TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sleman mengalami tren penurunan di musim kemarau ini.
Hingga pertengahan tahun 2026 ini, tercatat 76 kasus dan belum ada laporan kematian penyakit akibat gigitan nyamuk Aedes aegypti ini.
Namun, di balik melandainya kasus, masyarakat diimbau tidak lengah, tetap memperketat kewaspadaan dengan menjaga kebersihan lingkungan.
Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, Khamidah Yuliati, mengatakan kasus DBD di Bumi Sembada hingga saat ini tercatat 76 kasus.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan total kasus tahun 2024 yang bisa mencapai 675 kasus dan 423 kasus pada tahun 2025.
"Alhamdulillah, sampai dengan hari ini tidak ada kematian yang disebabkan karena DBD," ujar Yuli, Kamis (25/6/2026).
Yuli mengatakan, 76 kasus yang terdata saat ini mayoritas merupakan kasus impor atau tertular dari luar wilayah karena tidak ditemukan adanya penularan setempat.
Keberhasilan menekan angka ini, menurut dia, merupakan buah dari upaya kolektif mulai dari program Wolbachia hingga masifnya operasi pemberantasan sarang nyamuk yang dilakukan warga.
Kedua program tersebut dinilai saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Baca juga: 286 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak Terjadi di Sleman Sepanjang 2025, Pemkab Gandeng KemenPPPA
Meski tren kasus menurun, Yuli menegaskan bahwa kewaspadaan masyarakat tidak boleh kendor.
Ia mendorong peran aktif Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) dari tingkat dasawisma, RT, RW, hingga kalurahan tetap berjalan.
"Kewaspadaan tetap harus ada, tidak boleh menurun. Pokjanal dari tingkat dasawisma, RT, RW, kalurahan tetap harus dilakukan," katanya.
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pengendalian vektor, serta menjaga kebersihan lingkungan menurutnya harus dijadikan kebiasaan sehari-hari.
Termasuk pengendalian terhadap tikus.
Mengingat hewan pengerat ini merupakan vektor atau binatang pembawa penyakit yang dapat menularkan bakteri maupun virus berbahaya seperti leptospirosis maupun hantavirus.
"Jadi penyakit zoonosis dengan tular vektor yang ada disekitar kita, maka hal itu harus menjadi kewaspadaan pada masyarakat kita," kata dia.(*)