-Advokat senior Elza Syarief akhirnya buka suara mengenai teka-teki beredarnya daftar 26 nama tokoh nasional yang disebut-sebut ikut menerima alokasi atau ‘atensi’ dalam proyek dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Badan Gizi Nasional (BGN).
Daftar tersebut sebelumnya memicu kegaduhan publik setelah bocor ke media sosial.
Menurut Elza, mantan kuasa hukum eks Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya (SS), daftar 26 nama tersebut ditulis sendiri oleh Sony dalam sebuah surat sebelum menjalani pemeriksaan perdana sebagai tersangka di Kejaksaan Agung.
Surat itu ditujukan kepada orang dekatnya, Yusuf Maulana, yang diketahui merupakan pengusaha pengelola sejumlah dapur SPPG.
"Hari pertama tanggal 3 Juni, Pak SS itu kerjaannya menulis surat untuk istrinya dan untuk Yusuf Maulana. Lipatan surat untuk Yusuf Maulana sempat agak terbuka, dan saya melihat ada deretan nama 26 orang itu. Saya langsung ingatkan, 'Pak, ini kok ada nama-nama ini? Emang mau diposting? Ini bahaya,'" ungkap Elza.
Saat ditanya mengenai apa tujuan penulisan nama-nama tokoh tersebut, Elza menyebut kliennya kala itu berdalih agar Kejaksaan Agung memanggil nama-nama yang tertera dalam daftar tersebut.
Adapun istilah ‘atensi’ yang digunakan dalam dokumen tersebut merujuk pada memo atau usulan slot dapur SPPG yang diberikan saat pendaftaran portal resmi BGN ditutup akibat kuota penuh.
"Kalau menurut keterangan Pak SS, saat itu portal penuh dan ditutup. Namun, masih ada titik-titik dapur SPPG yang kosong. Di situlah ditulis usulan dari Pak Ketua atau Pak Wakil (SS) untuk mempersingkat jalur birokrasi, yang kemudian diistilahkan sebagai Atensi A atau Atensi B," papar Elza.
Dugaan Upaya Framing dan Pengalihan Isu
Melihat meluasnya kegaduhan akibat bocornya surat tersebut, Elza menganalisis adanya motif lain di luar urusan pembuktian hukum.
Ia menduga pencatutan nama-nama besar termasuk purnawirawan jenderal TNI seperti Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman hingga politisi senior Irma Chaniago merupakan bentuk upaya pengondisian situasi (framing).
"Saya melihat ini seperti framing untuk mengalihkan isu utama dari permasalahan korupsi ini. Polanya seolah-olah berbunyi: 'Kalau kamu tidak mau namamu disebut atau diramaikan, maka bantulah agar kasus ini bisa dihentikan.' Padahal, tokoh-tokoh yang namanya dicatut tersebut sebenarnya hanya berniat membantu menyukseskan program prioritas Presiden," pungkas Elza.
Editor Video:VP Magang Dwi Sulistyo Wati