TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta berbenah menyambut lonjakan wisatawan dari berbagai daerah sepanjang masa musim libur sekolah.
Salah satu gebrakan anyar yang disiapkan adalah pemberlakuan kebijakan Car Free Day (CFD) di kawasan ikonik Malioboro setiap hari Minggu pagi.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengatakan, langkah ini diambil untuk memberikan kenyamanan lebih bagi para pelancong yang ingin menikmati suasana pagi, tanpa terganggu hiruk-pikuk kendaraan bermotor.
Selayaknya konsep CFD pada umumnya, kebijakan tersebut bakal dimulai sedari selepas subuh hingga menjelang siang hari, atau kisaran pukul 09.00 WIB.
"Malioboro itu hari Minggu mulai jam 05.00 pagi akan kami Car Free Day-kan sampai jam 09.00. Karena banyak sekali wisatawan yang pagi hari itu pengin jalan-jalan di Malioboro," ungkapnya, belum lama ini.
Di samping itu, Hasto tidak menampik, belakangan daya tarik Malioboro sebagai destinasi sport tourism makin tak terbendung, khususnya untuk olahraga lari dan sepeda.
Sehingga, ia tidak menutup kemungkinan, kebijakan CFD kedepannya akan diperluas hingga hari Sabtu, untuk mengakomodir antusiasme masyarakat.
"Karena sekarang banyak yang ke Malioboro untuk lari pagi, kemudian ada yang sepedaan, begitu. Maka, nanti mungkin Sabtunya akan saya tambahkan juga," ujarnya.
Menyikapi momentum libur sekolah, Wali Kota pun memberikan imbauan khusus kepada instansi sekolah dan pelajar dari luar daerah, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang plesiran ke Yogyakarta.
Ia berharap, kunjungan ke Kota Gudeg tidak hanya dimaknai sebagai sarana hiburan semata, namun sekaligus jadi ajang pembelajaran atau study tour yang edukatif.
Menurutnya, Kota Yogyakarta memiliki kekayaan destinasi edukasi yang melimpah, mulai dari Keraton sampai berbagai museum bersejarah yang semuanya bisa menjadi bahan pelajaran berharga bagi siswa.
"Datanglah ke Yogya, bukan wisata saja, tetapi studi. Ya, study tour. Ada Taman Pintar yang bisa didatangi. Terus, hari ini juga ada ArtJog yang menarik untuk dipelajari, bagaimana seni dan budaya Yogyakarta diekspos," terangnya.
Lebih lanjut, tak ingin pariwisata berjalan monoton Pemkot pun mulai menyusun strategi untuk memperkaya pilihan destinasi, melalui optimalisasi kampung wisata dan integrasi objek wisata yang sudah ada.
Salah satu wacana segar yang tengah digodok adalah pengembangan konsep baru di Kebun Binatang Gembira Loka (GL Zoo) yang akan diintegrasikan dengan kawasan hilir di Embung Giwangan.
"Mimpi saya, ya Bonbin (Gembira Loka) ada night safari (safari malam hari), terus plus-nya kalau beli tiket Bonbin bisa ada pilihan mau arung jeram sampai ke kawasan wisata di hilir, di Embung Giwangan," katanya.
"Ya, itu proposal yang saya usulkan kepada Direktur Bonbin Gembira Loka. Jadi, memang pariwisata kita harus ada perubahan, supaya orang-orang atau wisatawan yang datang itu tidak bosan," pungkas Hasto. (aka)