TRIBUNSUMSEL.COM - Nama Anggota Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh, politisi perempuan ini jadi sorotan setelah menyampaikan usulan dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI pada Kamis (25/6/2026).
Dalam rapat tersebut, Nihayatul Wafiroh mengusulkan pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) guna membantu menganalisis penyakit pasien, khususnya di wilayah-wilayah Indonesia yang masih mengalami krisis atau kekurangan tenaga dokter.
Menurut sosok yang akrab disapa Ninik ini, perkembangan teknologi AI saat ini sangat berpotensi diadopsi untuk menjembatani keterbatasan layanan kesehatan di daerah terpencil.
"Bisa enggak ya, Pak, kira-kira di daerah-daerah tertentu yang mungkin ada tenaga medis dan sebagainya, kita bisa dibantu AI paling tidak untuk membantu pasien menganalisis penyakit dan sebagainya? Karena untuk menjembatani saja, Pak," ujar Nihayatul Wafiroh dalam rapat kerja tersebut yang dikutip Tribunsumsel.com.
Terobosan pemikirannya itu justru menuai beragam reaksi pro dan kontra dari warganet di media sosial.
Baca juga: Profil AKBP Adri Desas Furyanto Alami Retak Tulang Lutut Kanan Saat Kawal Demo PMII di DPR Ricuh
Nihayatul Wafiroh lahir pada tanggal 15 Desember 1979. Di kalangan masyarakat, ia akrab dipanggil Ninik atau dihormati dengan gelar "Ibu Nyai".
Gelar tersebut melekat karena ia merupakan bagian dari jajaran pembantu pengasuh di Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi, Jawa Timur.
Ia juga merupakan seorang ibu yang membesarkan dua orang anak.
Kendati tumbuh dan mengabdi di lingkungan pesantren, Ninik memiliki riwayat pendidikan formal yang sangat mentereng.
Ninik mengawali sekolah di Sekolah Dasar (SD) Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.
Ia melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Amiriyyah (lulus 1994) dan Madrasah Aliyah (MA) Al-Amiriyyah di Blokagung, Banyuwangi (lulus 1997).
Ia juga sempat mengenyam pendidikan di Mu’allimin Mu’allimat Atas (MMA), sebuah sekolah pesantren terintegrasi enam tahun di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, meski tidak sampai selesai.
Pendidikan tingginya berlanjut hingga meraih gelar Sarjana di Jurusan Tafsir Hadis, Fakultas Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 2004 dengan predikat cum laude.
Sempat menempuh pendidikan Magister Manajemen di Universitas Jember pada tahun 2004 namun tidak menyelesaikannya.
Ia kemudian melanjutkan studi internasional dan berhasil meraih gelar Master in Asian Studies Department dari University of Hawaii at Manoa, Amerika Serikat, pada periode 2007–2009 dengan predikat cum laude.
Ninik menuntaskan pendidikan tertinggi Doctoral Program di ICRS-Yogya (Indonesian Consortium for Religious Studies), Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada rentang tahun 2009–2016.
Sebelum memantapkan langkahnya di panggung politik praktis, Nihayatul Wafiroh merupakan seorang akademisi dan aktivis yang sangat produktif.
Ia tercatat menjadi pengajar di Pondok Pesantren Darussalam pada tahun 2004–2010. Sejak tahun 2004 hingga saat ini, ia juga aktif sebagai dosen di Institut Agama Islam Darussalam (IAIDA) Banyuwangi dengan mengampu mata kuliah Islam Filosofi dan Pengantar Filsafat.
Baca juga: Pesan Presiden Prabowo Kawal Kasus Penyekapan Wanita di Bandung: Hukum Pelaku Seberat-beratnya
Saat menempuh studi di Amerika Serikat, ia bahkan sempat dipercaya menjadi Teaching Assistant untuk mata kuliah History of Sexuality di University of Hawaii at Manoa pada semester musim gugur tahun 2008.
Di dunia organisasi non-pemerintah (NGO) dan konsultan, pengalamannya sangat beragam:
Karier politiknya di DPR RI dimulai ketika ia terpilih sebagai Anggota DPR RI periode 2014–2019 dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), di mana ia sempat dipercaya menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi II serta bertugas di Komisi IX yang membidangi Tenaga Kerja & Transmigrasi, Kependudukan, dan Kesehatan.
Selama duduk di kursi parlemen, Ninik memiliki visi dan misi besar untuk menjadikan DPR sebagai rumah rakyat yang memajukan hak-hak perempuan dan anak.
Komitmen ini dibuktikannya secara nyata saat ia menjadi salah satu dari tiga orang anggota dewan pionir yang mengusulkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS).
Kiprah legislatornya terus berlanjut saat ia kembali terpilih menjadi Anggota DPR RI periode 2019–2024 mewakili Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Timur III yang meliputi wilayah Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Bondowoso, dan Kabupaten Situbondo.
Kini, ia melanjutkan dedikasinya sebagai Anggota Komisi IX DPR RI untuk periode 2025–2030.
Dedikasi Nihayatul Wafiroh di luar parlemen juga tercermin dari keterlibatannya dalam berbagai organisasi sosial, keagamaan, dan kemanusiaan:
Wakil Ketua Komisi IX DPR Nihayatul Wafiroh mengusulkan agar teknologi artificial intelligence (AI) dimanfaatkan untuk membantu persoalan kekurangan dokter di berbagai daerah.
Nihayatul menyampaikan ini di hadapan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam rapat kerja di Komisi IX DPR, Jakarta, Kamis (25/6/2026).
"Kekurangan dokter yang ada, ini kita ini sekarang sudah cukup banyak dibantu dengan adanya AI, Pak," kata Nihayatul dalam rapat, Kamis, dilansir dari Kompas.com.
Baca juga: Ombudsman Sumsel Temukan 5 Pelanggaran SPMB SMA Negeri, Ratusan Siswa Terancam Tak Dapat Dapodik
Di era teknologi ini, ia menyoroti AI yang dapat dimanfaatkan untuk membantu berbagai sektor, termasuk pelayanan kesehatan.
"Saya bukan orang medis, saya membayangkan mungkin sekarang ini kita banyak melihat banyak sektor yang sudah dibantu oleh AI," ujar dia.
Dia kemudian menyarankan agar AI dimanfaatkan untuk membantu menganalisis kondisi penyakit pasien.
"Bisa enggak ya, Pak, kira-kira di daerah-daerah tertentu yang mungkin ada tenaga medis dan sebagainya, yang mungkin ada ada ini kita bisa dibantu AI untuk sebagai paling tidak untuk membantu pasien kita untuk apa menganalisis penyakit dan sebagainya? Karena untuk menjembatani saja," ucap dia.
Politikus PKB ini mengaku miris dengan situasi kesehatan di Indonesia.
Apalagi, masih ada beberapa daerah yang disebut tidak memiliki dokter.
"Kalau tadi disampaikan Pak Menteri di daerah-daerah mana tadi yang laporannya tidak ada dokter sama sekali dan sebagainya, ini tentu miris sekali. Karena pendidikan dokter ini tidak tidak sama dengan pendidikan pendidikannya yang lainnya, yang setelah lulus habis itu wisuda selesai bisa langsung bisa langsung terjun," ujar dia.
Oleh karenanya, ia mendorong agar teknologi AI dilibatkan membantu di sektor kesehatan.
"Bisa enggak dengan teknologi yang ada itu kita bisa mengganti kehadiran fisik dokter dengan yang lain? Walaupun memang pasti tidak maksimal, tapi untuk mungkin penyakit tertentu," ucap Nihayatul.
"Karena Pak Pak Menteri kapan itu juga sudah melakukan operasi jarak jauh juga ya, Pak ya? Operasi jarak jauh itu juga luar biasa," sambung dia.
Dalam rapat yang sama, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkap Indonesia masih kekurangan dokter.
"Banyak sekali puskesmas yang tidak ada dokternya," kata Budi dalam rapat kerja di Komisi IX DPR.
Budi juga baru mendapat laporan bahwa di daerah Mamberamo Raya, Papua, tidak memiliki dokter spesialis.
"Kemarin kita kedatangan Bupati Mamberamo Raya tidak ada satu pun dokter spesialis di sana. Dokter giginya nol puskesmasnya. Mungkin ada dari 17, 12 enggak punya dokter," ungkap dia.
Menurut Budi, kurangnya dokter di Indonesia juga berdampak membuat beban dokter semakin tinggi.
"Jadi, masalah utamanya karena memang kita kekurangan dokter sehingga akibatnya bebannya tinggi sekali," ujar dia.
(*)
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com