TRIBUN-MEDAN.com, BEIJING – Langit Beijing tampak cerah pada Jumat (26/6/2026). Menjelang pelaksanaan Salat Jumat, rombongan delegasi media dari Indonesia mendapat kesempatan mengunjungi Masjid Dongsi, salah satu masjid tertua sekaligus paling bersejarah di ibu kota Republik Rakyat Tiongkok.
Di tengah padatnya kawasan Dongcheng, bangunan masjid berdiri anggun dengan arsitektur khas Tiongkok. Sekilas, bentuknya menyerupai kompleks istana kuno. Atap bertingkat, balok-balok kayu berukir, dan halaman berlapis khas siheyuan menjadi pemandangan pertama yang menyambut para tamu.
Namun, di balik arsitektur tradisional itu tersimpan jejak panjang perkembangan Islam di Tiongkok yang telah berlangsung hampir delapan abad.
Berdasarkan catatan resmi Pemerintah Beijing, Masjid Dongsi pertama kali didirikan pada tahun 1346 pada masa Dinasti Yuan. Hingga kini, masjid tersebut masih menjadi pusat ibadah sekaligus pusat aktivitas keagamaan umat Islam di Beijing.
Imam masjid atau ahung dalam bahasa Tiongkok, Ali, mengajak rombongan berkeliling sambil memperlihatkan berbagai koleksi bersejarah yang tersimpan di dalam kompleks masjid.
"Masjid ini tingginya sekitar 15 meter dengan kapasitas sekitar 500 orang. Kami memiliki 528 batu ukir kaligrafi, perpustakaan dengan lebih dari 14 ribu buku, serta berbagai peralatan peninggalan Dinasti Yuan dan Dinasti Ming," ujar Ali.
Di antara koleksi paling berharga adalah sebuah Alquran tulisan tangan yang dibuat pada tahun 1318 pada masa Dinasti Yuan. Usianya kini diperkirakan telah mencapai sekitar 800 tahun.
Tak hanya itu, pengunjung juga dapat melihat Alquran tulisan tangan dari Dinasti Ming yang berusia sekitar 500 tahun dengan hiasan emas di setiap sisinya. Koleksi lainnya berasal dari Dinasti Qing yang berumur sekitar 200 tahun dan juga dihiasi ornamen emas, sebuah ciri khas seni tradisional Tiongkok.
"Kaligrafi Muslim berusia sekitar 700 tahun juga masih tersimpan di sini," katanya.
Selain manuskrip kuno, masjid juga menyimpan koleksi porselen kaligrafi dari masa Dinasti Qing serta berbagai artefak yang menjadi saksi perjalanan panjang komunitas Muslim di Beijing.
Kompleks Masjid Dongsi memiliki luas sekitar 10 ribu meter persegi. Di dalamnya terdapat tempat salat, perpustakaan, ruang penyimpanan koleksi sejarah, hingga halaman yang masih mempertahankan tata letak asli bangunan tradisional Tiongkok.
Selama berabad-abad, masjid ini bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan Islam dan kehidupan sosial masyarakat Muslim.
Imam lainnya, Yunus, menjelaskan bahwa umat Islam di Beijing berasal dari berbagai suku dan etnis. Menurutnya, kehidupan beragama di Tiongkok berjalan dengan baik.
"Sebagai minoritas di Tiongkok, kami memiliki kebijakan kebebasan beragama. Penduduk bebas memeluk agama apa pun. Umat Islam juga bebas menjalankan ibadah," ujarnya.
Yunus mengatakan, renovasi bangunan bersejarah Masjid Dongsi didanai pemerintah, sedangkan operasional sehari-hari dikelola oleh yayasan.
Saat ini terdapat lima imam yang bertugas di Masjid Dongsi. Tiga di antaranya telah menunaikan ibadah haji.
Ia juga menyebutkan bahwa di Beijing terdapat sekitar 150 imam yang secara bergiliran berangkat ke Tanah Suci. Sementara di seluruh Tiongkok terdapat sekitar 10 pesantren besar, dua di antaranya berada di Beijing.
Menurut data pengelola masjid, Beijing memiliki sekitar 71 masjid dengan arsitektur khas Tiongkok. Sementara, untuk jumpah keseluruhan umat Islam di Tiongkok sekitar 260 ribu jemaah.
Sejarah Masjid Dongsi juga memiliki hubungan erat dengan pemerintahan kekaisaran. Pada tahun 1447, masjid ini dibangun kembali dengan dukungan pejabat Muslim pada masa Dinasti Ming.
Kaisar Ming Daizong kemudian menganugerahkan plakat bertuliskan Qingzhensi, yang berarti "masjid".
Sejak saat itu, Dongsi dikenal sebagai salah satu "masjid resmi" yang memiliki posisi penting di Beijing.
Selama lebih dari enam abad, masjid ini bertahan melewati pergantian dinasti hingga perkembangan pesat kota Beijing menjadi metropolitan modern.
Pada tahun 1984, Pemerintah Beijing menetapkan Masjid Dongsi sebagai Unit Perlindungan Peninggalan Budaya Tingkat Kota sehingga seluruh bangunan bersejarah di dalam kompleksnya mendapat perlindungan resmi.
Menjelang azan Jumat berkumandang, halaman masjid mulai dipenuhi jamaah.
Sebagian datang mengenakan pakaian tradisional etnis Hui, sementara lainnya merupakan pekerja yang baru meninggalkan kantor.
Di tengah gedung-gedung modern yang mengelilingi kawasan pusat Beijing, Masjid Dongsi menjadi pengingat bahwa sejarah Islam telah menjadi bagian dari perjalanan panjang kota ini selama hampir 700 tahun.
Bagi rombongan media Indonesia, kunjungan singkat itu bukan sekadar wisata sejarah. Masjid Dongsi memperlihatkan bagaimana budaya Tiongkok dan peradaban Islam berpadu dalam harmoni, meninggalkan warisan yang terus hidup hingga hari ini.
(zli/tribun-medan.com)