Curhat Pengusaha MBG di Bangkalan: Modal Rp2,5 M, Kini Dapur Libur saat Cicilan Bank Terus Berjalan
jonisetiawan June 26, 2026 12:38 PM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Gelombang aspirasi agar Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berlanjut terus bermunculan di berbagai daerah.

Di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, ribuan orang turun ke jalan menyuarakan dukungan terhadap program tersebut.

Tak hanya relawan, aksi juga diikuti para mitra pengelola dapur MBG yang mengaku menghadapi tekanan finansial setelah operasional dapur dihentikan sementara selama masa libur sekolah.

Bagi sebagian mitra, membangun dapur MBG bukan sekadar menjalankan program pemerintah, melainkan keputusan besar yang menuntut pengorbanan finansial.

Ada yang rela menjual sawah, menggadaikan aset, hingga mengambil pinjaman bank dengan harapan investasi tersebut dapat kembali seiring berjalannya program.

Baca juga: Didemo Soal MBG, DPRD Sampang Tegaskan Program Makan Gratis Prabowo Layak untuk Didukung

Modal Miliaran Rupiah Dibangun dengan Pengorbanan

Mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lajing 02, Arosbaya, Moh Holifi, mengungkapkan bahwa biaya untuk mendirikan satu dapur MBG tidaklah kecil.

Menurutnya, nilai investasi awal berkisar antara Rp1,6 miliar hingga Rp2,5 miliar.

"Jadi perlu jual sawah, gadai aset ke bank. Kita tiap bulan harus cicil," ujar Holifi, Kamis (25/6/2026).

Besarnya modal tersebut membuat para mitra berharap operasional dapur dapat berlangsung secara berkelanjutan agar investasi yang telah dikeluarkan bisa segera kembali.

Libur Sekolah Dinilai Memperlambat Pengembalian Modal

Holifi menjelaskan, penghentian sementara operasional dapur MBG selama masa libur sekolah berdampak langsung terhadap kondisi keuangan para mitra.

Menurutnya, agar tidak mengalami kerugian yang semakin besar, dapur MBG seharusnya tetap beroperasi meskipun kegiatan belajar mengajar sedang libur.

Ia mengatakan hingga saat ini modal awal yang telah dikeluarkan masih belum mencapai titik impas atau Break Even Point (BEP).

"Ini (modal awal) harus segera kembali," ungkapnya.

POLEMIK MBG - (Ilustrasi) Menu MBG.
POLEMIK MBG - (Ilustrasi) Menu MBG. Tidak beroperasinya dapur MBG selama libur sekolah membuat para mitra merasa rugi karena cicilan bank tetap berjalan sementara modal awal belum kembali atau belum mencapai Break Even Point (BEP). (Instagram @badangizinasional.ri)

Cicilan Bank Tetap Berjalan Meski Dapur Tidak Beroperasi

Selain memperlambat pengembalian modal, penghentian operasional dapur juga membuat para mitra tetap harus menanggung kewajiban membayar cicilan pinjaman bank setiap bulan.

Holifi mengakui kondisi tersebut membuat pihaknya mengalami kerugian. Namun, ia tetap memilih mengikuti kebijakan yang ditetapkan pemerintah pusat.

"Kalau dikatakan rugi, ya kami rugi. Tapi ini keputusan dari pusat ya kami ikuti, resiko kami tanggung dan kami tetap dukung program pemerintah ini," katanya.

Untuk memenuhi kewajiban pembayaran cicilan tersebut, Holifi mengaku harus menggunakan sumber pendapatan lain yang dimilikinya.

"Kami sebagai pengusaha ada banyak sumber," ujarnya.

Baca juga: Dua Bocah Cilik Madura Guncang Demo MBG di Depan DPRD Sampang: Kami Butuh Gizi Bukan Basa-basi

Berharap Dapur MBG Segera Beroperasi Kembali

Di tengah kondisi yang dihadapi para mitra, Holifi berharap pemerintah segera membuka kembali operasional dapur MBG sehingga penyaluran makanan bergizi kepada para penerima manfaat dapat kembali berjalan.

"Intinya MBG jangan ditutup," pungkasnya.

Pengelola SPPG Jatim Mulai Kelimpungan Bayar Cicilan

Tak hanya di Bangkalan, sebelumnya Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Gabungan Pengusaha Makan Bergizi Indonesia (GAPEMBI) Jawa Timur, Makhrus Sholeh, mengungkapkan bahwa banyak mitra pengelola dapur MBG saat ini mulai tertekan akibat penghentian sementara operasional program selama masa libur sekolah.

Menurutnya, sebagian besar pengusaha yang terlibat dalam program tersebut membangun dapur dengan modal besar, bahkan tidak sedikit yang menggunakan pinjaman dari pihak ketiga maupun fasilitas kredit perbankan.

"Teman-teman mitra banyak yang menggunakan dana pihak ketiga. Kalau pinjaman bank kan tidak mengenal waktu. Cicilan tetap harus dibayar setiap bulan," ujar Makhrus saat dikonfirmasi di Surabaya, Senin (22/6/2026).

Pernyataan itu menggambarkan situasi pelik yang kini dihadapi para pelaku usaha.

Di satu sisi mereka mendukung penuh program strategis nasional pemerintah, tetapi di sisi lain roda bisnis tetap harus berjalan meski dapur-dapur MBG berhenti beroperasi sementara.

Dapur Berhenti, Beban Operasional Tetap Jalan

Makhrus menjelaskan, para mitra SPPG sebelumnya telah menggelontorkan investasi besar demi memenuhi standar operasional yang ditetapkan pemerintah.

Mulai dari pembangunan infrastruktur dapur, pembelian alat masak industri, kendaraan distribusi makanan, hingga penyediaan fasilitas pendukung lainnya dilakukan demi menyukseskan program MBG.

Namun ketika program dihentikan sementara selama libur sekolah, seluruh aset tersebut praktis menganggur.

Ironisnya, biaya operasional tetap berjalan. Pengusaha tetap harus menjaga fasilitas, membayar biaya pemeliharaan, hingga memastikan aset dapur tidak rusak meski tidak digunakan.

"Kami berharap ini bisa dikaji. Karena dapurnya tidak dipakai, tidak operasional, tetapi fasilitas tetap harus dijaga. Dari sisi bisnis tentu ada biaya yang tetap berjalan," kata Makhrus.

Kondisi inilah yang membuat banyak pengelola dapur merasa terpukul. Sebab selama masa penghentian layanan, mereka tidak memperoleh pemasukan, tetapi tetap harus menanggung berbagai biaya tetap atau fixed cost.

Baca juga: Pengusaha MBG di Riau Minta BGN Tetap Salurkan Insentif Meski sedang Libur Sekolah

Pengusaha Minta Pemerintah Cari Solusi Tengah

Meski menyampaikan keberatan, Gabungan Pengusaha Makan Bergizi Indonesia Jawa Timur menegaskan pihaknya tidak menolak Program Makan Bergizi Gratis.

Sebaliknya, mereka mengaku tetap mendukung penuh program unggulan pemerintahan Prabowo Subianto tersebut karena dinilai membawa dampak ekonomi besar bagi masyarakat.

Makhrus menilai MBG telah menciptakan efek berantai bagi perekonomian daerah. Banyak tenaga kerja terserap, UMKM bergerak, hingga petani dan pemasok bahan pangan mulai merasakan manfaat ekonomi dari program tersebut.

"Kami menyampaikan aspirasi bahwa program ini harus terus berlanjut. Dampaknya juga sangat bagus dalam menyerap tenaga kerja.

Banyak pengangguran terserap, UMKM bergerak, supplier bahan pangan, hingga petani sudah merasakan manfaatnya," ungkap Makhrus.

Namun ia mengingatkan, keberlangsungan program akan sulit terjaga apabila para mitra pelaksana terus dibebani ketidakpastian usaha.

"Program ini tentu memiliki misi sosial yang sangat mulia. Tetapi di sisi lain, para mitra juga mengeluarkan investasi dan memiliki kewajiban finansial yang harus dipenuhi. Karena itu kami berharap ada solusi yang bersifat win-win solution," tuturnya.

Ribuan Relawan dan Mitra Turun ke Jalan

Sebelumnya, ribuan relawan, mitra pengelola dapur, hingga pemasok bahan kebutuhan MBG menggelar aksi demonstrasi di Kabupaten Bangkalan.

Dalam aksi tersebut, mereka meminta agar Program Makan Bergizi Gratis tetap dilanjutkan dan tidak dihentikan.

Massa juga menyampaikan kekhawatiran bahwa apabila program tidak kembali berjalan, banyak pihak yang selama ini bergantung pada aktivitas dapur MBG berpotensi kehilangan mata pencaharian.

Bagi para mitra, keberlanjutan program bukan hanya berkaitan dengan pelayanan pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga menyangkut kelangsungan usaha, pengembalian investasi yang telah dikeluarkan, serta keberlangsungan pekerjaan bagi banyak orang yang terlibat di dalamnya.

***

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.