BANJARMASINPOST.CO.ID - Pengalaman mengantar anggota keluarga menuju tempat peristirahatan terakhir menjadi momen yang membekas bagi Hj Wardah, warga Kelurahan Binuang, Kecamatan Binuang, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan (Kalsel).
Menurut dia, saat prosesi pengantaran jenazah berlangsung, keluarga besar dan kerabat turut berjalan bersama hingga ke pemakaman umum di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).
“Keluarga dan kerabat bersama-sama mengantar sampai ke kubur. Itu bentuk penghormatan terakhir dan kebersamaan,” ujar Wardah kepada Serambi UmmaH, Kamis (25/6/2026).
Baca juga: Proses Pemakaman KH Husin Naparin Berlangsung Khidmat, di Alkah Keluarga di Paringin Balangan
Dia menuturkan, saat itu pihak keluarga mengutamakan anggota keluarga laki-laki untuk mengangkat dan mengantar keranda menuju liang lahat.
Yang diprioritaskan, imbuh dia, anak laki-laki, adik, paman, keponakan, atau kerabat laki-laki terdekat.
“Tapi kalau diperlukan, orang lain juga dapat membantu,” tambahnya.
Wardah mengatakan, saat jenazah dibawa ke permakaman, umumnya keluarga perempuan tetap berada di rumah.
Meskipun dalam beberapa kondisi, ada pula yang ikut hingga area makam.
Dia menyebut, terdapat sejumlah kebiasaan atau tradisi yang dijalankan masyarakat setelah proses pemakaman selesai, seperti berkumpul, membaca doa, hingga mengaji bersama.
Namun demikian, Wardah menilai tiap keluarga memiliki kebiasaan yang berbeda-beda sesuai kondisi dan pemahaman masing-masing.
“Yang penting tetap mendoakan dan mengantar dengan baik. Tradisi bisa berbeda, tetapi tujuan utamanya tetap penghormatan dan doa untuk almarhum,” ucapnya.
Wardah menekankan pentingnya menjaga adab selama prosesi pemakaman serta saling menguatkan antaranggota keluarga yang ditinggalkan.
Mengantar jenazah bukan sekadar tradisi sosial, tapi juga jadi momen pembelajaran tentang keikhlasan, kebersamaan, dan pengingat akan kehidupan yang sementara.
Hal itu disampaikan Muhammad Ikhsan Fadhil saat berbagi pengalaman mengikuti prosesi pengantaran jenazah di lingkungan tempat kerjanya di Kecamatan Binuang, Tapin.
Menurut dia, dalam pelaksanaan pengantaran jenazah, niat menjadi hal utama. Masyarakat yang hadir dan membantu proses pemakaman dengan niat ikhlas, bukan karena alasan lain.
“Yang utama itu membantu sesama dan mengantar jenazah dengan tulus. Dalam ajaran Islam juga ada keutamaan bagi orang yang ikut menyalatkan dan mengantar jenazah hingga pemakaman,” ujar Ikhsan.
Dia membeberkan, pada kesempatan tersebut juga dibahas sejumlah kebiasaan masyarakat yang masih dijumpai saat prosesi pemakaman.
Termasuk tradisi membawa air dan taburan bunga di area makam.
Sebagian masyarakat memaknai penggunaan bunga basah dan penyiraman air sebagai bentuk doa dan penghormatan kepada yang telah meninggal.
Namun, masyarakat juga diingatkan agar membedakan antara ajaran agama dan tradisi yang berkembang di lingkungan setempat.
Ikhsan mengatakan, pengalaman mengikuti pengantaran jenazah tersebut menjadi pengingat bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta.
“Yang terasa bukan hanya suasana duka, tapi juga pelajaran supaya kita lebih banyak berbuat baik dan saling membantu,” pungkasnya.
(Banjarmasinpost.co.id/Mukhtar Wahid)