81 Warga Kubu Raya Terserang DBD Sepanjang 2026, Dinkes Tingkatkan Kewaspadaan
Maudy Asri Gita Utami June 26, 2026 04:30 PM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Kubu Raya selama enam bulan pertama tahun 2026 menunjukkan tren yang cukup menggembirakan. 

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Kubu Raya hingga Minggu ke-25 atau periode Januari hingga Juni 2026, jumlah kasus DBD tercatat sebanyak 81 kasus, angka yang dinilai lebih terkendali dibandingkan periode sebelumnya.

Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi peningkatan kasus, terutama memasuki musim penghujan yang berisiko memicu berkembangnya populasi nyamuk Aedes aegypti, penyebab utama penyakit DBD.

Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah kasus DBD di Kubu Raya sepanjang semester pertama tahun ini mengalami fluktuasi. 

Pada Januari tercatat sebanyak 18 kasus, Februari sebanyak 5 kasus, Maret 15 kasus, April 13 kasus, Mei meningkat menjadi 23 kasus, dan hingga Minggu ke-25 pada Juni tercatat 7 kasus.

• YBM PLN Kalbar Hadirkan Khitan Sehat untuk 139 Anak, Wujud Nyata Energi Kepedulian di Bulan Muharram

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kubu Raya, Wan Iwansyah, mengatakan meskipun tren kasus mulai menurun, seluruh fasilitas pelayanan kesehatan dan para pemangku kepentingan tetap diminta meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat langkah pencegahan serta pengendalian DBD di seluruh wilayah.

“Dalam rangka kewaspadaan terhadap peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue yang berpotensi menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB), terutama dengan dampak musim penghujan dan banjir, perlu dilakukan upaya penanganan yang optimal di seluruh wilayah Kabupaten Kubu Raya,” ujar Wan Iwansyah kepada TribunPontianak.co.id, Jumat 26 Juni 2026. 

Ia menjelaskan, pihaknya telah menginstruksikan seluruh jajaran kesehatan untuk meningkatkan surveilans kasus maupun pengawasan terhadap faktor risiko melalui kegiatan Pemantauan Jentik Berkala (PJB) di lingkungan masyarakat.

Selain itu, masyarakat juga diimbau agar lebih aktif melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat tempat penyimpanan air, serta memanfaatkan atau mendaur ulang barang-barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Tidak hanya itu, warga juga dianjurkan menggunakan cairan antinyamuk, menaburkan larvasida pada tempat penampungan air, menanam tanaman pengusir nyamuk, serta menggalakkan budaya gotong royong melalui implementasi Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J).

Dinas Kesehatan Kabupaten Kubu Raya juga terus mengintensifkan kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kepada masyarakat agar lebih memahami gejala DBD dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami tanda-tanda penyakit tersebut.

Pemerintah daerah turut mengaktifkan kembali Kelompok Kerja Operasional DBD (Pokjanal DBD) mulai dari tingkat RT dan RW hingga desa dan kecamatan. 

Langkah ini dilakukan untuk mempercepat koordinasi dalam upaya pencegahan, pengendalian, serta penanganan kasus DBD di lapangan.

Di sektor pelayanan kesehatan, Dinas Kesehatan memastikan tata laksana penanganan pasien di rumah sakit, puskesmas, dan klinik terus diperkuat. 

Pemantauan terhadap kasus-kasus yang muncul juga dilakukan secara cepat guna mencegah terjadinya penyebaran yang lebih luas.

• Panen Raya Jagung di Sailo, Hasilkan Lebih dari 4 Ton untuk Dukung Ketahanan Pangan

Selain itu, ketersediaan sarana pendukung seperti insektisida, larvasida, dan Rapid Diagnostic Test (RDT) dipastikan dalam kondisi aman dan siap digunakan apabila diperlukan.

Sementara itu, kegiatan pengasapan atau fogging akan dilaksanakan secara fokus di wilayah yang dinyatakan rawan berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi yang dilakukan oleh petugas puskesmas.

“Seluruh kegiatan pencegahan, pengendalian, dan penanganan DBD wajib dilaporkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Kubu Raya melalui Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), termasuk setiap penemuan kasus dengue melalui aplikasi Sistem Informasi Arbovirosis (SIARVI),” pungkas Wan Iwansyah.  (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.