SURYA.CO.ID, SURABAYA - Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia Jawa Timur (Aptrindo Jatim) mengeluhkan antrean panjang pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar bersubsidi di sejumlah SPBU yang kian meresahkan.
Kondisi tersebut memicu keterlambatan pengiriman logistik, hingga memangkas pendapatan pengusaha truk hingga lebih dari 50 persen.
Demi mengatasi krisis ini, Aptrindo Jatim tengah mengupayakan audiensi dengan Kepala Daerah Provinsi Jawa Timur guna meminta normalisasi alokasi solar subsidi.
Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Aptrindo Jatim, Sundoro, mengungkapkan bahwa antrean solar di SPBU berimbas langsung pada rantai pasok barang.
Keterlambatan distribusi tidak dapat dihindari. karena armada truk menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengantre BBM.
"Antrean truk di SPBU ini sangat meresahkan pengusaha truk. Aptrindo sedang mengupayakan audiensi ke Kepala Daerah Provinsi Jawa Timur untuk mengupayakan alokasi solar bersubsidi agar kembali normal," ujar Sundoro pada Jumat (26/6/2026).
Menurut Sundoro, kerugian operasional yang diderita pengusaha sangat signifikan, bahkan melampaui separuh dari kapasitas layanan harian:
Masalah antrean solar subsidi ini dilaporkan mulai terjadi sejak awal pekan, tepatnya Senin (22/6/2026).
Situasi dilaporkan kian memburuk pada Kamis (25/6/2026), dan terus berlanjut hingga akhir pekan.
Meskipun pihak Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus dikabarkan telah mulai menambah pasokan solar ke SPBU di wilayah terdampak, antrean kendaraan besar di lapangan terpantau belum sepenuhnya terurai.
Keterlambatan logistik di Jawa Timur berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi regional, mengingat posisi Jatim sebagai hub utama distribusi barang ke wilayah Indonesia Timur.
Oleh karena itu, Aptrindo Jatim berharap Gubernur Jawa Timur dapat segera mengintervensi regulasi kuota solar subsidi agar pasokan kembali stabil dan tepat sasaran.