TRIBUN-BALI.COM – Kalender Bali: Hari Penampahan Kuningan 26 Juni 2026, Begini Maknanya Sesuai Lontar
Hari penampahan Kuningan berlangsung sehari sebelum hari raya Kuningan.
Diketahui, umat Hindu di Bali akan melangsungkan Hari Raya Kuningan yang pada tahun 2026 jatuh pada Sabtu, 27 Juni 2026.
Sebelum puncak perayaan tersebut, umat terlebih dahulu menjalani rangkaian Penampahan Kuningan yang berlangsung sehari sebelumnya, yakni pada Jumat Wage Wuku Kuningan, 26 Juni 2026.
Penampahan Kuningan bukan sekadar momen persiapan upakara dan persembahan, tetapi juga memiliki makna spiritual yang mendalam.
Dalam ajaran Hindu, hari ini menjadi waktu untuk membersihkan diri lahir dan batin sekaligus mempersiapkan hati menyambut turunnya anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya.
Dalam Lontar Sundarigama disebutkan kutipan, “Sapuhakna malaning jnyana” yang berarti hilangkanlah kekotoran pikiran.
Baca juga: Jadwal Rerahinan Kalender Bali Akhir Juni 2026: Hari Raya Kuningan Hingga Purnama
Jero Mangku Ketut Maliarsa menjelaskan bahwa makna tersebut sejalan dengan arti kata Penampahan.
“Hal ini sesuai dengan arti kata penampahan, terdiri dari kata ‘tampah’ yang artinya menyembelih atau memotong, dan kata ini mendapat konfiks pe-an yang berarti menjadikan sesuatu hal,” jelasnya.
Secara harfiah, Penampahan berarti menjadikan sesuatu untuk dipotong atau dipangkas.
Namun dalam filsafat Hindu, yang sesungguhnya dipotong bukanlah sesuatu yang bersifat fisik, melainkan sifat-sifat negatif yang ada dalam diri manusia.
Menurut Jero Mangku Ketut Maliarsa, yang harus dipangkas adalah sifat Ahamkara, momo angkara, serta berbagai bentuk kegelapan batin yang menjauhkan manusia dari nilai-nilai dharma.
“Semua sifat itu harus dipotong atau dipangkas dengan jalan upacara ‘mabyakala’ secara nyata, tetapi secara tidak nyata kita harus mulat sarira atau koreksi diri agar tidak memunculkan sifat-sifat keraksasaan dan diubah dijadikan sifat-sifat kemanusiaan sehingga mempunyai hati nurani,” jelasnya.
Dalam Lontar Sundarigama juga disebutkan istilah “pamyakala kala malaradan” yang dimaknai sebagai menghilangkan atau memusnahkan sifat-sifat kebinatangan atau keraksasaan yang ada dalam diri manusia.
Karena itu, Penampahan Kuningan dipandang sebagai puncak persiapan spiritual umat Hindu untuk mempertahankan kemenangan dharma melawan adharma yang sesungguhnya berada di dalam diri manusia.
Makna tersebut juga berkaitan dengan konsep nyomya bhuta kala atau menaklukkan energi negatif dalam diri yang sering disebut sebagai “nyupat angga sarira”.
“Pesan utama arti Hari Suci Penampahan Kuningan adalah menciptakan situasi dan kondisi agar para umat Hindu mampu mulat sarira atau mawas diri,” ujarnya.
Selain itu, umat juga diajak untuk terus menjaga penyucian angga sarira melalui mabyakala. Namun yang paling penting adalah menjaga kesucian pikiran agar terhindar dari hal-hal negatif dan memperoleh kemuliaan hidup.
Landasan inilah yang kemudian menjadi bekal utama menyambut Hari Raya Kuningan.
Dalam kepercayaan Hindu, Hari Raya Kuningan merupakan momentum payogan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya, yaitu para dewa-dewi, bhatara-bhatari, dan Dewa Hyang Pitara turun ke dunia untuk melimpahkan anugerah kepada umat manusia.
Karena itu, umat Hindu mempersembahkan nasi kuning sebagai simbol kebijaksanaan dan kemakmuran dengan harapan memperoleh kesejahteraan, kesuburan, serta rezeki.
“Upacara-upakara ini sebagai wujud ucapan syukur para umat Hindu dan disertai rasa terima kasih kepada semua yang turun dan juga sebagai wujud rasa hormat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya karena telah melimpahkan rahmatnya,” ujar pemangku asal Bondalem tersebut.
Dalam ungkapan Bali, hal itu dikenal sebagai “ngaturang suksemaning idep” atau mempersembahkan rasa syukur kepada-Nya.
Hari Raya Kuningan sendiri jatuh pada Saniscara Kliwon Wuku Kuningan atau yang juga dikenal sebagai Tumpek Kuningan, yakni 10 hari setelah Hari Raya Galungan.
Pelaksanaan persembahyangan dan persembahan bebantenan dilakukan pada pagi hari hingga sebelum tengah hari.
Waktu tersebut dipercaya sebagai saat umat menerima pancaran kesucian dan vibrasi keheningan.
Selain itu, palinggih juga dihias dengan tamiang sebagai simbol ketajaman dan kesucian pikiran.
Terdapat pula endongan sebagai lambang bekal dalam perjuangan melawan adharma, serta kolem atau pidpid sebagai simbol kehadiran Ida Sang Hyang Widhi Wasa, para dewa, bhatara, dan leluhur.
“Pelaksanaan upacara dan upakara pada hari suci Kuningan pada pagi hari sampai tengah hari juga bermakna bahwa lewat tengah hari para dewa, bhatara, dewa hyang pitara dan leluhur sudah kembali ke swarga loka,” pungkasnya.
(*)