TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kepala Kepolisian Resor Kota Besar Makassar Komisaris Besar Arya Perdana berdialog dengan RT/RW dan warga Kelurahan Parang Layang, Kecamatan Bontoala, Rabu (24/6/2026) malam.
Kegiatan yang dikemas dengan nama Ngopi Kamtibmas (Ngobrol Perkara Keamanan dan Ketertiban Masyarakat) tersebut dilaksanakan di salah satu warung kopi di Jalan Tinumbu.
Sejak pukul 18.30 Wita, personel dari jajaran Polsek Bontoala telah berada di lokasi untuk mempersiapkan kedatangan Kombes Arya.
Sejumlah kendaraan yang parkir di depan warkop dipindahkan untuk memperlancar kegiatan. Alat pengeras suara juga diuji agar proses dialog berjalan lancar.
Kombes Arya tiba sekitar pukul 20.20 Wita didampingi sejumlah pejabat utama Polrestabes Makassar.
Sebelum menaiki tangga warkop, Kombes Arya terlebih dahulu menyaksikan pertunjukan tari paddupa sebagai simbol penyambutan masyarakat Bugis-Makassar.
Setelah itu, acara dimulai dengan pembacaan doa, dilanjutkan sambutan Camat Bontoala Patahulla, kemudian agenda utama berupa arahan dari Kombes Arya Perdana.
Dalam arahannya kepada RT dan RW, Arya menyampaikan bahwa keamanan lingkungan dapat dimulai dari kepedulian masyarakat, yang dipimpin RT/RW, terhadap kondisi di sekitarnya.
Menurutnya, pencegahan tindak kejahatan membutuhkan keterlibatan bersama, terutama pengawasan di tingkat lingkungan.
“Kejahatan itu dapat dicegah dengan kesadaran kita bersama memantau lingkungan. Dan tanggung jawab itu ada di RT/RW,” ujar Arya.
Ia meminta agar RT/RW dan warga tidak membiarkan apabila menemukan orang dengan gerak-gerik mencurigakan.
“Kalau ada orang dengan gerak-gerik mencurigakan segera ditegur. Segera diatasi sebelum berkembang menjadi tindak kejahatan yang tidak kita inginkan,” katanya.
Menurut Arya, kepedulian terhadap lingkungan menjadi salah satu faktor yang dapat menekan potensi terjadinya kejahatan.
“Kalau kita peduli terhadap lingkungan, orang yang mau berbuat kejahatan itu tidak berani, karna ia merasa dipantau,” ujarnya.
Ia juga meminta RT dan RW aktif memantau warga pendatang yang masuk ke lingkungan, termasuk penghuni kos dan rumah kontrakan.
“Pantau orang-orang baru yang masuk ke lingkungan kita. Orang yang ngekos, orang ngontrak. Itu RT/RW harus pantau,” katanya.
Selain itu, Arya menyoroti fenomena kejahatan jalanan yang menurutnya saat ini banyak melibatkan anak-anak.
“Kejahatan jalanan, yang marak sekarang, itu banyak dilakukan oleh anak-anak. Bahkan ada yang kami dapat umur enam tahun,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat memperkuat pendidikan karakter dan nilai keagamaan di lingkungan keluarga.
“Mari kita mendidik anak kita dengan akhlak agama dan keteladanan sosial. Ini untuk mencegah anak-anak melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya,” katanya.
Ia berharap anak-anak di Makassar dapat tumbuh menjadi generasi yang sukses dan menjadi pemimpin di masa depan.
“Kita harus mendidik anak kita agar sukses, menjadi pemimpin masa depan. Kita berharap masih ada presiden dari Makassar, seperti bapak BJ Habibie,” ujarnya.
Di akhir arahannya, Arya juga menilai posisi RT dan RW saat ini semakin kuat karena dipilih langsung oleh masyarakat.
Kepercayaan dari masyarakat itu harus digunakan oleh RT/RW untuk membina lingkungan agar terus aman kondusif.
“RT/RW sekarang bagus karena pilihan masyarakat. Dulu waktu penunjukan langsung, sering kejadian RT/RW tidak dianggap. Karena sekarang masyarakat mengatakan itu pilihannya. Jadi lebih mendengar kepada RT/RW,” ucapnya.(*)