TRIBUNNEWS.COM - Menjelang peringatan Hari Keluarga Nasional pada 29 Juni, tema Khutbah Jumat 26 Juni 2026 yakni "Mendidik dengan Teladan, Bukan Teriakan".
Tema ini mengajak umat Islam untuk merefleksikan peran keluarga dalam membentuk karakter anak.
Sebab, rumah merupakan tempat pertama bagi anak belajar tentang Tuhan, akhlak, kasih sayang, kejujuran, tanggung jawab, hingga cara bersikap kepada sesama.
Khutbah ini menekankan bahwa pendidikan terbaik bagi anak bukan melalui kemarahan atau teriakan, melainkan melalui keteladanan yang diberikan orang tua dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan menjadi contoh yang baik, keluarga dapat menjadi fondasi kuat dalam mencetak generasi yang berakhlak mulia dan bertanggung jawab.
Melansir laman simbi.kemenag.go.id, berikut teks khutbah Jumat, 26 Juni 2026:
Baca juga: Teks Khutbah Jumat, 26 Juni 2026: Hikmah Hijrah dan Keutamaan yang Terkandung dalam Bulan Muharram
Jemaah Jum’at yang dimuliakan Allah,
Pada 29 Juni, bangsa kita memperingati Hari Keluarga Nasional. Peringatan ini seharusnya tidak berhenti pada slogan keluarga harmonis. Ia harus menjadi cermin bagi rumah kita masing-masing. Sebab rumah adalah tempat pertama seorang anak belajar tentang Tuhan, akhlak, kasih sayang, marah, maaf, jujur, dan tanggung jawab.
Sebelum anak mengenal sekolah, ia lebih dulu membaca wajah ayah dan ibunya. Sebelum anak mendengar nasihat guru, ia lebih dulu mendengar suara orang tuanya. Karena itu Rasulullah saw mengingatkan:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (H.R. Tirmidzi).
Hadis ini menempatkan rumah sebagai ujian pertama akhlak kita. Sebab di luar rumah orang bisa tampil ramah, tetapi di rumah watak asli sering terlihat. Bagaimana ia berbicara kepada pasangan, bagaimana ia menegur anak, bagaimana ia mengendalikan marah, dan bagaimana ia menjadi teladan.
Di sinilah kita perlu jujur: keluarga seperti apa yang sedang kita bangun? Apakah rumah kita menjadi tempat anak merasa aman, atau tempat anak selalu takut salah? Apakah suara orang tua menjadi keteduhan, atau menjadi teriakan yang membuat hati anak menjauh? Apakah agama hadir di rumah sebagai kasih sayang, atau hanya muncul sebagai kemarahan dan ancaman?
Allah Swt berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (Q.S. At-Tahrim [66]: 6).
Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini menjelaskan bahwa menjaga keluarga dari neraka berarti mendidik mereka, mengajarkan kebaikan, dan mengarahkan mereka kepada ketaatan. Maka pendidikan keluarga bukan hanya soal membiayai sekolah dan menyediakan makanan. Tentu itu penting, tetapi belum cukup. Yang juga harus disediakan orang tua adalah iman, teladan, rasa aman, dan kasih sayang yang membuat anak mengenal agama sebagai rahmat.
Jemaah yang dirahmati Allah,
Hari ini ada istilah yang sering disebut toxic parenting, yaitu pola pengasuhan yang niatnya ingin mendidik, tetapi caranya justru melukai. Anak ditegur, tetapi dengan hinaan. Anak diarahkan, tetapi dengan bentakan. Anak dibandingkan, dipermalukan, ditakut-takuti, lalu orang tua merasa semua itu wajar karena merasa sedang mendidik. Padahal tidak semua yang disebut “demi kebaikan anak” benar-benar baik bagi jiwa anak.
Kajian psikologi modern juga mengingatkan hal yang sama. Ming-Te Wang dan Sarah Kenny dalam riset yang diterbitkan di Child Development tahun 2014 menemukan bahwa disiplin verbal yang keras dari orang tua, seperti bentakan, hinaan, dan kata-kata merendahkan, berkaitan dengan meningkatnya masalah perilaku dan gejala depresi pada remaja. Ini mengingatkan kita bahwa kata-kata kasar tidak selalu selesai ketika suara berhenti. Bisa jadi orang tua sudah lupa pernah membentak, tetapi anak menyimpannya bertahun-tahun sebagai luka.
Jemaah sekalian,
Islam tidak mengajarkan pendidikan yang kering dari kelembutan. Rasulullah saw adalah manusia paling mulia, pemimpin umat, pembawa wahyu, tetapi cara beliau mendidik tidak penuh bentakan. Anas bin Malik r.a. menerangkan tentang kelembutan Rasulullah saw:
“Aku melayani Rasulullah saw selama 10 tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah berkata ‘ah’ kepadaku, dan tidak pernah berkata terhadap sesuatu, ‘Mengapa engkau melakukan ini?’ atau ‘Mengapa engkau tidak melakukan ini?’” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini adalah contoh luar biasa. Rasulullah saw mendidik bukan dengan merendahkan, mempermalukan, atau membuat kehilangan harga diri. Kalau Nabi yang memikul amanah sebesar itu mampu menjaga lisannya kepada Anas selama 10 tahun, maka kita perlu bertanya kepada diri sendiri: mengapa rumah kita sering merasa harus mendidik dengan suara tinggi? Mengapa nasihat yang baik sering kita bungkus dengan wajah marah? Mengapa anak harus takut lebih dulu baru kita merasa berhasil mendidiknya?
Jemaah yang dimuliakan Allah,
Al-Qur’an juga memberi contoh indah melalui Luqman. Ketika Luqman menasihati anaknya tentang tauhid, ia berkata:
“Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.” (Q.S. Luqman [31]: 13).
Perhatikan panggilannya: يٰبُنَيَّ, wahai anakku tersayang. Dalam Tafsir Al-Mishbah, Quraish Shihab memberi perhatian pada kelembutan panggilan ini sebagai bahasa kasih seorang ayah kepada anak. Ini pelajaran besar bagi orang tua: isi nasihat memang penting, tetapi cara menyampaikan nasihat menentukan apakah hati anak terbuka atau tertutup.
Rasulullah saw juga memberi teladan yang sangat manusiawi. Suatu hari Rasulullah saw mencium cucunya, Hasan bin Ali r.a. Seorang sahabat bernama Al-Aqra’ bin Habis melihat hal itu, lalu berkata bahwa ia memiliki sepuluh anak, tetapi tidak pernah mencium seorang pun dari mereka. Rasulullah saw menanggapi sikap keras itu dengan bersabda:
“Siapa yang tidak menyayangi, ia tidak akan disayangi.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Coba kita bayangkan suasana itu. Rasulullah saw adalah pemimpin umat, nabi, rasul, panglima, dan manusia paling mulia. Tetapi beliau tidak malu menunjukkan kasih sayang kepada anak kecil. Beliau tidak membangun wibawa dengan wajah yang selalu keras. Beliau tidak menjadikan jarak sebagai tanda kemuliaan. Beliau mengajarkan bahwa kasih sayang bukan kelemahan. Kasih sayang adalah pintu agar nasihat masuk ke hati.
Di hadis lain, Rasulullah saw bersabda:
“Orang kuat bukanlah orang yang menang bergulat. Orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini sangat dekat dengan rumah kita. Banyak orang tua merasa kuat ketika suaranya paling keras di rumah. Padahal kekuatan sejati adalah saat ia mampu menahan amarah ketika anak melakukan kesalahan. Kekuatan sejati adalah memilih kata yang mendidik, bukan kata yang melukai. Kekuatan sejati adalah tetap menjadi orang tua yang dekat dengan anak, bukan berubah menjadi ancaman yang ditakuti anak.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Maka pulanglah hari ini dengan tekad yang lebih jujur. Kurangi teriakan, perbanyak teladan. Kurangi celaan, perbanyak dialog. Kurangi membandingkan, perbanyak mendoakan. Tegur anak, tetapi jangan hinakan. Arahkan anak, tetapi jangan patahkan hatinya. Sebab anak mungkin lupa sebagian nasihat kita, tetapi ia akan lama mengingat suasana rumah yang kita ciptakan.
Semoga Allah menjadikan rumah kita rumah yang penuh sakinah. Semoga Allah melembutkan hati para orang tua dan menjaga anak-anak kita dari kerusakan zaman. Dan semoga Allah menjadikan kita orang tua yang mendidik dengan teladan, bukan dengan teriakan. Amin.
(Tribunnews.com/Latifah)