BANGKAPOS.COM, BANGKA — Sejumlah warga berdatangan untuk mencoba peruntungan menemukan emas di sekitar kawasan Desa Melabun dan Desa Sarang Mandi, Kecamatan Sungai Selan, Kabupaten Bangka Tengah.
Kepala Desa Melabun, Yusup membenarkan adanya aktivitas penambangan kandungan emas di kawasan tersebut.
Menurutnya informasi mengenai keberadaan emas sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru bagi masyarakat setempat.
"Kalau saya pribadi tidak terlalu kaget. Tahun 2021 juga sempat viral soal adanya kandungan emas di wilayah sekitar sini. Jadi memang ada dugaan kandungan emas di daerah ini," kata Yusup kepada Bangkapos, Rabu (25/6/2026).
Namun menurutnya, lokasi yang kini ramai diperbincangkan masyarakat justru berada di luar perkiraan.
"Hanya saja lokasi yang sekarang ditemukan ini berada di luar prediksi. Biasanya orang menduga ada di dekat aliran sungai, tetapi yang sekarang ini justru ditemukan di daerah bukit," ujarnya.
Lokasi yang dimaksud berada sekitar lima kilometer dari Desa Melabun.
Meski akses menuju lokasi lebih banyak melalui Desa Melabun. Secara administrasi kawasan tersebut masuk wilayah Desa Sarang Mandi.
"Kalau dari desa sekitar lima kilometer masuk ke dalam. Orang banyak masuk lewat Melabun, tetapi wilayah administrasi mereka menambang lebih dekat ke Sarang Mandi," katanya.
Menurut Yusup, lokasi tersebut berada di kawasan perkebunan sawit milik perusahaan yang dapat diakses melalui jalan tanah merah.
"Jalannya cukup jauh masuk ke dalam. Kurang lebih lima kilometer dari jalan utama dan berada di sekitar kawasan kebun sawit perusahaan," ujarnya.
Yusup menjelaskan aktivitas pencarian emas awalnya bukan dilakukan secara khusus. Para penambang pada mulanya mencari timah seperti yang selama ini dilakukan masyarakat Bangka Belitung.
"Awalnya berbarengan dengan timah. Mereka menambang timah seperti biasa," katanya.
Namun seiring menurunnya hasil timah, para penambang mulai melirik kandungan lain yang ditemukan di lokasi tersebut.
"Kalau hanya mengandalkan timah sekarang agak sulit untuk menutup biaya operasional. Karena itu ketika ditemukan kandungan lain, mereka mencoba memanfaatkannya juga," ujarnya.
Menurut Yusup, emas yang diperoleh tidak langsung terlihat saat proses penambangan berlangsung. Material hasil tambang harus melalui beberapa tahapan pengolahan sebelum akhirnya terlihat kandungan emasnya.
"Kalau dilihat sekilas memang seperti batu biasa. Setelah diproses dan dipanaskan baru kelihatan. Ada yang berbentuk lempengan kecil-kecil, ada juga yang seperti butiran," katanya.
Ia mengatakan material yang diduga mengandung emas tersebut kemudian dijual kepada pembeli yang datang ke lokasi.
"Memang ada pembelinya. Kalau menurut pembeli itu emas. Tidak mungkin juga dibeli kalau bukan emas," ujarnya.
Meski sempat memicu euforia, Yusup mengatakan hasil yang diperoleh para penambang tidak selalu besar dan cenderung fluktuatif.
"Berdasarkan informasi yang saya terima, ada yang dapat sekitar satu gram dalam sehari," katanya.
Bahkan kata Yusup, sempat beredar informasi adanya penambang yang memperoleh hasil lebih besar.
"Ada juga kabarnya sampai empat gram. Tetapi itu tidak setiap hari dan tidak semua orang mendapatkannya," ujarnya.
Saat aktivitas tersebut ramai, harga jual emas yang diperoleh penambang berada di kisaran Rp1,8 juta per gram.
"Waktu itu informasinya dijual sekitar Rp1,8 juta per gram. Harga itu ikut perkembangan harga emas juga," ujarnya.
Yusup mengatakan jumlah penambang yang beroperasi di perkebunan sawit sebenarnya tidak terlalu banyak. Ia memperkirakan hanya ada sekitar empat kelompok atau peron yang aktif bekerja.
"Kalau kelompoknya sekitar empat peron saja, memang lokasi yang mereka tambang di perkebunan kelapa sawit jadi mereka melakukan kegiatan ilegal dan sudah ditertibkan oleh pihak yang berwenang,” katanya.
Meski demikian, satu kelompok bisa terdiri dari cukup banyak pekerja.
"Dalam satu peron bisa ada sembilan orang, sepuluh orang bahkan sampai lima belas orang. Makanya terlihat ramai," ujarnya.
Para penambang menggunakan mesin sederhana dan sistem penyemprotan material dengan bantuan karpet penampung.
"Mereka memakai sistem karpet. Material yang disemprot akan tertahan di karpet, kemudian dipisahkan lagi untuk mencari kandungan yang bernilai," katanya.
Menurut Yusup, kedalaman galian yang dibuat penambang juga tidak terlalu dalam.
"Paling sekitar satu sampai dua meter saja. Kalau dibandingkan tambang timah, ini jauh lebih dangkal. Tambang timah kadang bisa sampai tujuh meter ke bawah," katanya.
Meski demikian, aktivitas tersebut tetap berdampak terhadap lahan perkebunan sawit.
"Kalau dibilang tidak ada dampak tentu ada. Karena ini berada di kawasan kebun sawit perusahaan, pasti ada tanaman yang terganggu," ujarnya.
Menurut Yusup, aktivitas penambangan sangat bergantung pada ketersediaan air. Karena itu, para penambang tidak bekerja sepanjang hari.
"Kalau yang saya dengar mereka bekerja sekitar enam sampai tujuh jam sehari," katanya.
Ketersediaan air menjadi faktor utama dalam proses penyemprotan material tambang.
"Mereka menunggu air cukup dulu untuk menyemprot. Jadi tidak bisa kerja terus dari pagi sampai malam," ujarnya.
Karena lokasi berada di kawasan perusahaan, aktivitas tersebut juga sering dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
"Ya mereka bekerja sambil melihat situasi juga. Karena lokasi itu berada di kawasan perusahaan," katanya.
Seiring semakin ramainya aktivitas di lokasi, pihak perusahaan akhirnya melakukan penertiban bersama aparat keamanan.
"Karena berada di lahan perusahaan, akhirnya dilakukan penertiban bersama aparat," ujar Yusup.
Ia mengatakan beberapa orang sempat diamankan saat penertiban berlangsung.
"Setahu saya ada yang diamankan. Tetapi kebanyakan masyarakat biasa yang mencoba mencari tambahan penghasilan," katanya.
Menurut Yusup, para penambang tidak hanya berasal dari Desa Melabun.
"Penambangnya campur. Ada dari Melabun, Sarang Mandi, Sungai Selan sampai Keretak," ujarnya.
Meski sempat ramai dan menarik perhatian masyarakat, Yusup menegaskan aktivitas penambangan emas tersebut tidak mengubah mata pencaharian utama warga Desa Melabun.
"Mayoritas masyarakat tetap hidup dari kebun sawit," katanya.
Menurut dia, sekitar 90 persen warga desa menggantungkan ekonomi keluarga dari sektor perkebunan.
"Kalau dihitung, sekitar 90 persen masyarakat bekerja di sektor kebun sawit. Boleh dikatakan sekitar 70 persen warga memiliki kebun sendiri. Ada juga yang bekerja sebagai buruh harian di kebun," katanya.
Karena itu, Yusup menilai fenomena pencarian emas lebih banyak dipandang sebagai upaya sebagian masyarakat untuk memperoleh tambahan penghasilan di tengah menurunnya hasil timah.
"Saya melihat ini lebih kepada masyarakat yang mencari tambahan penghasilan. Ketika timah tidak lagi seperti dulu dan ada informasi soal emas, tentu banyak yang tertarik mencoba," ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan kehidupan masyarakat Melabun hingga kini masih bertumpu pada sektor perkebunan.
"Sampai sekarang yang menjadi andalan masyarakat tetap kebun sawit. Tambang emas ini hanya fenomena yang sempat ramai beberapa waktu terakhir," tutup Yusup.
(Bangkapos.com/Erlangga)