TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Emiten jasa pertambangan dan konstruksi, PT PP Presisi Tbk (PPRE) mengantongi pendapatan konsolidasian di 2025 senilai Rp3,9 triliun. Angka tersebut naik sekitar 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya mencapai Rp3,8 triliun.
Direktur Utama PT PP Presisi, Rizki Dianugrah, mengatakan, selain mencatatkan pertumbuhan pendapatan, perseroan juga mencatatkan rasio likuiditas sebesar 1,15 kali, tetap berada di atas batas covenant perbankan sebesar 1,1 kali.
"Sementara itu, rasio utang berbunga terhadap ekuitas berada pada level, yang juga dibawah batas covenant," ujar Rizki dalam paparan publik dikutip Jumat (26/6/2026).
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), telah disetujui perubahan susunan direksi dan dewan komisaris, sebagai berikut:
Dewan Komisaris
• Komisaris Utama/Komisaris Independen: Narwanto
• Komisaris: Maulana Malik Ibrahim
• Komisaris: Albert Simangunsong
Direksi
• Direktur Utama: Rizki Dianugrah
• Direktur Keuangan & Human Capital Management: Ramlan Nurdiansah
• Direktur Operasi: Yovi Hendra
Pelepasan Saham Anak Usaha
Kemudian, pada RUPSLB Independen membahas agenda utama yakni pelepasan seluruh kepemilikan saham Perseroan pada PT Lancarjaya Mandiri Abadi (PT LMA) kepada PT Lancarjaya Investama Abadi dengan nilai transaksi mencapai Rp1,6 triliun.
Rizki menyampaikan, langkah ini merupakan bagian dari upaya Perseroan untuk memperkuat struktur keuangan melalui pemenuhan kewajiban kepada kreditur, menurunkan beban bunga, meningkatkan likuiditas, serta memperkuat modal kerja guna mendukung kegiatan operasional dan pengembangan usaha ke depan.
Baca juga: Sektor Pertambangan Menguat, Emiten PPRE Kantongi Laba Bersih Rp 194,69 Miliar
Aksi korporasi tersebut juga sejalan dengan program penataan dan pengelolaan anak perusahaan BUMN, sebagai bagian dari upaya peningkatan efektivitas pengelolaan portofolio dan penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.
"Perseroan terus berfokus pada penguatan fundamental, optimalisasi portofolio bisnis, serta peningkatan efisiensi operasional guna menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan dan memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan," ujar Rizki.