukasi, dan memfasilitasi kebutuhan keagenan Lina di lapangan guna memastikan transaksi harian warga berjalan dengan aman, lancar, dan tepercaya.
"Ibu Lina adalah teladan agen yang bagus," ujar Afandi.
Supardi (58), warga setempat juga terbantu dengan kehadiran BRILink, salah satu alasan dia adalah sudah kenal dan sudah percaya.
"Selain itu dekat, gak perlu jauh-jauh," tutur Supardi
BRILink adalah layanan perbankan tanpa kantor (branchless banking) dari Bank BRI yang memperluas akses keuangan masyarakat melalui nasabah BRI yang bertindak sebagai agen. Agen ini melayani transaksi seperti tarik tunai, transfer, dan pembayaran tagihan langsung di lingkungan warga.
Melalui agen BRILink terdekat, Anda dapat melakukan berbagai transaksi perbankan tanpa harus datang ke kantor cabang BRI atau ATM:
Bagi masyarakat, kehadiran BRILink ini sangat memudahkan akses layanan perbankan, khususnya bagi warga di daerah pelosok atau mereka yang berada jauh dari lokasi fisik bank.
Transaksi keuangan harian dapat diselesaikan dengan lebih cepat, aman, dan praktis tanpa perlu mengantre di kantor cabang.
Sementara itu, bagi para Agen sendiri, menjadi mitra BRILink merupakan peluang untuk mendapatkan sumber pendapatan tambahan yang menjanjikan melalui sistem sharing fee (komisi) dari setiap transaksi keuangan yang berhasil dilakukan bersama nasabah.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai daftar layanan lengkap atau cara menjadi agen, Anda dapat mengunjungi laman resmi Bank BRI BRILink.
Dari balik ruang sempit toko peracangan di Jalan Klanggri, Siti Rochmah telah membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk memberikan dampak sosial-ekonomi yang besar bagi komunitasnya. Di antara tumpukan beras dan bumbu dapur, roda finansial warga Sidokerto terus berputar dengan aman, praktis, dan tepercaya.