Dibom 200 Kali, Chongqing Menolak Melupakan Sejarah
Yocerizal June 26, 2026 02:03 AM

Laporan: Yocerizal *)

SULIT membayangkan kawasan yang kini dipenuhi gedung pencakar langit, pusat belanja, dan keramaian wisatawan ini pernah menjadi sasaran lebih dari 200 kali pengeboman udara Jepang. Namun justru di jantung Kota Chongqing itulah sejarah itu masih berdiri, melalui sebuah monumen bernama Jiefangbei.

Di tengah lalu-lalang warga dan wisatawan, monumen berbentuk segi delapan itu berdiri tenang. Tingginya memang tak lagi mampu menandingi gedung-gedung modern yang mengelilinginya, tetapi makna yang dikandungnya jauh melampaui bangunan-bangunan di sekitarnya.

Jiefangbei menjadi penanda bahwa Chongqing memilih untuk mengingat, bukan melupakan, salah satu periode paling kelam dalam sejarahnya.

Saya mengunjungi kawasan tersebut sebagai bagian dari program kunjungan media yang difasilitasi Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Medan. Program itu diikuti 14 wartawan dari berbagai media yang beroperasi di Sumatera.

Rombongan dipimpin Wakil Konsul Jenderal Tiongkok di Medan, Yu Lei, dan didampingi Ketua Harian Perhimpunan MITSU (Masyarakat Indonesia Tionghoa Sumatera Utara), Juswan Tjoe.

Saat mengunjungi kawasan itu, saya melihat bagaimana warga dan wisatawan berlalu-lalang di antara pusat perbelanjaan, restoran, dan gedung modern. 

Namun di tengah hiruk-pikuk aktivitas ekonomi tersebut, sejarah tetap berdiri tegak.

Baca juga: Di Markas WCICO, Chongqing Bercerita kepada Dunia Lewat Media

Baca juga: Di Balik Jamuan Makan Siang di Chongqing, Peluang untuk Kopi Aceh

Pemandu menjelaskan bahwa kawasan Jiefangbei bukan sekadar pusat bisnis Chongqing. Tempat itu merupakan satu-satunya monumen di Tiongkok yang dibangun untuk memperingati kemenangan dalam perang melawan Jepang.

Pengeboman Besar-besaran

Sejarahnya bermula pada 1931 ketika pemerintah saat itu memutuskan membangun sebuah 'Benteng Semangat' untuk membangkitkan semangat rakyat menghadapi invasi Jepang. 

Ketika Perang Tiongkok-Jepang berlangsung, Chongqing menjadi salah satu sasaran utama serangan udara.

Antara 1938 hingga 1944, kota ini mengalami lebih dari 200 kali pengeboman besar-besaran. Benteng Semangat yang berdiri di lokasi tersebut beberapa kali hancur akibat serangan, namun terus dibangun kembali.

Setelah berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada 1949, pemerintah pusat kemudian membangun kembali kawasan itu menjadi Monumen Peringatan Perang Perlawanan Rakyat Tiongkok yang kini dikenal sebagai Tugu Pembebasan.

Mendengar kisah tersebut, saya membayangkan bagaimana kota yang kini tampak modern dan gemerlap ini pernah menjadi medan perang yang berkali-kali diguncang ledakan bom.

Namun yang menarik, Chongqing tidak berusaha menghapus masa lalunya. Sebaliknya, kota ini justru merawat ingatan sejarah tersebut dan menjadikannya bagian dari identitas kota.

Jalan Tua Shibati

Dari Jiefangbei, perjalanan saya berlanjut ke kawasan Jalan Tua Shibati. Berbeda dengan suasana modern di pusat kota, kawasan ini menawarkan gambaran Chongqing tempo dulu.

Shibati berada di kawasan perbukitan yang curam. Lorong-lorongnya dipenuhi bangunan bergaya tradisional, toko suvenir, serta pedagang makanan khas setempat. 

Jalan Tua Shibati
JALAN TUA SHIBATI - Penulis menyusuri kawasan Jalan Tua Shibati di Chongqing, Tiongkok, Selasa (25/6/2026).

Di tengah pesatnya pembangunan, kawasan tua ini tidak digusur, melainkan direvitalisasi dan dipertahankan sebagai bagian dari warisan sejarah kota.

Berjalan menyusuri Shibati, saya merasakan bagaimana Chongqing berupaya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian identitas budaya.

Jejak sejarah itu tidak hanya hadir melalui bangunan dan kawasan kota lama. Pada sore hari, saya menyaksikan pertunjukan Opera Sichuan bertajuk "1941".

Pertunjukan tersebut menampilkan berbagai atraksi budaya, mulai dari sulap, wayang kulit, seni minum teh hingga pertunjukan ganti topeng atau bian lian yang menjadi ikon Opera Sichuan.

Bagi penonton, pertunjukan itu mungkin terlihat sebagai hiburan. Namun bagi saya, pertunjukan tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat Chongqing menjaga tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di tengah perkembangan teknologi dan modernisasi yang berlangsung sangat cepat di Tiongkok, budaya lokal tetap memperoleh ruang untuk hidup.

OPERA SICHUAN CHONGQING
OPERA SICHUAN - Seorang seniman menampilkan pertunjukan Opera Sichuan di Chongqing, Tiongkok, Selasa (25/6/2026).

Kunjungan ke Jiefangbei, Shibati, dan pertunjukan Opera Sichuan memberikan gambaran bahwa Chongqing tidak hanya membangun masa depan. Kota ini juga berupaya menjaga hubungan dengan masa lalunya.

Di kota yang pernah mengalami lebih dari 200 kali pengeboman ini, sejarah tidak dibiarkan hilang. Ia hadir dalam monumen, kawasan kota tua, dan pertunjukan budaya yang terus dipertahankan hingga hari ini.

Mungkin itulah salah satu pelajaran penting dari Chongqing: kemajuan tidak selalu berarti melupakan masa lalu. Sebaliknya, sejarah dapat menjadi fondasi yang memperkuat langkah menuju masa depan.(*)

*) PENULIS adalah jurnalis Serambinews.com (Serambi Indonesia) yang mengikuti program kunjungan media ke Chongqing dan Beijing, Tiongkok, pada Juni 2026.

Baca juga: BREAKING NEWS - Satu Lagi Korban Ledakan KMP Aceh Hebat 2 Meninggal, Kali Ini Taruna Asal Sabang

Baca juga: Trump: Turkiye Hampir Ikut Perang, Bantu Iran Lawan Israel

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.