TRIBUNNEWS.COM - Meskipun sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau, masyarakat masih perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan.
Berdasarkan analisis terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau memang terus meluas di berbagai daerah.
Namun, kondisi atmosfer yang masih sangat dinamis membuat peluang hujan dengan intensitas sedang hingga lebat tetap terjadi di sejumlah wilayah.
Artinya, memasuki musim kemarau bukan berarti seluruh wilayah Indonesia akan mengalami cuaca cerah sepanjang hari.
Fenomena ini dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor atmosfer, baik dalam skala global maupun regional.
Di satu sisi, penguatan fenomena El Nino mulai mengurangi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia sehingga mempercepat datangnya musim kemarau.
Di sisi lain, aktivitas gelombang atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, Gelombang Rossby Ekuatorial, serta terbentuknya sirkulasi siklonik masih mampu memicu pertumbuhan awan hujan di berbagai daerah.
Akibatnya, hujan lebat, petir, dan angin kencang masih berpotensi terjadi meskipun kalender klimatologi telah memasuki periode kemarau.
BMKG memperkirakan, kondisi cuaca selama 26 Juni hingga 2 Juli 2026 akan didominasi hujan ringan hingga sedang di banyak wilayah Indonesia.
Beberapa provinsi seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur masih memiliki peluang mengalami hujan dengan intensitas sedang.
Sementara sejumlah daerah lain bahkan berpotensi mengalami hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau tidak lengah dan tetap memantau perkembangan informasi cuaca sebelum beraktivitas, terutama bagi mereka yang berada di wilayah rawan banjir, longsor, maupun cuaca ekstrem.
Baca juga: Prakiraan Cuaca Wilayah Mataraman Hari Ini Jumat, 26 Juni 2026: Banyuwangi Hujan Ringan
Dikutip dari laman bmkg.go.id, memasuki Dasarian III Juni 2026, BMKG mencatat sekitar 37,6 persen wilayah Indonesia atau sekitar 263 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau.
Perluasan musim kemarau tersebut dipengaruhi oleh kondisi atmosfer global, terutama menguatnya fenomena El Nino.
Pada Dasarian II Juni 2026, anomali Suhu Permukaan Laut (Sea Surface Temperature/SST) di wilayah Nino 3.4 tercatat mencapai +1,61, yang menunjukkan Indonesia masih berada dalam kondisi El Nino.
Kondisi tersebut umumnya menyebabkan curah hujan berkurang di banyak wilayah Indonesia.
Selain itu, suhu udara maksimum juga meningkat cukup signifikan.
Kondisi tersebut menunjukkan udara pada siang hari akan terasa lebih panas dibandingkan biasanya, terutama di daerah yang telah memasuki musim kemarau.
Walaupun musim kemarau mulai meluas, hujan dengan intensitas tinggi masih tercatat di berbagai wilayah Indonesia.
BMKG mencatat curah hujan tertinggi selama 22–24 Juni 2026 terjadi di:
Curah hujan tinggi tersebut dipengaruhi oleh sejumlah fenomena atmosfer yang masih aktif.
Di antaranya adalah:
Kombinasi berbagai faktor tersebut mampu meningkatkan pembentukan awan hujan meskipun musim kemarau telah dimulai.
BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia mulai mengalami penurunan curah hujan pada pertengahan Dasarian III Juni.
Wilayah yang diprediksi mengalami curah hujan rendah meliputi sebagian:
Namun demikian, aktivitas atmosfer regional masih cukup kuat.
Selain itu, Gelombang Rossby dan Gelombang Kelvin masih aktif sehingga peluang pembentukan awan hujan tetap tinggi.
Sirkulasi siklonik di Samudra Pasifik utara Papua juga diperkirakan meningkatkan potensi hujan di wilayah timur Indonesia.
Pada periode 26–28 Juni 2026, cuaca Indonesia secara umum diprakirakan didominasi hujan ringan hingga hujan lebat.
Memasuki akhir Juni hingga awal Juli, sebagian wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan sedang.
Untuk periode ini tidak terdapat wilayah dengan status siaga hujan sangat lebat.
BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak hanya berpatokan pada musim kemarau sebagai indikator cuaca cerah.
Selama dinamika atmosfer masih aktif, hujan lebat beserta petir dan angin kencang masih dapat terjadi sewaktu-waktu.
Bagi masyarakat yang berada di wilayah yang telah memasuki musim kemarau, disarankan menjaga kondisi tubuh dengan mencukupi kebutuhan cairan, menggunakan pelindung dari paparan sinar matahari, serta mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari ketika suhu udara sedang tinggi.
Di sisi lain, masyarakat yang tinggal di daerah yang masih berpotensi diguyur hujan sedang hingga lebat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai dampak cuaca ekstrem, seperti genangan air, banjir, tanah longsor, pohon tumbang, terganggunya perjalanan, hingga menurunnya jarak pandang.
Saat hujan disertai petir dan angin kencang, masyarakat juga diimbau menghindari berteduh di bawah pohon, baliho, atau bangunan yang rawan roboh.
BMKG juga mengajak masyarakat untuk selalu memantau prakiraan cuaca, peringatan dini, dan informasi cuaca ekstrem melalui laman resmi BMKG, aplikasi InfoBMKG, maupun kanal media sosial resmi BMKG agar dapat mengambil langkah antisipasi sesuai perkembangan kondisi cuaca terkini.
(Tribunnews.com/Farra)