Banda Aceh (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Timur terus mengupayakan pemulihan jaringan irigasi rusak akibat bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025 yang menyebabkan 350 hektare areal persawahan ikut terdampak.
Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Alfarlaky di Aceh Timur, Kamis, mengatakan jaringan rusak tersebut merupakan Irigasi DI Jambo Aye ruas Arakundo-Grong-Grong di Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur.
"Selain merusak bagian jaringan irigasi, banjir juga menyebabkan sedimentasi. Kondisi tersebut menghambat aliran air menuju areal persawahan, sehingga berdampak langsung terhadap aktivitas pertanian masyarakat," katanya.
Dia menyebutkan seluas 350 hektare areal persawahan tersebar di 12 gampong atau desa di Kecamatan Pante Bidari. Areal persawahan tersebut tidak lagi menerima pasokan air dengan maksimal.
Pemkab Aceh Timur melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, menurut dia, telah menyampaikan permohonan resmi kepada Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I agar segera melakukan percepatan perbaikan dan normalisasi jaringan irigasi yang rusak.
Iskandar Usman Alfarlaky menegaskan jaringan irigasi merupakan sarana vital bagi keberlangsungan sektor pertanian masyarakat. Jika tidak segera ditangani, kerusakan tersebut berpotensi mengganggu jadwal musim tanam dan menurunkan produktivitas pertanian warga.
"Jaringan irigasi ini sarana vital bagi masyarakat tani. Jika tidak segera ditangani, dikhawatirkan akan mengganggu target musim tanam dan produktivitas pertanian masyarakat," katanya.
Bupati juga berharap pemerintah pusat melalui BWS Sumatera I dapat segera mengambil langkah konkret agar fungsi jaringan irigasi kembali normal. Dengan demikian, petani dapat kembali mengelola sawah sesuai jadwal tanam yang telah direncanakan.
"Sektor pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat. Karena itu, jaringan irigasi berfungsi baik menjadi faktor penting dalam menjaga keberhasilan produksi pertanian," kata Iskandar Usman Alfarlaky.
Menurut dia, percepatan penanganan irigasi tidak hanya berdampak pada kelancaran pengairan sawah, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan daerah.
"Jika suplai air kembali normal, petani dapat segera melaksanakan proses tanam sehingga target produksi pertanian dapat tercapai," katanya.
Permohonan percepatan perbaikan irigasi juga disampaikan kepada Gubernur Aceh, Ketua DPRK Aceh Timur, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, serta Kepala Dinas Pengairan Aceh.
Langkah itu dilakukan sebagai upaya memperkuat koordinasi lintas instansi agar penanganan kerusakan jaringan irigasi di Pante Bidari dapat segera direalisasikan.
"Dengan adanya percepatan perbaikan dan normalisasi jaringan irigasi, aktivitas pertanian masyarakat dapat kembali berjalan normal pascabencana, Produktivitas sawah meningkat, serta kesejahteraan petani tetap terjaga," kata Iskandar Usman Alfarlaky.





