Rupiah Menguat Tipis Rp17.943 per Dolar AS di Tengah Meredanya Konflik Timur Tengah
Seno Tri Sulistiyono June 25, 2026 05:35 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup menguat tipis pada perdagangan Kamis (25/6/2026) di tengah meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong penurunan harga minyak dunia.

Meski demikian, pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS) yang berpotensi tetap ketat.

Pada penutupan perdagangan sore ini, rupiah menguat tipis 9 poin menjadi Rp 17.943 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp 17.952 per dolar AS. 

Baca juga: Rupiah Anjlok, AHM Buka Peluang Naikkan Harga Motor Honda

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik antara AS, Israel dan Iran telah mengurangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global. Kondisi tersebut membuat harga minyak mentah dunia terus mengalami penurunan dalam sepekan terakhir.

"Kesepakatan awal pekan lalu untuk mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran, yang dimulai pada 28 Februari, telah memungkinkan lalu lintas melalui selat untuk dimulai kembali sehingga meredakan kekhawatiran pasokan yang membuat harga minyak mentah dunia terus merosot tajam pekan ini," ucap Ibrahim melalui keterangan, Kamis (25/6/2026).

Menurut dia, lalu lintas kapal di Selat Hormuz mulai kembali normal. Menteri Energi AS Chris Wright bahkan menyebut aliran minyak melalui jalur strategis tersebut hampir kembali ke kondisi sebelum konflik, dengan lebih dari 20 juta barel minyak melintas dalam 24 jam terakhir.

Selain itu, Oman telah membuka jalur sementara untuk mempermudah pergerakan kapal tanker, sementara sejumlah negara Teluk mulai membahas tata kelola Selat Hormuz pascakonflik.

Meski tekanan dari sisi energi mereda, pasar masih dibayangi prospek kebijakan moneter AS. Hal itu menyusul adanya perbedaan pandangan di internal Federal Reserve (The Fed), dengan sebagian anggota memperkirakan kenaikan suku bunga hingga akhir 2026, sementara mayoritas lainnya memperkirakan suku bunga tetap bertahan.

"Fokus pasar hari ini adalah rilis ukuran inflasi pilihan Fed, Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (PCE), angka Produk Domestik Bruto (PDB) untuk kuartal pertama tahun 2026 dan klaim pengangguran mingguan," tuturnya.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pemerintah telah mengantisipasi dampak konflik Timur Tengah sejak awal pecah pada akhir Februari lalu.

Berbagai simulasi telah dilakukan untuk menghadapi kemungkinan perang berlangsung selama lima hingga sepuluh bulan. Saat ini, ketergantungan impor minyak Indonesia dari kawasan Timur Tengah kini hanya sekitar 20 persen. 

"Langkah diversifikasi pasokan telah dilakukan dengan menyasar negara-negara Afrika seperti Nigeria dan Gabon. Selain itu, pemenuhan energi juga ditopang oleh komitmen pembelian dari AS dan Venezuela melalui skema Agreement on Reciprocal Tariff (ART)," ujar Ibrahim.

Menurut Ibrahim, fundamental ekonomi Indonesia pada 2026 masih cukup kuat. Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi kuartal I yang mencapai 5,61 persen, posisi cadangan devisa sebesar 144,9 miliar dolar AS per akhir Mei 2026, realisasi investasi Rp 498,8 triliun pada kuartal pertama, serta PMI manufaktur yang masih berada di zona ekspansi pada level 50.

Meski demikian, ia mengingatkan adanya tren penyusutan surplus neraca perdagangan meskipun Indonesia masih mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut. 

"Dengan kondisi yang semakin menipis, pemerintah terus menggenjot sektor-sektor yang bisa menghasilkan devisa. Salah satunya adalah pariwisata yang menjadi low hanging fruit," jelasnya.
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.