TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Ribuan warga antre nasi jangkrik di kompleks Masjid Menara Kudus.
Nasi jangkrik biasa dibagikan pada puncak peringatan buka luwur makam Sunan Kudus.
Matahari belum terbit ketika antrean ribuan orang sudah mulai mengular di kompleks Masjid Menara Kudus, Kamis (25/6/2026).
Pada pukul 04.40, selepas subuh, ribuan orang mengantre untuk mendapatkan nasi berkat, atau warga Kudus biasa menyebutnya nasi jangkrik.
Pembagian nasi jangkrik ini biasa dilakukan setiap 10 Muharam atau bertepatan dengan puncak peringatan buka luwur.
Sebuah tradisi penggantian kain penutup makam Sunan Kudus yang dilakukan setiap tahun.
Makam Sunan Kudus ini lokasinya berada persis di belakang Masjid Al-Aqsa, nama resmi Masjid Menara Kudus.
Antrean ribuan orang ini mengular di sepanjang Jalan Menara.
Jalan yang membentang dari utara ke selatan di depan Masjid Menara Kudus.
Para perempuan mengantre sejak dari Perempatan Menara sampai di depan Menara Kudus, sedangkan laki-laki sejak Perempatan Sucen memanjang di sepanjang Jalan Menara.
Di lokasi tampak ratusan polisi, TNI, dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) turut serta mengatur jalannya antrean.
Di sepanjang antrean di Jalan Menara, terdapat barikade sebagai pembatas antrean.
Tiap orang yang hendak mendapatkan sebungkus nasi jangkrik, harus melewati barisan barikade tersebut.
Setelah selesai melewati barikade, orang hendak mendapatkan nasi jangkrik diarahkan untuk melewati lorong-lorong sempit Desa Kauman sampai akhirnya mereka mendapatkan jatah nasi jangkrik yang dibagikan ujung lorong Desa Kauman.
Berkah
Di antara ribuan orang yang mengantre tersebut, yaitu Kasani (52), warga Desa Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus.
Dia datang bersama istri dan dua anaknya selepas salat subuh, sekitar pukul 04.50.
Baginya, nasi dengan lauk olahan daging kerbau dan kambing ini bukan sekadar kudapan biasa.
Di dalamnya ada keberkahan yang bisa dipetik dari nasi yang dibungkus daun jati.
“Antre sejak setelah subuh terus ke sini. Antrean sudah banyak,” kata Kasani.
Upaya Kasani untuk mendapatkan nasi jangkrik ini tidak sia-sia.
Setelah antre lebih dari satu jam, Kasani akhirnya bisa mendapatkan sebungkus nasi jangkrik.
Begitu juga dengan istri dan dua anaknya juga mendapatkan nasi serupa.
Tidak pakai lama, nasi jangkrik yang didapatkan Kasani langsung disantap di sebuah teras ruko.
Dia percaya, nasi yang sedang disantapnya memiliki daya berkah dari Tuhan melalui Sunan Kudus.
Berangkat dari kepercayaan inilah yang kemudian membuat Kasani setiap tahun ikut antre untuk mendapatkan nasi jangkrik.
Pengantre lainnya, Nur Saadah (43), warga Desa Cendono, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus juga melakukan hal serupa.
Sejak pagi buta dia bersama anaknya langsung bergegas dari rumah untuk ikut antre di kawasan Masjid Menara Kudus.
Berdesak-desakan dan lamanya antrean baginya tidak ada masalah.
Setelah lebih dari satu jam antre, Nur Saadah dan anaknya pun berhasil mendapatkan nasi jangkrik.
Nasi itu akan segera dibawa pulang. Dia akan memakannya bersama keluarga.
“Pengen dapat doanya dari Mbah Sunan Kudus,” kata Nur Saadah sembari bergegas pulang membawa dua nasi jangkrik.
Sunan Kudus
Gambaran antrean ribuan orang setiap 10 Muharam di kawasan Masjid Menara Kudus merupakan agenda tahunan yang selalu dinanti-nanti.
Pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), Denny Nur Hakim mengatakan, ini merupakan bentuk legitimasi oleh publik atas sosok Sunan Kudus sebagai penyebar Islam.
Sampai saat ini sosok Sunan Kudus masih sangat dihormati.
Hal itu bisa dibuktikan dengan adanya ribuan peziarah yang datang ke Makam Sunan Kudus setiap harinya.
“Jadi kenapa buka luwur di Kudus sangat meriah, bisa kami katakan ini bukti masyarakat Kudus yang meneladani Syekh Jafar Shodiq atau Sunan Kudus yang menyebarkan agama Islam serta mengajarkan kehidupan yang sudah diatur dalam agama Islam,” kata Denny.
Puncak dari peringatan buka luwur selalu yang berlangsung pada 10 Muharam dilakukan pembagian nasi jangkrik.
Tahun ini ada lebih dari 34 ribu porsi nasi jangkrik yang dibagikan.
Nasi ini memiliki lauk berupa olahan daging kerbau dan daging kambing.
Seluruh pembiayaan dalam setiap acara buka luwur pembiayaannya dari masyarakat.
Mereka secara suka rela memberikan sedekah berupa beras, bumbu dapur, kerbau, dan kambing.
Pada tahun ini ada 22 ekor kerbau dan 92 ekor kambing yang diterima panitia buka luwur.
Seluruhnya diolah untuk kemudian diserahkan kembali kepada masyarakat melalui pembagian nasi jangkrik.
Seluruh hewan berupa kerbau dan kambing yang diterima panitia buka luwur kemudian diolah menjadi dua menu, yakni nasi uyah asem dan nasi jangkrik.
Nasi uyah asem ini teksturnya kering tanpa ada kuah.
Menu inilah yang dibagikan kepada masyarakat secara umum karena lebih tahan lama.
Adapun nasi jangkrik dibagikan kepada tamu undangan dan sejumlah tokoh masyarakat.
Namun perbedaan menu ini seolah kabur.
Masyarakat Kudus lebih sering menyebut nasi yang dibagikan saat puncak buka luwur sebagai nasi jangkrik.
Kemudian disebut nasi jangkrik juga karena potongan daging sebagai lauk memiliki warna cokelat yang identik dengan warna jangkrik. (Rifqi Gozali)