Angkat Potensi Lokal lewat Batik dan Tarian, Banyuanyar Makin Bersinar Berkat Desa BRILiaN
Bobby Wiratama June 26, 2026 03:38 AM

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Endra Kurniawan

TRIBUNNEWS.COM - Aroma lilin malam batik semerbak dari teras Posyandu Lidah Buaya 2 di Dukuh Geneng, Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (1/4/2026).

Pagi itu, suasana Kampung Batik Geneng Banyuanyar tampak lebih ramai dari biasanya. Belasan ibu yang tergabung dalam Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Kampung Ekonomi Kreatif Batik Tulis sibuk mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk menyambut tamu istimewa.

Mereka kedatangan 50 peserta Program Local Hero binaan PT PLN Power Unit Pembangkitan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. 

Rombongan tersebut ingin melihat langsung bagaimana Desa Banyuanyar mengembangkan desa wisata berbasis agro-eco-edu tourism dengan UMKM sebagai ujung tombak penggerak ekonomi sekaligus daya tarik wisata.

Tak lama kemudian, deru mesin jeep memecah suasana, menandai kedatangan para peserta. 

Antusiasme mereka langsung terlihat. Sebagian tak sabar mencoba membatik menggunakan canting, sementara yang lain asyik menggali sejarah dan perkembangan batik di Desa Banyuanyar.

Kunjungan yang penuh kesan tersebut ditutup dengan sesi foto bersama antara para peserta, mengabadikan pengalaman mengenal lebih dekat warisan budaya sekaligus kreativitas warga desa.

lihat foto
DESA BRILIAN - Peserta Program Local Hero binaan PT PLN Power Unit Pembangkitan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, saat mencoba membantik menggunakan canting di Dukuh Geneng, Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (1/4/2026).

Kampung Ekonomi Kreatif Batik Tulis Desa Banyuanyar berdiri pada 2023 atas inisiatif 15 ibu-ibu yang merupakan pengurus RT setempat.

“Tujuan utamanya untuk memajukan desa dengan mengangkat potensi lokal serta melestarikan kebudayaan membatik,” kata ketua kelompok, Tri.

Sejak awal, kelompok ini menghadapi berbagai tantangan, terutama keterbatasan modal. Beruntung, BUMDes memberikan dukungan berupa suntikan dana.

Tri juga mengakui ia dan rekan-rekannya di Kampung Ekonomi Kreatif Batik Tulis Desa Banyuanyar tidak memiliki kemampuan membatik. Kemudian hadirlah mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta yang memberi pelatihan dari nol.

“Kami diajari dari mahasiswa ISI, dengan penuh kesabaran serta telaten mereka mengajari kami,” lanjut Tri.

Proses pelatihan meliputi pembuatan motif, teknik mencanting, gradasi pewarnaan, teknik penguncian dengan waterglass, hingga terakhir ngelorot untuk menghilangkan sisa-sisa lilin malam.

Pelan tapi pasti, kemampuan ibu-ibu yang biasanya sibuk dengan urusan dapur ini semakin meningkat. Tangan mereka semakin terampil menggoreskan canting di atas kain putih.

Puncaknya berkat dukungan dari tim ISI Surakarta, Desa Banyuanyar melahirkan Sekar Puspa Kawruh Jati, motif batik yang menggambarkan identitas lokal desa beserta kekayaan alamnya.

lihat foto
DESA BRILIAN - Kelompok Ekonomi Kreatif (Ekraf) Desa Banyuanyar bersama Mahasiswa KKN Tematik ISI Solo menggelar pelatihan membatik dan mewarnai Batik Khas Desa Banyuanyar, di Kediaman Ibu Ngatemi, Dukuh Geneng, Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Sabtu (13/12/2025). (Dok. ISI Surakarta)

“Motif batik dari kami yaitu gambar kopi, jahe, susu, dan lebah madu. Filosofinya menggambarkan semangat masyarakat Banyuanyar,” urai Tri.

Kini, Kampung Ekonomi Kreatif Batik Tulis Desa Banyuanyar mampu memproduksi sekitar tiga lembar kain batik setiap bulan. Batik bermotif sederhana dijual Rp250 ribu, sedangkan motif rumit dibanderol hingga Rp3 juta per lembar.

“Batik-batik kami sudah dijual secara online dan menerima pesanan,” ujar Tri.

Tri dalam wawancaranya turut bersyukur gelar Desa BRILiaN yang disandang Desa Banyuanyar turut berdampak ke UMKM batik dengan meningkatnya kunjungan wisatawan. Hal ini menjadi penyemangat untuk terus berkreasi dan memajukan desa melalui budaya.

“Komitmen kami siap terus berkreasi dengan harapan batik asli desa kami semakin dikenal luas,” tandasnya.

Tari Kopi Barendo

lihat foto
DESA BRILIAN - Pengunjung Desa Wisata Banyuanyar saat menikmati suguhan budaya seni tari dari anak-anak sekolah dasar.

Di lokasi lain, peserta Local Hero binaan PT PLN Power Unit Pembangkitan Paiton disambut hangat dengan suguhan Tari Kopi Barendo yang dibawakan empat anak Desa Banyuanyar, tergabung dalam Kelompok Seni Budaya Manunggal Laras.

Dengan gerakan yang luwes dan penuh penghayatan, para penari mengisahkan semangat para petani kopi dalam mengolah hasil bumi kebanggaan desa. Setiap gerakan terinspirasi dari aktivitas memetik hingga mengolah kopi, mengalir dinamis dan sarat makna kebersamaan.

Tarian ini tidak hanya menjadi hiburan penyambut tamu, tetapi juga cerminan kekayaan budaya serta semangat gotong royong masyarakat Desa Banyuanyar dalam menjaga tradisi dan mengembangkan potensi lokal.

Pembina tari Desa Banyuanyar Nur Nidayah mengatakan, Kelompok Seni Budaya Manunggal Laras sudah berdiri sejak 1997. Kini, anggotanya berjumlah 170 penari dengan rentang usia 10 hingga 12 tahun.

“Berdirinya bukan buat komersial, tapi untuk melestarikan dan mengenalkan budaya serta sejarah desa kepada wisatawan. Waktu itu, kegiatan tradisional seperti karawitan mulai ditinggalkan generasi muda, jadi para sesepuh desa membuat wadah biar nggak punah,” katanya kepada Tribunnews.com.

Nur melanjutkan, Desa Banyuanyar telah memiliki tarian asli, yakni Tari Bregodo Lembu Banyuanyar dan Tari Kopi Barendo yang tercipta berkat kolaborasi dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Dua tari ini menjadi andalan untuk memperkenalkan potensi lokal kepada para wisatawan, termasuk  Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto, Wakil Mendes PDT Ahmad Riza Patria beserta rombongan pada Selasa (13/1/2026) lalu.

Keduanya menggelar acara Ngopi Bareng bersama Bupati Boyolali Agus Irawan, Wakil Bupati Semarang Nur Arifah, Anggota DPR Muhammad Hatta, Ketua Perkumpulan Aparatur Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (PAPDESI) Wargiyanti, dan sejumlah kepala desa di wilayah Boyolali.

lihat foto
DESA BRILIAN - Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto, Wakil Mendes PDT Ahmad Riza Patria beserta rombongan saat berkunjung di Desa Banyuanyar pada Selasa (13/1/2026) lalu

“Peran kesenian tari dalam mendukung wisata di Banyuanyar adalah untuk menyambut para tamu baik itu lokal maupun dari luar kota. Serta menunjukkan hasil bumi desa yang tertuang dalam bentuk tari,” tegas Nur.

Sama seperti halnya batik, Kelompok Seni Budaya Manunggal Laras turut mendapatkan berkah dari juara di ajang Desa BRILian 2024. Usai menang, Desa Banyuanyar dapat gelontoran dana pembinaan Corporate Social Responsibility (CSR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).

“BRI bangun gerbang Kampus Kopi, gardu pandang kebun kopi, paving area campervan dan tenda dome. Fasilitas ini langsung dimanfaatkan untuk pertunjukan. Contoh Tari Turonggo Seto dipakai menyambut wisatawan yang naik jeep keliling kebun kopi,” tutur Nur.

Bagi perempuan yang berprofesi sebagai guru tersebut, ajang Desa BRILian bukan semata tentang hadiah yang diperoleh. Lebih dari itu, program ini menjadi peluang besar untuk mengangkat nama Desa Banyuanyar agar semakin dikenal di tingkat nasional.

Dampaknya pun mulai terasa. Para pelaku seni dan budaya kian bersemangat melestarikan warisan leluhur, sementara berbagai potensi desa semakin mendapat perhatian. 

Publikasi yang luas turut membuka peluang kunjungan wisatawan, sehingga Desa Banyuanyar tidak hanya dikenal karena prestasinya, tetapi juga karena kekayaan budaya dan pesona wisatanya.

“Singkatnya BRILiaN adalah modal. Modal pelatihan, modal infrastruktur, modal branding. Modal itu dipakai desa untuk mengangkat tari jadi bagian kegiatan budaya. Ujungnya bisa menjalankan mesin ekonomi wisata,” tutup Nur.

Sinergi Budaya dan Pemberdayaan UMKM

lihat foto
DESA BRILIAN - Infografis Desa Wisata Banyuanyar, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. (Dibuat dengan AI)

Bagi Kepala Desa Banyuanyar, Komarudin, pengembangan wisata berbasis agro-eco-edu tourism tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam atau potensi ekonomi semata. Menurutnya, keberhasilan desa wisata harus ditopang oleh sinergi antara pelestarian budaya dan pemberdayaan UMKM yang tumbuh dari masyarakat setempat.

Desa Banyuanyar sendiri memiliki 18 kampung UMKM dengan beragam produk unggulan, mulai dari susu, kopi, hingga olahan jahe. Potensi ekonomi tersebut dipadukan dengan kekayaan budaya lokal untuk menciptakan pengalaman wisata yang autentik dan berkelanjutan.

"Budaya dan UMKM tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Keduanya harus saling menguatkan agar menjadi daya tarik yang berkesan bagi wisatawan," ujar Komarudin.

Ia mencontohkan Batik Tulis Sekar Puspa Kawruh Jati, Tari Kopi Barendo, dan Tari Bregodo Lembu yang lahir dari kehidupan masyarakat Desa Banyuanyar.

Ketiganya bukan sekadar karya seni atau produk budaya, melainkan representasi dari navigasi ekologi budaya, yakni cara masyarakat menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan sistem sosial yang terus berkembang.

“Konsep ini berfokus pada pelestarian kearifan lokal, adaptasi terhadap perubahan iklim, serta pengembangan pariwisata berkelanjutan yang inklusif di era modern dan digital, khususnya di Desa Wisata Tematik Kampus Kopi Banyuanyar,” jelas Komarudin kepada Tribunnews.com.

Melalui pendekatan tersebut, Desa Banyuanyar tidak hanya menawarkan destinasi wisata, tetapi juga menghadirkan ruang belajar yang mempertemukan budaya, lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat dalam satu ekosistem yang saling menghidupi.

Pandangan serupa disampaikan Ketua Tim Pendampingan ISI Surakarta, Prajanata Bagiananda Mulia. Menurutnya, kekuatan sebuah desa wisata terletak pada kemampuannya mengangkat identitas lokal yang autentik.

“Setiap desa punya potensi unik. Kalau potensi itu diterjemahkan ke dalam seni, identitasnya akan jauh lebih kuat,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Ia menilai pendekatan berbasis seni dan budaya tidak hanya melahirkan karya-karya kreatif baru, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki masyarakat terhadap desa wisata yang sedang mereka bangun bersama. Dari situlah lahir identitas yang kuat, sekaligus menjadi pembeda yang mampu menarik perhatian wisatawan di tengah persaingan destinasi wisata yang semakin ketat.

Komitmen BRI Dorong Desa Mandiri

lihat foto
DESA BRILIAN - Suasana pagi di Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, terlihat semarak saat sejumlah jeep berwarna-warni memenuhi kawasan Lapangan Gedung IKM Kampus Kopi, pada Rabu (1/4/2026).

Social Entrepreneurship & Incubation Division Head PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), Evi Sulistiawati menjelaskan dari desa se-Indonesia, baru 53,92 persen masuk ke dalam golongan maju dan mandiri. 

Sisanya 46,08 persen masih berkembang, tertinggal, dan sangat tertinggal, berdasarkan data terbaru Direktorat Jenderal Pembangunan Desa dan Perdesaan (Ditjen PDP).

Berdasarkan kondisi tersebut, BRI terdorong melakukan pemberdayaan desa dengan tujuan menghasilkan role model pembangunan desa dengan mengoptimalkan potensi desa berbasis Sustainable Development Goals (SDG) lewat program Desa BRILiaN.

"Program ini juga bentuk komitmen BRI dalam mendukung Asta Cita pemerintahan yang menekankan pembangunan dari desa untuk mencapai pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan," kata Evi dalam keterangannya.

Desa BRILiaN memiliki empat pilar yang menjadi fokus pemberdayaan. Pertama, BUMDes dan koperasi desa jadi motor penggerak ekonomi desa. Kedua, digitalisasi yang merupakan implementasi produk dan aktivitas digital di desa. Ketiga, sustainability atau keberlanjutan dalam membangun desa. Dan keempat, kreatif dalam menciptakan inovasi desa.

"Objek pemberdayaan meliputi perangkat desa, pengurus BUMDes, badan permusyawaratan desa, pelaku usaha desa, dan juga penggiat produk unggulan," urai Evi.

Sejak diluncurkan pada 2020, sudah ada 5.245 Desa BRILiaN yang berkomitmen untuk maju dengan program-programnya.

Evi melanjutkan, di tahun 2026 ini, BRI menargetkan akan lahir lagi 1.000 peserta Desa BRILiaN di penjuru Indonesia.

"Semoga pelaksanaan program Desa BRILiaN mampu memberikan kontribusi nyata dan positif bagi kebangkitan ekonomi masyarakat desa," harapnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.