TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Agenda besar peningkatan mutu Sumber Daya Manusia (SDM) yang diusung oleh Kabinet Merdeka Berwujud nyata lewat intervensi sarana publik.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Prof. Abdul Mu'ti, menegaskan bahwa program revitalisasi gedung sekolah secara masif merupakan salah satu pilar prioritas pembangunan nasional yang dicanangkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.
Kebijakan strategis ini tidak hanya berfokus pada estetika bangunan, melainkan diarahkan secara terukur untuk menciptakan ekosistem lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, serta mampu memicu lompatan kualitas pendidikan di seluruh pelosok Indonesia, Kamis 25 Juni 2026.
Menurut Guru Besar tersebut, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan dasar hingga menengah bukan sekadar urusan proyek fisik semata.
Infrastruktur yang representatif dipandang sebagai prasyarat utama (fasiitas penunjang) agar transformasi kurikulum dan proses belajar mengajar dapat diimplementasikan dengan maksimal demi melahirkan generasi emas yang kompetitif.
"Revitalisasi ini bukan tujuan, tetapi bagian dari usaha, bagian dari kebijakan yang muaranya pada peningkatan mutu pendidikan, yang diharapkan meningkatkan kualitas sumber daya manusia," jelas Abdul Mu'ti saat memberikan pengarahan di sela-sela kunjungan kerjanya.
Langkah taktis ini dibuktikan lewat komitmen anggaran dan eksekusi lapangan yang berjalan simultan.
Abdul Mu'ti memaparkan, sepanjang tahun anggaran 2025 lalu, jajaran kementerian bersama pemerintah daerah telah berhasil menuntaskan program revitalisasi komprehensif terhadap 16.167 satuan pendidikan di berbagai daerah urban maupun wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).
Baca juga: Revitalisasi 27 Sekolah, Edi Kamtono Pacu Peningkatan Mutu Pendidikan Pontianak
Melanjutkan tren positif tersebut, peta jalan pembangunan nasional dipastikan terus bergulir pada tahun anggaran 2026 ini.
Pemerintah pusat awalnya mematok target penyelesaian revitalisasi sebanyak 11.744 satuan pendidikan yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.
Namun, menyadari pentingnya akselerasi pemenuhan ruang kelas dan fasilitas sekolah yang layak secara merata, skala prioritas ini mendapatkan suntikan energi baru.
Pemerintah berencana memperluas jaringan dan menambah cakupan kuantitas program revitalisasi sekolah melalui dukungan anggaran darurat langsung atas instruksi khusus Presiden Prabowo.
"Dan insya Allah akan ada tambahan dari Bapak Presiden 6.000 satuan pendidikan sehingga tahun ini pemerintah akan melakukan revitalisasi untuk 17.744 satuan pendidikan di semua daerah," ungkapnya menutup pemaparan materi.
Dengan penambahan kuota yang signifikan tersebut, diharapkan persoalan sekolah dengan kategori rusak berat, minim fasilitas sanitasi, maupun ruang kelas yang tidak layak pakai dapat segera tuntas dalam waktu dekat.
Kementerian juga mengimbau kepada seluruh kepala daerah agar aktif bersinergi dalam melakukan perawatan aset pendidikan yang telah bersolek tersebut agar asas manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang oleh generasi-generasi mendatang.
Revitalisasi gedung SDN 05 Pontianak Timur dinilai membawa dampak positif terhadap kenyamanan belajar siswa. Para peserta didik disebut lebih antusias datang ke sekolah dengan raut wajah gembira serta rasa bangga terhadap lingkungan belajar mereka. Di sisi lain, para guru juga merasakan suasana kerja yang lebih tenang dan kondusif sehingga dapat lebih fokus dalam pembelajaran serta penguatan karakter siswa.
Kepala SDN 05 Pontianak, Bona Ventura, menyampaikan hal tersebut saat memberikan testimoni pada peresmian revitalisasi gedung sekolah se-Kota Pontianak yang dipusatkan di SDN 05 Pontianak Timur, Kamis 25 Juni 2026.
"Bagi masyarakat di sekitar, sekolah kami tidak hanya berdiri tegak, tapi sebagai bukti nyata bahwa pemerintah hadir dalam membangun pendidikan hingga ke ruang yang paling kecil," Ceritanya.
Ia menjelaskan, sebelum dilakukan revitalisasi, kondisi tata ruang sekolah belum sepenuhnya mendukung penerapan Kurikulum Merdeka secara optimal, yang menuntut siswa lebih aktif bergerak, berdiskusi, dan belajar secara fleksibel dari berbagai arah.
Meski demikian, semangat belajar siswa tetap terjaga.
"Saya merasa ada harapan besar yang belum pernah bisa dimunculkan karena keterbatasan kondisi lingkungan belajar. Namun, harapan itu berubah menjadi kenyataan ketika sekolah saya ditetapkan sebagai salah satu sekolah penerima program revitalisasi tahun 2025," katanya. (*)