FIFA Tegaskan: Bendera Pelangi Diperbolehkan Saat Laga Mesir vs Iran di Piala Dunia di Seattle
Aurora Nightingale June 26, 2026 10:58 AM

Laga penentuan Grup G antara Mesir dan Iran di Stadion Lumen Field, Seattle, pada hari Jumat akan digelar di tengah kontroversi — bukan karena taktik atau pemilihan pemain, melainkan karena sebuah bendera. FIFA pada hari Kamis menegaskan kembali bahwa para penggemar tidak akan dilarang membawa bendera pelangi ke dalam Stadion Lumen Field untuk pertandingan tersebut, meskipun ada keberatan dari federasi sepak bola masing-masing negara.

Latar belakang situasi ini cukup penting. Acara Seattle PrideFest, yang telah diselenggarakan di kota tersebut sejak tahun 2007 oleh sebuah organisasi nirlaba, telah menetapkan tanggal 26 Juni — bertepatan dengan hari pertandingan Mesir melawan Iran — sebagai hari perayaan bahkan sebelum FIFA mengumumkan hasil undian Piala Dunia. Setelah jadwal dikonfirmasi, kedua federasi sepak bola nasional langsung menyampaikan penolakan. Federasi Sepak Bola Mesir mengeluarkan pernyataan bahwa mereka telah mengirim surat kepada FIFA yang secara tegas menolak segala bentuk kegiatan yang berkaitan dengan dukungan terhadap homoseksualitas selama pertandingan. Federasi Iran juga mengeluarkan pernyataan senada, dengan mengatakan bahwa kegiatan semacam itu bertentangan dengan nilai-nilai budaya dan agama mereka.

Namun, FIFA tetap pada pendiriannya.

“Piala Dunia FIFA 2026 adalah ajang yang inklusif dan menyambut orang dari semua latar belakang,” kata FIFA dalam pernyataannya. “Penggemar dengan semua orientasi seksual dan identitas gender dipersilakan hadir di pertandingan dan acara. Pernyataan umum tentang hak asasi manusia, termasuk bendera pelangi dan bendera lain yang mewakili orientasi seksual serta identitas gender, diizinkan sesuai dengan Kode Etik Stadion Piala Dunia FIFA 2026.”

Presiden FIFA, Gianni Infantino, sebelumnya telah berusaha menjelaskan batasannya dengan tegas. “Tidak akan ada ‘Pertandingan Pride’ di Piala Dunia,” ujar Infantino pada bulan Januari. “Yang ada hanyalah pertandingan Piala Dunia FIFA di Seattle, dan pada hari yang sama, akan ada kegiatan yang diselenggarakan oleh organisasi eksternal di kota tersebut. Namun, hal itu tidak ada hubungannya dengan pertandingan itu sendiri.”

Isu ini mengingatkan pada kejadian di Piala Dunia 2022 di Qatar. Pada turnamen tersebut, sejumlah federasi Eropa ingin agar kapten tim mereka mengenakan ban kapten bertuliskan “One Love” dengan warna pelangi sebagai simbol hak asasi manusia dan keberagaman — langkah yang ditolak keras oleh FIFA. Bahkan, beberapa pendukung Wales sempat diminta melepas topi bermotif pelangi sebelum memasuki stadion.

Empat tahun kemudian, Piala Dunia kini berpindah ke Amerika Utara dan sikap FIFA pun berubah. Bendera pelangi akan tetap berkibar. Pertandingan akan tetap berlangsung. Dunia sepak bola akan memperhatikan dengan seksama, baik di dalam maupun di luar lapangan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.